Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film I Was a Stranger (IMDb)
Ryan Farizzal

I Was a Stranger adalah film drama yang menyentuh, disutradarai dan ditulis oleh Brandt Andersen dalam debut fitur panjangnya. Dirilis pertama kali di Festival Film Internasional Berlin ke-74 pada 23 Februari 2024, film ini awalnya berjudul The Stranger's Case sebelum diganti.

Di Amerika Serikat, film tayang secara terbatas pada 31 Desember 2025, dan ekspansi luas pada 9 Januari 2026. Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 4 Februari 2026, seperti yang terlihat di jaringan Cinema XXI dan Mall of Indonesia.

Diproduksi oleh Philistine Films dan didistribusikan oleh Angel Studios, film ini berdurasi 104 menit dengan rating PG-13 karena konten kekerasan, gambar berdarah, dan tema dewasa.

Sinopsis: Perjalanan Putus Asa Amira dan Putrinya

Salah satu adegan di film I Was a Stranger (IMDb)

Cerita film berfokus pada krisis pengungsi Suriah tahun 2015-2016, terinspirasi dari perang saudara di Suriah yang melibatkan pemerintah didukung Rusia dan Iran, serta faksi-faksi seperti Muslim Sunni, jihadist Islam, dan kelompok Kurdi libertarian yang didukung AS.

Narasi mengikuti lima cerita saling terkait: seorang dokter Suriah, Amira Homsi (Yasmine Al Massri), yang melarikan diri dari Aleppo bersama putrinya; seorang pengungsi lain yang berjuang di perbatasan; dan tokoh-tokoh dari Yunani, Turki, serta AS yang terlibat dalam badai migrasi ini.

Satu pilihan putus asa dari Amira memicu efek domino yang menghubungkan nasib empat orang asing lainnya, termasuk Marwan (Omar Sy), Mustafa (Yahya Mahayni), Fathi (Ziad Bakri), dan Stavros (Constantine Markoulakis). Bahasa yang digunakan mencakup Arab, Inggris, dan Yunani, menambah autentisitas budaya.

Secara visual, film ini memukau dengan sinematografi yang menangkap kekacauan perang dan perjalanan pengungsi.

Adegan pembuka di Chicago tahun 2023, dengan kamera menyapu melewati Trump Tower, memberikan sindiran halus terhadap kebijakan imigrasi AS.

Andersen, sebagai sutradara pemula, berhasil menyusun narasi yang rumit tanpa kehilangan momentum, meskipun ada ruang untuk perbaikan dalam pacing beberapa segmen.

Tema utama adalah kemanusiaan, belas kasih, dan dampak migrasi paksa, diambil dari pidato Sir Thomas More dalam The Stranger's Case yang meminta empati terhadap pengungsi. Film ini mengingatkanku bahwa pengungsi adalah manusia dengan cerita pribadi, bukan sekadar statistik.

Review Film I Was a Stranger

Salah satu adegan di film I Was a Stranger (IMDb)

Akting para pemain adalah sorotan utama. Yasmine Al Massri menyampaikan keputusasaan Amira dengan emosi mendalam, membuatku merasakan ketakutan seorang ibu yang melindungi anaknya.

Omar Sy, dikenal dari The Intouchables, membawa karisma dan kedalaman sebagai Marwan, seorang yang terjebak dalam dilema moral. Yahya Mahayni dan Ziad Bakri juga tampil kuat, menampilkan nuansa budaya Suriah dengan autentik.

Ensemble cast seperti Saleh Bakri, Mahmoud Bakri, dan Jay Abdo melengkapi dinamika keluarga dan konflik. Meskipun ada elemen kekerasan—seperti ledakan bom dan gambar berdarah—film ini lebih menekankan pada aspek emosional daripada sensasionalisme.

Film I Was a Stranger mendapat rating tinggi: 9.1/10 di IMDb dari 10K ulasan, 75% Tomatometer di Rotten Tomatoes dari kritikus, dan 82% dari audiens. Film ini punya cerita yang sangat menarik dan wajib ditonton, karena berhasil menampilkan sisi kemanusiaan secara mendalam.

Alurnya kuat, memikat, sekaligus mengharukan, dengan nilai moral yang mendukung keluarga serta sentuhan positif Kristen. Bisa disebut film terbaik pertama di 2026 berkat naskah cerdas dan akting luar biasa yang membuat isu imigrasi terasa sangat manusiawi.

Judulnya relevan dengan Angel Studios sebagai distributor, meski durasi 104 menit terasa sangat padat. Secara keseluruhan grade B+, karena debut Andersen mengesankan meski masih ada ruang perbaikan. Plugged In menonjolkan pesan empati terhadap pengungsi.

Secara box office, film ini meraup $2 juta secara global, dengan pembukaan akhir pekan $1.2 juta di AS. Di tengah isu global migrasi, rilisnya tepat waktu, terutama di era pasca-pandemi di mana empati terhadap pengungsi sering diuji.

Angel Studios, dikenal dengan film seperti Sound of Freedom, berhasil membawa narasi ini ke audiens luas, meskipun ada kritik bahwa sudut pandangnya agak bias ke arah pesan Kristen.

Kelemahan minor termasuk beberapa transisi antarcerita yang terasa dipaksakan, dan durasi yang bisa lebih ketat untuk menjaga ketegangan.

Akan tetapi, kekuatan film terletak pada kemampuannya membangkitkan empati tanpa menjadi preachy. Musik latar dan editing mendukung emosi, membuat aku dan penonton yang lain terlibat sepanjang film.

Untuk penonton Indonesia, tayang pada 4 Februari 2026 di bioskop seperti Cinema XXI menawarkan kesempatan menyaksikan cerita universal ini di layar lebar.

Film ini cocok untuk dewasa dan remaja yang tertarik tema sosial, dengan peringatan konten sensitif seperti kekerasan perang dan isu rasisme (termasuk slur rasial dan merokok).

Overall, I Was a Stranger adalah pengingat kuat tentang belas kasih manusiawi, layak ditonton untuk pesan mendalamnya. Rating pribadi dariku: 8.5/10.