Ramadan selalu hadir sebagai bulan refleksi. Ia mengajak umat untuk menahan diri, memperhalus empati, dan memperkuat disiplin. Namun di balik nuansa spiritual itu, ada dinamika ekonomi yang tidak kecil.
Tunjangan Hari Raya atau THR menjadi salah satu momen yang paling dinantikan pekerja menjelang Idulfitri. Dana tambahan ini sering kali dipersepsikan sebagai rezeki musiman yang layak dirayakan. Padahal, di situlah ujian literasi keuangan justru dimulai.
THR memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah hak normatif pekerja yang diatur negara. Di sisi lain, ia menjadi simbol perayaan, alat memenuhi kebutuhan mudik, membeli pakaian baru, hingga berbagi kepada keluarga.
Dalam konteks sosial Indonesia yang menjunjung tinggi tradisi dan gengsi, pengelolaan THR kerap diwarnai tekanan tak kasatmata. Ada dorongan untuk tampil layak, memberi amplop dengan nominal pantas, serta menghadirkan hidangan terbaik di meja Lebaran.
Di sinilah Ramadan seharusnya menjadi fondasi etis dalam mengelola keuangan. Spirit menahan diri yang dilatih selama sebulan penuh semestinya tercermin pula dalam cara membelanjakan THR.
Antara Kebutuhan dan Keinginan
Setiap Ramadan, pusat perbelanjaan dan platform daring dibanjiri promosi. Diskon besar, flash sale, dan kampanye koleksi Lebaran menggoda dari berbagai arah. Tanpa kesadaran finansial yang memadai, THR dapat habis dalam hitungan hari. Euforia konsumsi sering kali menutup perhitungan rasional.
Literasi keuangan pada dasarnya berbicara tentang kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan mencakup pengeluaran primer seperti bahan makanan, biaya mudik, atau kewajiban zakat dan sedekah. Keinginan lebih bersifat tambahan, misalnya mengganti gawai yang sebenarnya masih berfungsi baik atau membeli pakaian lebih dari yang diperlukan.
Ramadan mengajarkan pengendalian diri terhadap dorongan instingtif, termasuk dorongan belanja impulsif. Jika selama puasa seseorang mampu menahan lapar dan haus, seharusnya ia juga mampu menahan klik pembelian yang tidak direncanakan. Tantangannya bukan pada besaran THR, melainkan pada kedewasaan dalam mengalokasikannya.
Dalam perspektif makro, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Otoritas seperti Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong edukasi pengelolaan keuangan, termasuk pentingnya menabung dan berinvestasi. Momentum Ramadan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pesan tersebut.
THR sebagai Momentum Perencanaan
Alih-alih dipandang sebagai uang tambahan untuk dihabiskan, THR sebaiknya diposisikan sebagai momentum perencanaan. Ada beberapa prinsip sederhana yang dapat diterapkan. Pertama, menyusun prioritas pengeluaran sebelum dana diterima. Daftar kebutuhan yang jelas akan membantu mencegah pemborosan.
Kedua, mengalokasikan sebagian THR untuk dana darurat atau tabungan jangka panjang. Banyak keluarga masih rentan terhadap guncangan ekonomi, mulai dari sakit mendadak hingga kehilangan pekerjaan. Menyisihkan sebagian dana untuk perlindungan finansial adalah langkah preventif yang bijak.
Ketiga, memanfaatkan THR untuk melunasi utang konsumtif jika ada. Beban cicilan yang menumpuk sering menjadi sumber stres setelah Lebaran berlalu. Mengurangi kewajiban finansial dapat memberikan ruang napas yang lebih lega.
Keempat, mengintegrasikan nilai filantropi. Ramadan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Menyisihkan sebagian THR untuk berbagi bukan hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga membangun solidaritas sosial. Di tengah kesenjangan ekonomi, praktik berbagi menjadi jembatan empati yang nyata.
Perencanaan ini bukan berarti menghilangkan kegembiraan. Merayakan Lebaran dengan pakaian baru atau sajian istimewa tetap sah dan wajar. Namun kegembiraan yang direncanakan akan terasa lebih tenang dibanding euforia yang diikuti penyesalan finansial.
Mengelola Tekanan Sosial dan Gengsi
Salah satu tantangan terbesar dalam mengelola THR adalah tekanan sosial. Tradisi memberi angpao kepada keponakan, menjamu tamu dengan hidangan berlimpah, atau membeli oleh oleh saat mudik sering kali dibumbui standar tidak tertulis. Ada kekhawatiran dianggap pelit atau kurang berhasil jika tidak memenuhi ekspektasi tersebut.
Di sinilah literasi keuangan bertemu dengan keberanian sosial. Bijak mengelola THR berarti berani menetapkan batas sesuai kemampuan. Nilai silaturahmi tidak ditentukan oleh nominal amplop atau mahalnya kue kering. Ia ditentukan oleh ketulusan dan kehadiran.
Ramadan sejatinya menegaskan kesederhanaan sebagai nilai utama. Ironis jika bulan yang mengajarkan empati terhadap kaum kurang mampu justru diakhiri dengan kompetisi konsumsi. Mengelola THR secara bijak adalah bentuk konsistensi antara nilai spiritual dan praktik ekonomi.
Lebih jauh, keluarga memiliki peran penting dalam membangun budaya finansial sehat. Orang tua dapat melibatkan anak dalam diskusi sederhana tentang pembagian THR. Anak belajar bahwa uang tidak hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga untuk ditabung dan dibagikan. Pendidikan finansial sejak dini akan membentuk generasi yang lebih tangguh menghadapi dinamika ekonomi.
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menata prioritas. THR hanyalah instrumen. Ia dapat menjadi sumber keberkahan jika dikelola dengan perencanaan dan kesadaran. Sebaliknya, ia bisa menjadi awal masalah jika dihabiskan tanpa pertimbangan.
Kedewasaan finansial tidak lahir dari besarnya penghasilan, melainkan dari kemampuan mengelola apa yang dimiliki. Ramadan memberi ruang refleksi untuk itu. Dalam suasana yang sarat makna spiritual, bijak mengelola THR adalah wujud nyata dari pengendalian diri yang telah dilatih selama sebulan penuh.
Baca Juga
-
Ngabuburit dengan Balap Liar: Tradisi Semu yang Merenggut Nyawa
-
Menghadapi Tekanan Sosial di Balik Hangatnya Silaturahmi Lebaran
-
Bahaya Laten Tradisi Perang Sarung di Kalangan Remaja
-
War Takjil, Harmoni dan Kala Ramadan Menjadi Ruang Kebersamaan Lintas Agama
-
Diskon Ramadan: Menakar Batas Antara Kebutuhan dan Godaan Konsumsi
Artikel Terkait
Kolom
-
Ada Mangrove si Benteng Alami: Kenapa Suka Solusi Instan Jangka Pendek?
-
Merokok di Ruang Publik, Aturan Kurang Ketat atau Kesadaran yang Minim?
-
Ramadan sebagai Reset Button Kehidupan: Momentum Menuju Versi Terbaik Diri
-
Stoikisme di Bulan Puasa: Mengatur Hasrat, Menjaga Akal Sehat
-
Memilih Guna Lisan di Bulan Ramadan: Membaca Al-Qur'an atau Ghibah?
Terkini
-
Film Late Shift: Malam Panjang Perawat yang Melelahkan dan Penuh Empati
-
Ramadan Pertama Andrew
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Ufotable Umumkan Proyek Besar 2026: Update Anime Genshin Impact dan Kelanjutan Film Demon Slayer
-
Ramadan Sebagai Momentum Self-Healing dan Refleksi Diri