Malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya, meskipun malam cerah dengan bintang yang menggantung di angkasa dan cahaya bulan yang terang benderang bak lampu. Andrew duduk di tepi ranjang kontrakannya yang sederhana, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Jarum pendek hampir menyentuh angka tiga. Ia sudah memasang alarm untuk sahur, tetapi sejak tadi matanya tidak benar-benar terpejam.
Ada rasa gugup yang sulit dijelaskan, sebuah campuran antara semangat dan ketakutan. Besok adalah hari pertama ia menjalankan ibadah puasa. Tepat tiga bulan lalu, Andrew mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid kecil dekat tempat kerjanya. Keputusan itu bukan sesuatu yang impulsif. Ia mempelajari, membaca, berdiskusi, dan merenung cukup lama. Namun, memeluk keyakinan baru ternyata bukan hanya tentang kata-kata yang diucapkan, melainkan tentang perjalanan panjang dan istikamah setelahnya.
Ia tinggal sendiri di kota itu. Keluarga Andrew lainnya berada jauh di luar pulau, dan belum semua bisa menerima pilihannya untuk memeluk agama lain. Beberapa teman menjauh, beberapa lagi memilih diam. Andrew berusaha kuat, tetapi menjelang Ramadan, ia mulai merasakan kesendirian yang lebih nyata.
Alarm berbunyi pelan. Andrew bangkit menuju dapur kecilnya. Ia hanya menyiapkan mi instan dan segelas air putih. Ia sempat membaca bahwa sahur itu penting, tetapi ia tidak tahu harus menyiapkan apa. Di meja makan mungilnya, ia menatap makanan itu cukup lama. "Semoga aku kuat," gumamnya pelan.
Sahur pertamanya terasa canggung. Tidak ada suara keluarga, tidak ada senda gurau, tidak ada panggilan lembut yang membangunkan. Hanya suara sendok beradu dengan mangkuk dan napasnya sendiri.
Pagi harinya, ia berangkat kerja seperti biasa. Andrew bekerja di sebuah percetakan. Pekerjaannya cukup menguras tenaga. Biasanya, sekitar pukul sebelas, ia sudah menyesap kopi dan membeli camilan. Hari itu, ia hanya meneguk ludah dan mencoba mengalihkan rasa lapar dengan menyibukkan diri.
Menjelang siang, kepalanya mulai terasa berat. "Aku bisa, ini hanya lapar saja," katanya dalam hati. Namun, ternyata bukan hanya lapar. Haus yang perlahan merambat membuat tenggorokannya kering. Bau makanan dari warung depan kantor terasa lebih tajam daripada biasanya. Ia hampir tidak sanggup ketika seorang rekan kerja mengajaknya makan siang seperti biasa.
"Kamu tidak ikut?" tanya Rudi.
Andrew tersenyum kaku. "Sedang puasa."
"Oh iya, kamu sekarang..." Rudi menggantung kalimatnya, lalu menepuk bahu Andrew pelan. "Semangat, ya. Aku tahu kamu pasti bisa melakukannya."
Senyum itu kecil, tetapi cukup membuat dada Andrew hangat sesaat. Menjelang sore, rasa lelahnya mencapai puncak. Tangannya gemetar saat mengangkat tumpukan kertas. Dalam hati, ia mulai goyah. "Kenapa aku merasa sendirian begini?" pikirnya.
Ia membayangkan orang-orang yang sejak kecil menjalani Ramadan bersama keluarga, berbuka dengan suara azan yang menggema di rumah, menikmati hidangan hangat yang disiapkan dengan cinta. Sementara ia, ia bahkan belum tahu doa berbuka dengan lancar.
Sepulang kerja, langkahnya terasa berat. Matahari hampir tenggelam, langit berwarna jingga keemasan. Biasanya, pemandangan itu indah. Hari ini, ia hanya merasa lemah. Sampai di depan kontrakannya, Andrew tertegun. Di depan pintunya, ada sebuah kotak makanan tertutup rapi dan termos kecil. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak melihat siapa pun. Dengan ragu, ia mengambil kotak itu dan masuk ke dalam.
Di atasnya, terselip secarik kertas kecil. "Untuk berbuka. Semoga puasanya lancar. Salam kenal tetangga sebelah."
Andrew terdiam cukup lama. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kotak itu. Di dalamnya ada nasi hangat, sayur sederhana, ayam goreng, kurma, dan sebotol air mineral. Di dalam termos kecil, ada teh hangat. Tiba-tiba, dadanya terasa sesak bukan karena lapar, melainkan karena haru. Ia teringat sosok ibu paruh baya yang tinggal di rumah sebelah. Namanya Bu Tari. Mereka tidak pernah berbincang panjang, hanya sekadar saling sapa ketika berpapasan. Mungkinkah beliau?
Belum sempat Andrew berpikir lebih jauh, terdengar ketukan pelan di pintu. Ia membukanya. Di sana berdiri Bu Tari dengan senyum lembut. "Sudah dapat makanannya, Nak?" tanyanya.
Andrew mengangguk cepat. "Iya, Bu. Ini Ibu yang kirimkan untuk saya?"
"Iya. Maaf ya, cuma sederhana. Saya lihat kamu tinggal sendiri. Saya pikir mungkin butuh teman berbuka."
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Andrew, kalimat itu seperti pelukan hangat setelah hari yang panjang. "Terima kasih banyak, Bu," ucapnya lirih. "Saya hampir menyerah tadi siang. Ternyata berat juga menjalankan ibadah puasa sambil bekerja."
Bu Tari tersenyum lebih lebar. "Ramadan memang bukan cuma soal menahan lapar. Ini soal belajar sabar dan saling menguatkan. Kalau sendiri rasanya berat, tapi kalau bareng-bareng, insyaallah lebih ringan. Kalau tidak keberatan, nanti magrib berbukanya di rumah saya saja. Anak-anak juga senang kalau ada tamu dan makan bersama."
Andrew terdiam sejenak. Ada rasa canggung, tetapi lebih besar lagi rasa syukur. "Boleh, Bu. Nanti saya ke rumah Ibu," jawabnya pelan.
Beberapa menit kemudian, Andrew duduk di ruang tamu rumah Bu Tari yang hangat dan sederhana. Dua anak kecil berlarian kecil sambil tertawa. Suara azan dari masjid ujung gang terdengar merdu. Saat azan berkumandang, mereka mengangkat tangan untuk berdoa. Andrew mengikuti, meski masih terbata-bata dalam hati. Ia meneguk air pertama dengan perasaan yang sulit dijelaskan; campuran lega, syukur, dan bahagia. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Bu Tari menepuk bahunya pelan. "Tidak apa-apa. Ramadan pertama memang biasanya paling berkesan."
Andrew tersenyum, kali ini tanpa beban. Malam itu, setelah tarawih di masjid kecil bersama warga sekitar, Andrew berjalan pulang dengan langkah yang berbeda. Ia tidak lagi merasa sendirian. Ia menyadari bahwa menjadi bagian dari sesuatu bukan selalu tentang darah atau sejarah panjang, melainkan tentang kepedulian dan penerimaan.
Di depan rumahnya, ia menoleh ke arah rumah Bu Tari yang lampunya masih menyala. Untuk pertama kalinya sejak memutuskan jalan hidupnya, Andrew merasa benar-benar diterima. Puasa pertamanya memang penuh perjuangan lapar, haus, ragu, dan sepi. Tetapi di balik semua itu, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berarti: tangan yang terulur tanpa diminta dan hati yang peduli tanpa pamrih.
Ramadan, ia sadar, bukan sekadar tentang menahan diri dari makan dan minum. Ramadan adalah tentang manusia yang menguatkan manusia lain. Tentang tetangga yang melihat tanpa menghakimi. Tentang kebersamaan yang lahir dari kebaikan kecil. Malam itu, sebelum tidur, Andrew berdoa dengan sederhana, "Terima kasih sudah mengirimkan orang-orang baik di sekitarku."
Ia pun tersenyum dalam gelap tanpa merasa sepi. Karena ia tahu, besok saat sahur tiba, mungkin masih ada rasa lelah, rindu, dan perjuangan, tetapi kini ia tidak lagi sendiri. Ada kebaikan yang berjalan diam-diam, mengetuk pintunya tepat ketika ia hampir menyerah.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Cristiano Ronaldo Ikut Puasa Ramadan, Cuma Kuat 2 Hari
-
Jaga Intensitas, Persib Bandung Pilih Latihan Malam Selama Ramadan
-
BCA Tutup Jam Berapa Selama Ramadan 2026? Ini Jadwal Operasionalnya
-
Ramadan Sebagai Momentum Self-Healing dan Refleksi Diri
-
Kapan Batas Waktu untuk Sahur? Pahami agar Puasa Tetap Sah
Cerita-fiksi
Terkini
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Ufotable Umumkan Proyek Besar 2026: Update Anime Genshin Impact dan Kelanjutan Film Demon Slayer
-
Ramadan Sebagai Momentum Self-Healing dan Refleksi Diri
-
Ada Mangrove si Benteng Alami: Kenapa Suka Solusi Instan Jangka Pendek?
-
Sinopsis Tokeikan no Satsujin, Drama Genre Misteri Dibintangi Oku Tomoya