Berangkat dari rasa penasaran, saya mulai membaca buku kumpulan cerita bersambung Wisanggeni, Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma. Sebagai pembaca yang sedikit akrab dengan dunia pewayangan, saya ingin melihat bagaimana kisah klasik itu diolah ulang oleh seorang penulis yang dikenal berani menabrak pakem.
Sederhana saja, melalui bacaan ini saya ingin mengetahui dan mendalami sebuah cerita wayang yang dituturkan dengan gaya modern. Namun sejak halaman-halaman awal, kesan itu segera bergeser. Karya ini terasa seperti pembongkaran, bahkan semacam gugatan terhadap kisah yang selama ini dianggap mapan.
Kumpulan cerita bersambung ini berada di persimpangan antara sastra modern dan tradisi pewayangan. Mengangkat tokoh Wisanggeni (figur dalam dunia wayang yang sering tersisih) cerita ini berbicara tentang kekuasaan, legitimasi, dan nasib individu yang tidak diakui oleh sistem.
Tema utamanya terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini, bagaimana seseorang bisa dikucilkan hanya karena tidak sesuai dengan struktur yang sudah mapan. Dalam konteks sosial-politik, kisah ini seperti cermin bagi realitas di mana suara-suara liar kerap dianggap ancaman.
Secara garis besar, cerita mengikuti perjalanan Wisanggeni. Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dan Dewi Dresanala yang sejak awal keberadaannya tidak diakui sepenuhnya oleh para dewa. Ia lahir dengan kekuatan luar biasa, tetapi justru karena itu dianggap sebagai ancaman bagi keseimbangan dunia. Para dewa, terutama Batara Guru, melihatnya sebagai potensi kekacauan yang harus segera disingkirkan.
Sejak kecil, Wisanggeni sudah berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ia tidak memiliki tempat yang jelas, baik di dunia manusia maupun kahyangan. Dalam perjalanan hidupnya, ia tumbuh menjadi sosok yang sadar akan ketidakadilan yang menimpanya. Kesadaran ini membuatnya tidak tunduk begitu saja pada otoritas para dewa.
Konflik memuncak ketika para dewa memutuskan bahwa Wisanggeni harus dimusnahkan. Ia pun menjadi buronan, dikejar oleh kekuatan-kekuatan yang jauh lebih besar darinya. Namun, alih-alih menyerah, Wisanggeni memilih untuk melawan, bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mempertanyakan legitimasi kekuasaan yang menindasnya.
Dalam pelariannya, Wisanggeni bertemu berbagai tokoh, baik yang mencoba membantunya maupun yang ingin menjatuhkannya. Setiap pertemuan memperlihatkan lapisan lain dari dunia yang ia huni, dunia yang ternyata penuh kepentingan dan intrik.
Seno Gumira Ajidarma terlalu berani dalam menafsir ulang dunia wayang. Ia tidak sekadar memindahkan tokoh ke dalam prosa, tetapi menghidupkannya dengan konflik yang terasa manusiawi. Wisanggeni bukan lagi sekadar tokoh pinggiran, melainkan pusat dari pertanyaan besar, siapa yang berhak menentukan nasib seseorang?
Gaya penceritaan Seno khas, padat, tajam, dan kadang terasa seperti sindiran halus. Ia memainkan bahasa dengan efisien, tanpa banyak ornamen, tetapi tetap menyisakan resonansi emosional yang kuat.
Saya merasakan semacam kemarahan yang tertahan dalam narasi ini, seolah-olah penulis sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar dari sekadar cerita wayang.
Secara emosional, novel ini meninggalkan kesan getir. Ada rasa tidak adil yang terus membayangi perjalanan Wisanggeni. Saya tidak hanya membaca kisahnya, tetapi juga merasakan keterasingannya.
Kelebihan utama kumpulan cerita bersambung ini jelas pada keberanian reinterpretasi dan kedalaman tematiknya. Cerita yang diangkat dari tradisi bisa terasa sangat segar dan relevan. Selain itu, karakter Wisanggeni dibangun dengan kompleksitas yang membuatnya hidup dan berlapis.
Namun, bagi pembaca yang tidak familiar dengan dunia pewayangan, beberapa bagian mungkin terasa kurang ramah. Referensi tokoh dan latar bisa menjadi tantangan tersendiri.
Wisanggeni, Sang Buronan adalah karya yang cocok bagi pembaca yang menyukai reinterpretasi mitologi dengan pendekatan kritis. Ini bukan bacaan ringan, tetapi justru di situlah daya tariknya.
Setelah menutup buku ini, saya merasa seperti baru saja diajak melihat dunia yang familiar dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda.
Identitas Buku
Judul: Wisanggeni, Sang Buronan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Laksana
Cetakan: I, 2016
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-391-199-8
Genre: Fiksi/Cerita Bersambung
Baca Juga
-
Lenovo Lecoo N27 Pro Resmi Meluncur: PC All-in-One 27 Inci yang Tampil Modern dan Intel Core i5
-
Realme P4s Lite Resmi Rilis: Usung Baterai 7.000 mAh dan Ketahanan 6 Tahun
-
Infinix XBOOK 14 NEO, Laptop Tipis dengan Baterai 13 Jam dan RAM Bisa Diupgrade
-
Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh
-
HONOR X9e Pro Resmi Rilis, Baterai 11.000 mAh Bikin HP Ini Serasa Membawa Powerbank
Artikel Terkait
-
Hasil Belakangan, yang Penting Mulai Dulu! Tamparan dari Buku Dodi Mawardi
-
Larasati: Potret Jujur Revolusi dan Pergulatan Moral Bangsa
-
Menggugah Nurani Lewat Sejarah Baitul Maqdis
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
-
Dunia Sindhunata dalam Mata Air Bulan: Sebuah Perjumpaan Iman dan Budaya
Ulasan
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Terkini
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau