Pemandangan yang kini terasa semakin biasa di ruang kelas adalah guru berdiri di depan, buku terbuka, namun perhatian terpecah oleh layar kecil di tangan. Sesekali jempol bergerak, mata turun sebentar, lalu kembali menatap murid. Sekilas tampak sepele, bahkan dianggap wajar di era digital. Namun, justru dari kebiasaan kecil itulah muncul dampak besar yang perlahan menggerogoti kualitas pembelajaran.
Hal pertama yang paling nyata adalah hilangnya fokus. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi proses hadir secara utuh yang meliputi pikiran, perhatian, dan emosi. Ketika guru membawa HP ke dalam kelas, apalagi dalam kondisi aktif, fokus itu menjadi terbelah. Notifikasi yang muncul, pesan yang masuk, atau sekadar dorongan untuk membuka media sosial dapat memecah konsentrasi.
Guru mungkin merasa hanya melihat sebentar, tetapi dalam dunia digital, sebentar bisa berubah menjadi menit yang tak terasa. Saat itulah momentum belajar terlepas. Lebih jauh lagi, media sosial memiliki sifat adiktif yang tidak bisa diremehkan. Algoritma dirancang untuk membuat seseorang terus menggulir layar tanpa sadar waktu berlalu. Jika guru ikut terjebak dalam pola ini saat mengajar, maka posisi sebagai pengendali kelas menjadi goyah. Perhatian yang seharusnya tertuju pada murid, justru tersedot ke dalam dunia maya yang tak ada hubungannya dengan proses belajar. Ini bukan lagi soal disiplin, tetapi soal kewajiban dalam memberi perhatian.
Celah Kendali dan Lunturnya Otoritas Guru
Dampak berikutnya adalah melemahnya kontrol kelas. Murid, terutama di tingkat dasar dan menengah, sangat peka terhadap perubahan perhatian guru. Ketika mereka melihat guru tidak sepenuhnya hadir, mereka membaca situasi itu sebagai ruang kosong. Dari situlah muncul celah untuk mulai berbicara sendiri, bercanda, atau bahkan membuat keributan. Kelas yang seharusnya menjadi ruang belajar berubah menjadi ruang bebas tanpa arah.
Bayangkan sebuah kelas di mana suara guru bersaing dengan suara bisik-bisik murid, tawa kecil di sudut ruangan, hingga teriakan yang mulai tak terkendali. Semua itu bukan semata-mata karena murid tidak disiplin, tetapi karena pengawasan yang longgar. Ketika guru kehilangan kendali, otoritasnya ikut tergerus. Yang juga lebih mengkhawatirkan, ketika murid mulai kehilangan rasa hormat, bukan karena mereka ingin, tetapi karena situasi yang memungkinkan.
Selain itu, kebiasaan guru menggunakan HP di kelas secara tidak langsung memberikan contoh yang keliru. Pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga apa yang dilakukan. Ketika guru sendiri tampak sulit melepaskan diri dari HP, pesan yang sampai kepada murid menjadi ambigu. Bagaimana mungkin murid diminta fokus dan tidak bermain HP, jika guru memberi contoh sebaliknya? Keteladanan yang retak seperti ini akan sulit diperbaiki hanya dengan kata-kata.
Jarak Psikologis dan Batas Profesionalisme
Ada pula dampak psikologis yang sering luput dari perhatian. Kehadiran guru yang utuh di kelas memberikan rasa aman dan dihargai bagi murid. Sebaliknya, ketika perhatian guru terpecah, murid bisa merasa diabaikan. Mereka mungkin tidak mengungkapkannya secara langsung, tetapi perasaan itu bisa memengaruhi motivasi belajar. Kelas menjadi terasa dingin, hubungan antara guru dan murid menjadi berjarak.
Sebagian orang mungkin berargumen bahwa HP bisa digunakan sebagai alat bantu pembelajaran. Itu tidak salah, tetapi konteksnya harus jelas dan terarah. Menggunakan HP untuk menampilkan materi, mencari referensi, atau mendukung diskusi tentu berbeda dengan membuka media sosial tanpa tujuan pembelajaran. Masalahnya bukan pada alatnya, tetapi pada cara dan waktu penggunaannya.
Menurut saya, membawa HP ke dalam kelas saat mengajar bukan sekadar persoalan kebiasaan kecil, melainkan cerminan profesionalisme. Guru dituntut untuk hadir sepenuhnya, bukan setengah hadir sambil membagi perhatian dengan dunia digital. Di ruang kelas, setiap detik memiliki arti, setiap interaksi memiliki dampak, dan setiap contoh akan ditiru.
Menjauhkan HP saat mengajar bukan berarti menolak teknologi, melainkan menempatkannya pada tempat yang tepat. Karena di dalam kelas, yang paling dibutuhkan bukan sinyal internet, tetapi sinyal perhatian yang utuh dari seorang guru kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, saya sangat setuju jika guru dilarang membawa HP saat mengajar di kelas.
Tag
Baca Juga
-
Di Tengah Tarik-Menarik Dua Pimpinan: Suara Hati Seorang Bawahan
-
Review Jujur Novel Resi Durna: Sang Guru yang Membiarkan Dirinya Dibenci
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
Artikel Terkait
-
4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
-
Daftar Harga HP Flagship Xiaomi Terbaru 2026, Mana yang Paling Layak Dibeli?
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
iQOO 16 dan Vivo V80 Muncul di Database IMEI, Skor AnTuTu Tembus 5 Juta?
-
Terpopuler: Rekomendasi HP Vivo Seri Terbaik, 7 Laptop Pesaing MacBook Neo
Kolom
-
Dari Sembako ke Bioskop: Bahaya Monopoli Terselubung Proyek Pemerintah
-
Gen Z dan Tren Mindful Buying: Cara Anak Muda Mengatur Napas Finansial di Tengah Ketidakpastian
-
Batas 8 Persen: Menyelamatkan Ojol atau Mengunci Jebakan Informalitas?
-
Dolar Tembus Rp17.700, Saatnya Elus-Elus Gawai Lama ketimbang Elus Dada Lihat Harga Baru
-
Di Tengah Tarik-Menarik Dua Pimpinan: Suara Hati Seorang Bawahan
Terkini
-
Ketika Luka Batin Dibahas dengan Hangat dalam Loving the Wounded Soul
-
Duka Sunyi di Balik Mata Bocah Enam Tahun: Menyelami Kedalaman Film Summer 1993
-
Masih Salah Pilih Face Wash? Cek 5 Jenis yang Sesuai dengan Kulitmu
-
Mencintai Dalam Diam di Buku Untuk Nama Yang Tak Berani Kusebut Dalam Doa
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work