Tak ada yang lapar di rumah Bu Sinem. Tapi setiap pagi, dari tungku tuanya, aroma nasi liwet naik ke langit seperti doa yang tak pernah selesai.
Sejak suaminya meninggal dua belas tahun yang lalu dan anak-anaknya jarang pulang, dapur itu tetap menyala. Kayu-kayu kering ditumpuk rapi, kompor gas tetap di isi ketika gasnya habis, dan Bu Sinem akan duduk menunggu rebusan mendidih sambil mengelus kulit pergelangan tangannya yang makin tipis digerus oleh usia.
Tangannya tak lagi cekatan, tapi setiap gerakan seperti sudah dihafal di luar kepala. Memotong bawang. Menanak nasi. Menggoreng tempe. Menyiapkan lima piring, lima gelas, lima sendok.
“Buat siapa, Bu?” tanya Sari, anak tetangga sebelah yang kadang mengantar daun pisang.
“Buat siapa saja yang sedang dirindukan,” jawab Bu Sinem pelan.
Sari kecil hanya tertawa lepas, tak benar-benar mengerti apa yang telah diucapkan nenek tersebut. Tapi baginya, Bu Sinem adalah bagian dari pagi. Seperti suara ayam, kabut di sela-sela pohon pisang, dan bau kayu terbakar. Dapurnya, dengan dinding hitam karena jelaga dan panci yang mengilap karena sering dibersihkan, terasa lebih hidup dari rumah-rumah yang lain yang perlahan mulai kosong.
Lalu datang kabar: jalan tol akan dibangun, dan tanah di sepanjang desa mereka akan digusur. Warga satu per satu menerima kompensasi dan pindah. Ada yang ke kota, ada pula yang pindah ke desa tetangga. Tapi Bu Sinem tetap pada pendiriannya untuk terus melantunkan doa-doanya dari dapur kecilnya itu.
“Rumah ini bukan soal tanah, ini soal tempat doa-doa itu pulang,” katanya pada Pak Lurah yang datang membawa map dan janji ganti rugi yang berlipat-lipat.
Pak Lurah menatap rumah kayu tua itu, lalu menghela napas. “Bu Sinem, kami paham ini rumah kenangan. Tapi, negara juga perlu jalan untuk maju.”
“Kalau begitu, biarkan saya tertinggal.” Hanya itu jawaban serupa gumam yang keluar dari mulut Bu Sinem.
Orang-orang mulai banyak yang berbisik, ada yang bilang Bu Sinem sudah tidak waras. Ada yang merasa kasihan. Ada pula yang diam-diam mengaguminya. Tetapi, yang paling banyak adalah menganggap bahwa Bu Sinem memang sudah tidak waras.
Hari-hari berikutnya, rumah-rumah di sekitar mulai diratakan. Tanah dikaveling. Pohon-pohon dirubuhkan. Tapi dari kejauhan, dapur Bu Sinem tetap mengirimkan asap tipis ke udara. Seperti doa yang tak ingin disela.
Sari kini sudah remaja, kadang datang membawa buah atau sayur. Ia menyukai suasana dapur itu, meski sedikit membuat dadanya nyeri. Ia tahu Bu Sinem sering duduk lama di depan meja makan yang kosong, berdoa pelan dalam bahasa yang seluruhnya tak ia pahami. Kadang dengan mata terpejam, kadang sambil mengelus sendok. Tak pernah ada yang menyantap makanan di situ, tapi Bu Sinem tetap menyajikannya. Lalu menyimpannya, dan esok harinya kembali memasak yang baru.
“Mereka belum datang, ya, Bu?” tanya Sari suatu hari.
Bu Sinem mengangguk. “Mereka sudah besar. Dunia mereka tak lagi butuh dapur ibu. Tapi ibu tetap menunggu, karena doa bukan hanya tentang kehadiran, tapi kesetiaan untuk selalu dipanjatkan.”
Sari tak menjawab. Ia hanya duduk, menatap piring-piring yang berjajar tersusun rapi seperti altar kecil. Ada sayur lodeh di mangkuk, tempe goreng yang baru diangkat, dan nasi putih mengepul hangat. Semuanya tampak siap disantap, tapi dibiarkan dingin oleh waktu dan keadaan.
Lalu pagi itu tiba.
Tak ada asap dari dapur Bu Sinem. Tak ada aroma tumisan. Tak ada suara panci beradu. Sari merasa aneh. Ia mengetuk pintu rumah tua itu berkali-kali. Namun, berapa kali pun ia mengetuk, tetap tak ada jawaban dari balik pintu rumah tua itu. Akhirnya, bersama Pak RT dan beberapa warga, mereka mendobrak pintu.
Bu Sinem ditemukan duduk di samping tungku, bersandar pada dinding dapur. Wajahnya tenang, matanya terpejam seperti orang yang baru saja mengucap doa terakhir. Di hadapannya, api tungku sudah padam. Tapi dapur itu masih hangat.
Di atas meja makan, lima piring tertata rapi. Masing-masing di atasnya ada secarik kertas dengan posisi terlipat.
Satu persatu dibuka.
Untuk Arman: jangan lupa salat, Nak. Meski ibu jauh, Allah selalu dekat.
Untuk Restu: ibu masak kesukaanmu. Maaf kalau rasanya tak seperti dulu.
Untuk Yusuf: Ibu tahu kamu marah karena Ibu tak ikut ke kota. Tapi Ibu bahagia di sini.
Untuk Dini: Hidupmu keras, Nak. Tapi jangan hilangkan kelembutanmu. Itu warisan dari Ibu.
Untuk Nanda: Kamu belum pulang sejak 2018, tapi Ibu tetap masak tiap Jumat. Seperti janjimu dulu.
Di bawah kelima surat itu, satu kertas lain terbuka, ditulis dengan tulisan lebih gemetar:
Ibu pulang duluan, ya. Makanan Ibu sudah cukup sampai di sini. Rumah ini boleh dirobohkan, tapi jangan pernah robohkan doa, karena ia selalu mencari jalan pulang.
***
Beberapa bulan kemudian, jalan tol benar-benar dibangun. Desa mereka tinggal kenangan. Tapi di pinggir jalur beton panjang itu, tepat di sisi barat, ada barisan kata-kata yang sengaja ditulis oleh Sari. Di sana tertulis:
“Di sini dulu berdiri sebuah dapur yang menyala setiap pagi. Untuk siapa? Untuk doa-doa yang masih mencari jalan pulang.”
Dan tiap Jumat pagi, Sari, yang kini tinggal di kota, kadang kembali membawa bunga, seikat sayur kangkung, dan dua lembar daun salam. Ia akan duduk diam, menatap beton panjang yang tak pernah mengingat siapa yang dilindasnya.
Tapi di matanya, asap dari tungku Bu Sinem masih mengepul.
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Motorola Moto Razr 60 Hadir di Indonesia, Desain Premium Harga Rp11 Jutaan
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
-
Yang Telah Lama Pergi: Persatuan Perompak di Balik Runtuhnya Sriwijaya
-
Titip Bunda di Surga-Mu: Film yang Ajarkan Ikhlas, Kebersamaan dan Arti Pulang Sebenarnya
-
5 Tips Atur Keuangan untuk Buka Bersama agar Dompet Tetap Aman!