Belakangan ini, gaya hidup less waste mulai banyak dibicarakan publik. Fenomena tersebut merupakan tanda bahwa masyarakat mulai sadar dengan kelestarian lingkungannya. Tentu ini menjadi sebuah kemajuan yang positif.
Sayangnya, masih ada orang yang belum menyentuh akar tujuan dari pola hidup ini. Alih-alih mengurangi, mereka justru membeli barang berlabel ramah alam secara besar-besaran. Tidak hanya itu, masih ada beberapa hal yang menunjukkan salah kaprah dalam penerapan less waste. Berikut penjelasannya.
1. Less waste berarti hidup tanpa menghasilkan sampah sama sekali
Sesuai namanya, less waste berarti minim sampah. Bagaimanapun juga manusia tentu akan menghasilkan produk sampingan dalam hidupnya. Di sinilah mindset ini diperlukan. Ia tidak menolak mutlak, tetapi mengurangi dan mengendalikan persebarannya di alam.
Kita masih dapat menggunakan plastik. Akan tetapi, bahan tersebut jangan sampai dibuang secara sembarangan. Jika ada barang substitusi yang lebih ramah lingkungan, maka gunakan itu. Jika tidak ada, maka pastikan sampah tersebut tidak merusak alam. Misalnya, dengan didaur ulang atau digunakan kembali.
2. Hanya fokus mengurangi limbah plastik sekali pakai
Pola hidup less waste memiliki tujuan dan tindakan yang lebih dalam daripada itu. Ia tidak hanya tentang sampah fisik, tetapi juga energi yang dikeluarkan. Hal ini karena produksi setiap barang sering kali masih menggunakan bahan bakar fosil. Proses tersebut juga akan menghasilkan emisi yang dapat mencemari lingkungan. Jadi, tidak hanya sampah fisik saja.
Dengan memperluas sudut pandang, fokus utama kita juga ikut berubah. Less waste menjadi sarana untuk mengubah kebiasaan konsumtif. Ini mencakup mengurangi atau menolak barang sekali pakai. Lebih lanjut, juga menghindari pemborosan energi.
3. Menganggap masalah selesai ketika sampah sudah dibuang di tempatnya
Ajakan membuang sampah di tempatnya memang baik, tetapi ternyata tidak cukup berhenti di situ saja. Bayangkan kran di rumah kita rusak sehingga terus memancarkan air. Sebanyak apa pun dikuras, air itu akan terus membanjiri. Bukan karena kita kurang usaha, melainkan karena masalah utamanya belum tersentuh dengan baik.
Dilansir Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Indonesia memiliki 12,37 juta ton sampah di tempat pemprosesan akhir (TPA). Dilansir Royal Caribbean, berat ini hampir setara dengan 55 kapal pesiar. Mirisnya, limbah tersebut masih dibiarkan begitu saja secara terbuka (open dumping). Belum dikelola secara tepat.
Selain membuang sampah sesuai tempatnya, kita juga perlu mengurangi produksinya. Sebagai contoh, membawa tumbler minuman sebagai pengganti kemasan plastik sekali pakai. Tidak hanya ramah alam, cara ini juga lebih higienis.
4. Harus dimulai dengan keputusan yang langsung berdampak besar
Alih-alih sebagai tren musiman, penulis pribadi memandang less waste sebagai panggilan dari hati. Pasalnya selama manusia masih menghasilkan residu, selama itu pula kita perlu berusaha untuk mengurangi produksi sampah.
Tidak selalu dimulai dengan hal besar, bisa juga dari aksi kecil yang sering disepelekan. Sebagai contoh, tidak menggunakan plastik kresek jika hanya membeli satu barang kecil. Walaupun sederhana, tindakan ini memicu efek domino yang dapat menurunkan penumpukan sampah plastik di alam.
5. Mahal karena harus membeli barang-barang ramah lingkungan
Gaya hidup minim sampah memang identik dengan barang-barang berkelanjutan. Bisa digunakan berulang kali tanpa khawatir akan mencemari lingkungan. Menggunakan produk tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap bumi. Namun, praktiknya tidak harus selalu demikian.
Begitu tertarik dengan filosofi ini, banyak orang awam langsung memesan beragam produk ramah lingkungan. Transformasi ini tentu bagus, tetapi ia belum menyentuh inti dari gaya hidup less waste. Lebih lanjut, mindset ini justru dapat memicu pemborosan energi selama proses pengiriman.
Sebagai jalan tengah, kita dapat memanfaatkan terlebih dahulu barang yang sudah kita punya. Daur ulang kemasan plastik yang sudah digunakan, asalkan ia masih layak. Misalnya, dijadikan kantong sampah jika ukurannya besar atau dikreasikan sebagai kerajinan yang memiliki nilai jual. Lumayan, kan?
Peningkatan kesadaran saja belum cukup, perlu aksi nyata untuk menekan laju pencemaran. Tak masalah jika tindakan itu ringan. Asalkan konsisten, itu akan berdampak bagi masa depan bumi.
Baca Juga
-
Sisi Lain Kehidupan Bu Lira dalam Novel 'Kami (Bukan) Fakir Asmara'
-
Sisi Gelap Unboxing: Adu Cepat Sampai Rumah, Adu Lama Terurai di Tanah
-
Jangan Mubazir! 5 Kebiasaan Ini Bikin Daging Kurban Cepat Membusuk
-
Bye Apek! 5 Tips Menghilangkan Bau Tak Sedap pada Sepatu
-
Bergema Sampai Selamanya: Apresiasi Momen Kecil Bersama Kekasih
Artikel Terkait
-
Tren Belanja Barang Viral Lucu: Cepat Dibeli, Cepat Pula Jadi Sampah?
-
Tren Konten Unboxing Haul: Paket Cepat Datang, Sampah Tertinggal Lebih Lama
-
Dampak Impulsive Buying Berkedok Self Reward pada Penyebab Sampah Kemasan
-
Keseringan Checkout Bikin Sampah Packaging Bisa Menumpuk Tanpa Disadari
-
Sampah Kemasan Skincare hingga Paket Meningkat Akibat Tren Fast Beauty?
Kolom
-
Tren Belanja Barang Viral Lucu: Cepat Dibeli, Cepat Pula Jadi Sampah?
-
Iduladha Bukan Cuma Soal Sate: Mengapa Kita Butuh Rem di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia?
-
Ibu Bekerja Pulang Malam Dicap Penjahat, tapi Ayah Lembur Disebut Pahlawan
-
Mengeja Cinta di Pelataran Kurban: Mengajarkan Anak Seni Merelakan dan Rahasia Berbagi
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
Terkini
-
TANK CHAIR Siap Tayang 2026, Anime Sci-Fi Penuh Aksi Brutal Umumkan Cast Utama
-
Suamiku Lukaku: Ketika 'Suami Idaman' Justru Menjadi Mimpi Buruk di Balik Pintu Rumah
-
Ulasan Film Sekawan Limo 2: Komedi Receh Jawa Timur yang Sangat Menghibur
-
Anime Baki-Dou Part 2 Umumkan Tayang 18 Juni, Duel Musashi Makin Brutal
-
Love in Montreal: Dilema Passion vs Cinta, Mana yang Harus Dipilih?