Takut pulang kampung karena THR pasti habis duluan? Pertanyaan ini mungkin terasa dekat bagi banyak perantau yang setiap tahun harus memikirkan biaya mudik, oleh-oleh, hingga uang untuk dibagikan kepada keponakan saat Lebaran. Momen yang seharusnya penuh kebahagiaan justru sering membuat sebagian orang cemas karena pengeluaran terasa datang bersamaan.
Fenomena ini juga disoroti oleh dokter sekaligus kreator konten kesehatan Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta. Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Malaka Project, ia menyinggung realitas yang sering dialami pekerja ketika menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Menurut dr. Tirta, ada tiga pengeluaran utama yang sering membuat THR cepat menipis. Pertama adalah biaya mudik atau akomodasi perjalanan pulang kampung, terutama bagi perantau yang harus pulang bersama keluarga.
Biaya transportasi, makan selama perjalanan, hingga kebutuhan lain sering kali sudah menguras sebagian besar THR bahkan sebelum sampai di kampung halaman.
Selain itu, membeli oleh-oleh untuk keluarga juga menjadi pengeluaran yang hampir selalu terjadi. Dalam budaya mudik di Indonesia, pulang tanpa membawa buah tangan sering dianggap kurang lengkap.
“Enggak mungkin kamu balik kampung terus cuma bawa salam saja,” ujar dr. Tirta.
Pengeluaran berikutnya adalah kebiasaan memberi uang kepada anak-anak saat Lebaran. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari suasana hari raya, tetapi jika tidak dipersiapkan sejak awal, bisa membuat THR semakin cepat habis.
Meski demikian, dr. Tirta menekankan bahwa kondisi tersebut sebenarnya bisa diantisipasi dengan perencanaan yang lebih matang. Salah satu caranya adalah menyisihkan sebagian gaji setiap bulan untuk kebutuhan hari raya.
Ia menyarankan pekerja menabung sekitar lima hingga sepuluh persen dari penghasilan bulanan agar dana mudik tidak sepenuhnya bergantung pada THR.
Selain itu, dr. Tirta juga mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri berutang hanya demi terlihat sukses saat pulang kampung. Menurutnya, kejujuran tentang kondisi keuangan justru lebih baik daripada memaksakan gaya hidup.
“Kalau memang tidak ada uang, bilang saja tidak ada uang,” katanya.
Ia juga menyarankan masyarakat membuat skala prioritas dalam pengeluaran. Kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak harus didahulukan, sementara pengeluaran yang hanya bersifat keinginan bisa ditunda.
Dengan persiapan yang lebih matang, dr. Tirta berharap masyarakat tetap bisa menikmati momen Lebaran bersama keluarga tanpa harus khawatir kondisi keuangan setelah hari raya berakhir.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Fakta Menarik Trofi Emas Piala Dunia: Pernah Dicuri, Bukan Milik Sang Juara
-
Timberland Boots: Berawal Dari Sepatu Tukang Jadi Ikon Rapper Dunia Hip Hop
-
JisuLife Ultra 2: Kipas Portable Premium dengan Berbagai Fungsi Menarik!
-
ROG Zephyrus Duo, Laptop Dua Layar dengan RTX 5090 Seharga Mobil Bekas!
-
Bawa Argentina Menang 3-0, Messi Cetak Hattrick Pertama di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
Kolom
-
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
-
Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Lucky Girl Syndrome: Motivasi Positif atau Harapan yang Terlalu Tinggi?
-
Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten
Terkini
-
Rilis Kiss N Tell, aespa Tinggalkan Konsep Musik Rasa Besi di Lagu Terbaru
-
Review Film Smile: Drama Horor Psikologis dengan Kejutan Maut yang Nyata!
-
The Black Lizard: Duel Kecerdasan Detektif dan Ratu Kriminal yang Menegangkan
-
Ulasan Novel Lara Rasa, Menata Ulang Masa Depan Sebelum Usia Tiga Puluh
-
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?: Teman Anak-Anak yang Kehilangan Ayah