Kenaikan harga BBM nonsubsidi kembali menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Kenaikan yang cukup besar ini langsung memicu berbagai reaksi, terutama dari kalangan pengguna Pertamax yang merasa pengeluaran mereka akan bertambah secara signifikan.
Di tengah banyaknya keluhan soal kenaikan harga BBM, muncul pula komentar-komentar nyinyir yang justru menyalahkan masyarakat yang protes.
Salah satu yang muncul di media sosial adalah kalimat, "Beli kopi Rp30 ribu bisa, tapi ngeluh soal harga Pertamax naik."
Bagi sebagian orang, orang yang masih mampu membeli kopi mahal di kafe seharusnya tidak perlu mengeluh ketika harga BBM naik.
Lantas, benarkah seseorang kehilangan hak untuk mengeluh soal kenaikan BBM hanya karena sesekali membeli kopi seharga Rp30 ribu?
Membeli Kopi dan BBM Adalah Dua Hal yang Berbeda
Argumen bahwa seseorang tidak boleh protes harga BBM hanya karena masih mampu membeli kopi sebenarnya terlalu menyederhanakan masalah.
Secangkir kopi seharga Rp30 ribu umumnya merupakan pengeluaran yang sifatnya sesekali. Tidak semua orang membeli kopi setiap hari. Bahkan banyak orang yang hanya sesekali nongkrong atau membeli minuman favorit mereka sebagai bentuk hiburan setelah bekerja keras.
Sementara itu, BBM adalah kebutuhan yang berbeda. Bagi banyak orang, kendaraan digunakan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, menjalankan usaha, atau melakukan berbagai aktivitas penting lainnya. Artinya, BBM bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian dari biaya hidup yang harus dikeluarkan secara rutin.
Ketika harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dampaknya akan terasa setiap kali seseorang mengisi bahan bakar. Dalam jangka panjang, tambahan biaya tersebut bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap bulan, tergantung intensitas penggunaan kendaraan.
Mampu Beli Kopi Bukan Berarti Kebal Kenaikan Harga
Salah satu kesalahan yang sering muncul dalam perdebatan ini adalah anggapan bahwa orang yang masih bisa menikmati gaya hidup tertentu otomatis tidak terdampak oleh kenaikan harga.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Seseorang mungkin masih mampu membeli kopi, tetapi pada saat yang sama ia juga harus membayar cicilan rumah, biaya pendidikan anak, tagihan listrik, internet, kebutuhan dapur, hingga berbagai pengeluaran rutin lainnya. Ketika salah satu komponen pengeluaran mengalami kenaikan, kondisi keuangan tetap bisa terpengaruh.
Inilah yang sering dilupakan oleh banyak orang. Kemampuan membeli satu barang bukan berarti seseorang memiliki kemampuan tanpa batas untuk menghadapi semua kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan.
Mengeluh atau mengkritik kenaikan harga BBM tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu membeli Pertamax. Keluhan tersebut bisa muncul karena masyarakat melihat adanya tambahan beban yang harus mereka tanggung setiap bulan.
Hal yang sama juga berlaku untuk berbagai kebutuhan lain. Ketika tarif listrik naik, biaya pendidikan meningkat, atau harga bahan pokok melonjak, masyarakat tentu berhak menyampaikan pendapat dan kekhawatirannya. Hak tersebut tidak hilang hanya karena mereka masih sesekali membeli kopi atau menikmati hiburan tertentu.
Kelas Menengah Kerap Berada di Posisi Serba Salah
Kelompok yang paling sering berada di tengah perdebatan seperti ini adalah kelas menengah. Di satu sisi, mereka tidak termasuk kelompok masyarakat yang berhak menikmati berbagai subsidi pemerintah. Namun di sisi lain, mereka juga bukan kelompok yang benar-benar bebas dari tekanan ekonomi.
Ketika harga BBM nonsubsidi naik, kelas menengah menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus membayar lebih mahal untuk kebutuhan transportasi tanpa mendapatkan bantuan subsidi.
Ironisnya, saat menyampaikan keluhan, mereka justru sering dianggap tidak pantas untuk protes karena mereka masih dianggap mampu membeli kopi, nongkrong di kafe, atau menikmati gaya hidup tertentu.
Padahal, kenyataannya, kondisi kelas menengah saat ini tidak selalu seideal yang dibayangkan banyak orang. Banyak pekerja kantoran maupun pelaku usaha kecil yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat hati-hati agar tetap bisa memenuhi berbagai kebutuhan.
Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan, tetapi juga tidak cukup kaya untuk mengabaikan kenaikan biaya hidup. Itulah mengapa banyak pengamat menyebut kelompok ini sebagai kelompok yang rentan terhadap tekanan ekonomi.
Sebagai warga negara, semua orang memiliki hak yang sama untuk menyampaikan kritik. Di tengah situasi ekonomi yang semakin menantang, memahami kondisi kelompok lain dan mengurangi sikap saling meremehkan menjadi hal yang jauh lebih penting daripada memperdebatkan harga kopi seseorang.
Baca Juga
-
Larangan Tumbler: Saat Kebiasaan Ramah Lingkungan Berhenti di Pintu Bioskop
-
The Art of Negotiation: Saat Merger dan Akuisisi Jadi Pertarungan Strategi
-
Saat MBG Tersendat, yang Ribut Bukan Siswa: Sebenarnya yang Lapar Siapa?
-
Sinopsis Drama Excitatio: Okultisme dan Teror Mematikan di Sekolah
-
Park Min Young Comeback Drama Kantoran 'Nine to Six', Jadi Bos Perfeksionis
Artikel Terkait
Kolom
-
Kue Ketan Politik dan Jeritan Dompet Rakyat di Tengah Badai Inflasi 2026
-
Gen Z Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi: Kurang Ambisi atau Lebih Realistis?
-
Olahraga Pagi dan Kesehatan Mental: Kebutuhan atau Sekadar Tren?
-
Paket Datang, Bahaya Tak Terbilang: Sisi Gelap Sampah Belanja Online
-
Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
Terkini
-
Mexico 86: Film Netflix yang Sukses Menggabungkan Antara Fakta dan Fiksi
-
Rambut Rontok Parah? Ini 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik Mulai Rp30 Ribuan
-
Kaiji Dapat Film Live Action Baru pada 2027, Tatsuya Fujiwara Resmi Kembali
-
Tayang Paruh Kedua, Rediscovery of Love Ungkap Jajaran Pemeran Utamanya
-
The Super Mario Galaxy Movie Tembus 1 Miliar Dolar AS, Pertama di 2026