Sobat Yoursay, jika diberi pilihan antara mengejar jabatan tinggi atau menikmati kehidupan yang lebih seimbang, mana yang akan kalian pilih?
Saya pribadi mungkin akan memilih pilihan kedua. Bukan karena tidak ambisius, melainkan karena saya merasa kesuksesan tidak selalu harus dibayar dengan hilangnya waktu untuk menikmati hidup.
Ternyata, cara pandang seperti ini juga banyak ditemukan pada Generasi Z. Di dunia kerja, semakin banyak anak muda yang tidak lagi menjadikan promosi jabatan sebagai tujuan utama karier mereka.
Fenomena ini bahkan memiliki istilah tersendiri: conscious unbossing. Artinya adalah fenomena ketika pekerja—terutama Gen Z—secara sadar menolak atau menghindari promosi jabatan struktural, seperti manajer atau bos, dan memilih menjadi karyawan biasa.
Orang-orang ini lebih memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), fleksibilitas, dan kesehatan mental daripada hierarki. Sering kali, alasan orang yang mengambil pilihan seperti ini bukan karena malas bekerja, melainkan karena mereka menilai beban dan tekanan jabatan manajerial sering kali tidak sebanding dengan imbalan yang diterima.
Berdasarkan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey, hanya sekitar 6 persen Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan senior atau manajerial sebagai tujuan utama karier. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih menjadi individual contributor dan fokus mengembangkan keahlian mereka dibanding mengelola orang lain.
Di saat yang sama, jabatan tinggi tidak lagi selalu terlihat menarik di mata Gen Z. Mereka menganggap posisi yang semakin tinggi, akan membuat tanggung jawab semakin bertambah, dan tekanan pun akan ikut meningkat. Seorang manajer atau pemimpin tim tidak bisa hanya mengurus pekerjaannya sendiri. Mereka masih harus mengelola tim, menyelesaikan konflik, memenuhi target, hingga bertanggung jawab atas hasil kerja banyak orang. Bahkan dalam sebuah laporan disebutkan bahwa mayoritas professional muda menganggap posisi manajemen sebagai pekerjaan dengan tekanan tinggi, tetapi imbalannya kurang sepadan.
Tak hanya itu, bagi banyak Gen Z, promosi jabatan sering kali tidak hanya berarti kenaikan gaji, tetapi juga bertambahnya beban kerja, tanggung jawab terhadap tim, hingga berkurangnya waktu pribadi. Ketika selisih imbalan yang diterima tidak terasa signifikan, sebagian anak muda mulai mempertanyakan apakah pengorbanan tersebut benar-benar layak.
Selain itu, mayoritas di antara Gen Z tumbuh dengan melihat orang tua atau senior harus bekerja keras selama bertahun-tahun. Namun, realitas dan pengorbanan yang sering dilakukan oleh generasi sebelum mereka ini tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan hidup. Akibatnya, Generasi Z jadi mulai mempertanyakan apakah jabatan tinggi layak untuk dikejar dan dijadikan tujuan utama.
Dan akhirnya, ketika sudah benar-benar masuk ke dalam dunia kerja, Generasi Z membuat pilihan yang berbeda. Jika generasi sebelumnya lebih sering mengutamakan karier di atas segalanya, Gen Z lebih memperhatikan kesehatan mental dan kualitas hidup yang mereka jalani. Alih-alih mengejar jabatan tertinggi di kantor atau perusahaan, Gen Z lebih memilih “tidak apa-apa menjadi karyawan, asal bisa menikmati hidup yang seimbang”.
Tentu, tidak semua anak muda punya pemikiran dan pilihan yang sama. Namun, berdasarkan data yang ada, mayoritas Gen Z punya pandangan bahwa work-life balance penting. Meskipun setiap hari bekerja, mereka ingin tetap memiliki waktu untuk keluarga, teman, hobi, maupun kehidupan pribadi. Mereka menganggap kesuksesan tidak lagi hanya diukur berdasarkan posisi atau status pekerjaan.
Tapi … apakah ini menjadi tanda kurangnya ambisi pada Gen Z?
Di titik ini, mungkin kita perlu menyadari bahwa saat ini hidup kita selalu berdampingan dengan penilaian orang lain. Apapun yang kita pilih, pasti akan mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda dari orang sekitar. Begitu pula dengan pilihan work-life balance yang banyak dijalani oleh Gen Z hari ini. Sebagian orang menilai fenomena ini menunjukkan keengganan generasi muda menghadapi tantangan.
Munculnya kritik tersebut tentu bukan tanpa alasan. Organisasi tetap membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jika terlalu banyak orang enggan menempati posisi kepemimpinan, bukan tidak mungkin akan muncul kekosongan regenerasi di berbagai sektor pekerjaan.
Namun di sisi lain, kita tidak lantas boleh menghakimi anak muda yang memilih menjalani work-life balance sebagai orang yang tak punya ambisi. Kita mungkin perlu menyadari kembali bahwa ambisi tidak harus selalu identik dengan jabatan tinggi.
Banyak Gen Z yang tetap punya keinginan untuk berkembang dan berprestasi. Hanya saja, mereka memang mempunyai target yang berbeda.
Mereka tidak lagi memandang kesuksesan sebatas pada tingginya karier yang berhasil diraih. Yang lebih mereka kejar adalah kebebasan waktu, kesehatan mental, kestabilan finansial, pekerjaan yang bermakna, dan fleksibilitas kerja.
Artinya, Gen Z tidak anti dengan kesuksesan, tetapi ingin sukses tanpa harus mengorbankan seluruh hidup untuk pekerjaan.
Jika saya simpulkan, fenomena conscious unbossing ini tidak serta merta menghapus ambisi seseorang, tetapi menunjukkan perubahan cara pandang terhadap karier.
Di titik inilah, yang perlu kita coba sadari: mungkin yang sedang berubah kini bukanlah semangat Gen Z untuk berkembang, melainkan arah ambisi mereka.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas hidup, banyak anak muda kini lebih memilih kehidupan yang seimbang daripada sekadar mengejar posisi tertinggi dalam struktur organisasi.
Sobat Yoursay, mungkin kini pertanyaan yang lebih penting dari “apakah Gen Z kurang ambisius?” adalah: apakah ukuran kesuksesan yang selama ini kita gunakan masih relevan dengan realitas kehidupan saat ini? Sebab hari ini setiap orang memiliki cara masing-masing dalam memaknai keberhasilan.
Baca Juga
-
Review Teach You a Lesson: Drama yang Menampar Realitas Dunia Pendidikan
-
Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?
-
Menyoal Budaya Flexing di Media Sosial: Takut Miskin atau Takut Tak Terlihat Sukses?
-
In This Economy, Apakah Nasihat Hidup Hemat Masih Relevan bagi Gen Z?
-
Punya Kemasan Bekas Paket? Ini Cara Sederhana Memulai Gaya Hidup Less Waste
Artikel Terkait
Kolom
-
Olahraga Pagi dan Kesehatan Mental: Kebutuhan atau Sekadar Tren?
-
Paket Datang, Bahaya Tak Terbilang: Sisi Gelap Sampah Belanja Online
-
Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
-
Rupiah Jeblok, Netizen Desak Tunda Makan Gratis dan Proyek Mercusuar
-
Polemik Modifikasi Kurikulum, Kenapa Lulusan Masih Sulit Siap Kerja?
Terkini
-
The Super Mario Galaxy Movie Tembus 1 Miliar Dolar AS, Pertama di 2026
-
Resmi Putus, Ini Perjalanan Cinta Sooyoung SNSD dan Jung Kyung-ho
-
Maa Behen: Sajikan Drama Emosional yang Terungkap di Balik Situasi Absurd!
-
Nota Cinta Saya: Pesan Lembut untuk Hati Seorang Muslimah
-
Aktor Lee Jae Wook Debut Sebagai Penyanyi Lewat Single Emosional SHADOW