Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Mexico 86 (IMDb)
Ryan Farizzal

Mexico 86 merupakan film drama-komedi yang dirilis secara global pada Netflix pada tanggal 5 Juni 2026. Disutradarai oleh Gabriel Ripstein dan dibintangi oleh Diego Luna sebagai pemeran utama, film ini menyajikan kisah fiksionalisasi yang terinspirasi dari peristiwa nyata di balik upaya Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1986. Dengan durasi yang ringkas dan pendekatan satir ringan, film ini menggambarkan perjuangan seorang birokrat ambisius dalam menghadapi tantangan politik, birokrasi, dan korupsi untuk mewujudkan impian nasional.

Cerita Sukses FIFA yang Penuh Licik dan Keberanian Birokrat

Tangkapan layar adegan di film Mexico 86 (IMDb)

Cerita berfokus pada Martín de la Torre (Diego Luna), seorang pegawai rendahan di Federasi Sepak Bola Meksiko (FEMEXFUT) pada awal 1980-an. Ketika Kolombia mundur sebagai tuan rumah Piala Dunia 1986, Martín melihat peluang emas. Melalui kombinasi kecerdikan, keberanian, dan kelicikan, ia berusaha meyakinkan FIFA bahwa Meksiko mampu menyelenggarakan event sepak bola terbesar dunia tersebut, meskipun negara tersebut belum pernah memenangkan turnamen dan menghadapi berbagai kendala, termasuk gempa bumi 1985 yang menghancurkan ibu kota. Film ini menyoroti bagaimana ambisi pribadi Martín saling terkait dengan kebanggaan nasional, di tengah tekanan politik dan kesepakatan di bawah meja.

Review Film Mexico 86

Tangkapan layar adegan di film Mexico 86 (IMDb)

Diego Luna memberikan penampilan yang karismatik dan memikat sepanjang film. Ia berhasil menyampaikan karakter Martín sebagai sosok yang penuh semangat, oportunis, akan tetapi tetap manusiawi dengan segala kelemahan pribadinya. Dukungan dari pemeran pendukung seperti Karla Souza sebagai Susana, pasangan romantis Martín, serta aktor lain seperti Daniel Giménez Cacho, menambah kedalaman pada narasi. Pendekatan sutradara Ripstein yang menggabungkan elemen komedi satire dengan drama olahraga menghasilkan tontonan yang menghibur, meskipun tidak terlalu mendalam dalam mengkritik sistem korupsi yang digambarkan.

Secara visual, film ini berhasil merekonstruksi suasana era 1980-an di Meksiko dengan baik, termasuk setting kantor birokrasi yang penuh asap rokok, pertemuan rahasia, dan euforia masyarakat menjelang turnamen. Skor musik dan penyuntingan yang dinamis mendukung ritme cerita, membuat penonton terlibat dalam perjalanan Martín yang penuh risiko. Namun, film ini cenderung ringan dan tidak sepenuhnya mengeksplorasi dampak sosial-politik yang lebih luas, sehingga terasa seperti hiburan akhir pekan yang menyenangkan daripada karya sinematik yang mendalam.

Film Mexico 86 telah tersedia untuk ditonton di Netflix Indonesia sejak tanggal rilis globalnya, yaitu 5 Juni 2026. Saat ini, film tersebut dapat diakses secara langsung oleh pelanggan Netflix di Indonesia tanpa penundaan regional yang signifikan. Netflix menyediakannya dalam format yang mendukung berbagai kualitas video, termasuk opsi unduh untuk tontonan offline. Film ini termasuk dalam kategori Drama, Komedi, dan Olahraga, dengan rating usia yang sesuai untuk penonton dewasa.

Salah satu elemen yang memperkaya narasi adalah subplot romantis Martín dengan Susana (Karla Souza). Adegan romantis paling menonjol terjadi saat keduanya menjalin hubungan di tengah tekanan pekerjaan yang intens. Adegan intim di apartemen Susana, di mana Martín melarikan diri dari rutinitas rumah tangganya yang bermasalah, menampilkan chemistry kuat antara kedua aktor.

Dialog-dialog yang penuh kehangatan dan kerentanan, diiringi pencahayaan lembut serta momen keintiman fisik dan emosional, menciptakan kontras yang efektif dengan kekacauan politik di sekitar mereka. Adegan ini tidak hanya menunjukkan sisi manusiawi Martín yang haus akan kasih sayang sejati, tetapi juga menggambarkan bagaimana ambisi profesionalnya memengaruhi kehidupan pribadi, menjadikannya salah satu bagian paling emosional dan romantis dalam film.

Sementara itu, adegan paling diingat dan berkesan adalah klimaks upaya Martín dalam meyakinkan FIFA di tengah krisis nasional pasca-gempa. Adegan ini memadukan ketegangan, humor, dan semangat patriotik, di mana Martín menggunakan segala cara—dari negosiasi licik hingga memanfaatkan momen emosional masyarakat Meksiko—untuk mengamankan hak tuan rumah. Visual kerumunan yang euforia, interaksi dengan pejabat tinggi, dan resolusi yang memuaskan membuatku merasakan sensasi kemenangan, meskipun disadari bahwa keberhasilan tersebut dibangun atas kompromi moral. Adegan ini melekat karena berhasil menyatukan tema utama film: ketangguhan, kecerdasan, dan sedikit kelicikan yang diperlukan untuk meraih mimpi besar.

Secara keseluruhan, Mexico 86 adalah tontonan yang solid untuk penggemar sepak bola dan cerita inspiratif berbasis sejarah. Meskipun tidak revolusioner, film ini berhasil menghibur dengan penampilan Diego Luna yang memukau dan narasi yang ringan tapi bermakna. Durasi yang tidak bertele-tele membuatnya cocok untuk dinikmati dalam satu sesi, terutama bagi mereka yang ingin merasakan semangat Meksiko di era 1980-an. Dengan ketersediaan saat ini di Netflix Indonesia, film ini layak ditonton sebagai persiapan menyambut event olahraga global mendatang. Rating pribadi: 7.8/10.