Dalam sejarah ekonomi Indonesia modern, tidak banyak periode yang lebih mengerikan daripada krisis 1997–1998. Bagi generasi yang mengalaminya secara langsung, krisis itu bukan sekadar angka-angka di laporan ekonomi. Ia adalah kepanikan di bank, harga kebutuhan pokok yang melonjak setiap minggu, perusahaan yang berguguran, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan runtuhnya kepercayaan terhadap negara.
Saat itu, nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.500 per dolar AS terjun bebas hingga menembus Rp16.000. Dalam waktu singkat, mata uang nasional kehilangan sebagian besar nilainya. Inflasi melonjak hingga mendekati 80 persen. Dunia usaha lumpuh. Banyak bank kolaps akibat krisis likuiditas dan buruknya tata kelola. Bursa saham anjlok lebih dari 60 persen dari puncaknya. Yang runtuh bukan hanya ekonomi, melainkan juga kepercayaan publik.
Pada akhirnya, krisis tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mengakhiri pemerintahan Soeharto setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Indonesia memasuki masa transisi yang penuh ketidakpastian ketika B. J. Habibie mengambil alih kepemimpinan pada Mei 1998.
Banyak orang kemudian mengenang Habibie sebagai sosok yang berhasil membawa rupiah kembali menguat dalam waktu relatif singkat. Namun narasi tentang "Habibie menurunkan dolar dari Rp17.000 menjadi Rp6.500" sering kali disederhanakan tanpa memahami betapa mahal dan beratnya kebijakan yang harus diambil saat itu.
Ketika sebuah negara kehilangan kepercayaan, masalah utamanya bukan lagi sekadar kurs atau inflasi. Masalahnya adalah psikologi. Investor takut. Masyarakat takut. Pelaku usaha takut. Semua orang ingin menyelamatkan asetnya. Dalam kondisi seperti itu, uang mengalir keluar, investasi berhenti, dan kepanikan menjadi lingkaran setan yang terus membesar.
Untuk menghentikan kepanikan, pemerintah dan bank sentral harus mengirim pesan yang sangat kuat kepada pasar bahwa negara masih mampu mengendalikan keadaan. Salah satu instrumen yang digunakan adalah suku bunga yang sangat tinggi.
Bagi masyarakat biasa, suku bunga tinggi terdengar menarik karena tabungan menghasilkan imbal hasil besar. Namun di sisi lain, bunga pinjaman juga melonjak tajam. Dunia usaha menjerit. Kredit menjadi mahal. Aktivitas ekonomi melambat. Kebijakan seperti ini ibarat obat keras: menyakitkan, tetapi dianggap perlu untuk menghentikan kerusakan yang lebih besar.
Namun keberhasilan masa transisi saat itu tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter. Justru faktor yang sering dilupakan adalah reformasi kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan.
Pemerintahan Habibie memulai restrukturisasi sektor perbankan. Bank-bank bermasalah ditutup atau direstrukturisasi. Sistem perbankan diperbaiki. Kepercayaan terhadap lembaga keuangan mulai dibangun kembali. Di saat yang sama, reformasi politik juga berjalan. Pembatasan terhadap kebebasan pers mulai dilonggarkan. Pemilu dipersiapkan. Transisi menuju sistem politik yang lebih terbuka mulai dibangun.
Langkah-langkah tersebut memberikan sinyal penting kepada masyarakat dan dunia internasional bahwa Indonesia sedang bergerak menuju arah yang lebih stabil dan lebih dapat diprediksi.
Dalam ekonomi, kepercayaan sering kali sama pentingnya dengan angka. Nilai tukar rupiah tidak hanya ditentukan oleh cadangan devisa atau suku bunga. Ia juga ditentukan oleh keyakinan bahwa pemerintah mampu mengelola negara, bahwa aturan akan ditegakkan, dan bahwa masa depan masih layak untuk dipercaya.
Karena itu, pelajaran terbesar dari periode 1998–1999 bukanlah sekadar tentang naik atau turunnya kurs dolar. Pelajarannya adalah bahwa krisis besar membutuhkan keberanian politik untuk mengambil keputusan yang tidak populer. Keputusan-keputusan tersebut sering kali memiliki konsekuensi yang berat dan tidak menyenangkan dalam jangka pendek.
Tentu saja, sejarah selalu lebih kompleks daripada satu tokoh atau satu kebijakan. Pemulihan ekonomi Indonesia merupakan hasil kombinasi banyak faktor, mulai dari kebijakan pemerintah, peran bank sentral, dukungan lembaga internasional, hingga perubahan kondisi ekonomi global. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masa transisi di bawah Habibie menjadi salah satu periode penting yang membantu Indonesia keluar dari titik terendahnya.
Lebih dari dua puluh tahun kemudian, pelajaran itu masih relevan. Krisis tidak pernah diselesaikan hanya dengan slogan atau optimisme. Krisis membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun kembali kepercayaan publik, memperbaiki institusi yang rusak, dan berani mengambil keputusan sulit ketika keadaan menuntutnya.
Baca Juga
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
-
Menemukan Pulang di Tengah Keramaian Jalan Margonda dalam Buku Zhitara
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
-
Menulis itu Ada Ilmunya! Menyelami Trik Konsisten di Buku Ayu Utami
-
Dracula Perempuan dari Hungaria: Kisah Kelam Sang Bangsawan Pembantai
Artikel Terkait
Kolom
-
Harga BBM Naik, Gaya Hidup Tetap Jalan: Tanda Pola Konsumtif Sulit Lepas?
-
Cantik di Layar, Terlilit Cicilan di Dunia Nyata: Bahaya FOMO Bagi Perempuan
-
Ternyata Kita Salah, 19 Juta Lapangan Pekerjaan Itu untuk TNI dan Polisi
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
-
7 Barang yang Stop Dibeli usai Terapkan Less Waste, Termasuk Alat Dapur?
Terkini
-
Drakor The East Palace Tayang 17 Juli, Nam Joo Hyuk Jadi Pemburu Hantu
-
5 Serum Tranexamic Acid untuk Memudarkan Flek Hitam dan Bekas Jerawat
-
Para Pemain dan Kru My Royal Nemesis Rencanakan Liburan usai Drama Sukses
-
Obsesi Viral: Bagaimana Film Baru Warkop DKI Menyentil Fenomena 'Haus Validasi' di Medsos?
-
Review The Wizard of Oz: Dongeng Klasik tentang Perjalanan Menemukan Diri