Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi kopi susu (Pexels/Engin Akyurt)
Sherly Azizah

Suara kretek dari sobekan bungkus plastik saset pagi ini terdengar seperti lonceng kematian bagi produktivitas saya. Di atas meja makan yang remang-remang, saya menatap serbuk instan itu meluncur jatuh ke dasar cangkir. Saya sedang melakukan sebuah perjudian besar.

Di sebelah kanan saya, sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauk sisa pesta kecil pasca-tarawih tadi malam tampak begitu mengintimidasi. Perut saya, yang masih terasa "penuh" dan begah, mengirimkan sinyal sombong ke otak: "Jangan makan lagi, kita masih punya cadangan makanan dari jam sepuluh malam tadi!"

Lalu, dengan tangan gemetar karena kantuk, saya tuangkan air panas. Aroma artifisial kopi susu itu menyeruak, memberikan rasa nyaman yang palsu. Saya teguk perlahan, merasakan hangatnya menjalar, dan merasa bahwa hidup ini sudah cukup worth it hanya dengan modal cairan manis ini.

Saya merasa telah mengakali sistem metabolisme tubuh saya sendiri dengan cara yang sangat praktis. Namun, benarkah saya sedang berhemat waktu, atau saya justru sedang memesan tiket menuju penderitaan yang tak terelakkan?

Fenomena "sok kenyang" karena makan berat setelah tarawih ini adalah jebakan maut bagi kaum urban seperti saya. Kita sering mengira bahwa sisa kalori semalam bisa dikonversi secara otomatis menjadi energi untuk puasa belasan jam. Kenyataannya?

Secara medis, itu adalah kesalahan fatal. Mengutip dari literatur kesehatan di laman Alodokter, para ahli gizi menegaskan bahwa sahur adalah momentum krusial untuk mengisi glikogen dan cairan yang akan dilepaskan secara perlahan.

Mengganti makanan utuh dengan kopi susu saset—yang notabene didominasi gula dan krimer, hanya akan memicu lonjakan insulin sesaat. Setelah itu? Gula darah akan anjlok (hypoglycemia) sebelum matahari bahkan sempat naik ke titik tertinggi.

Masalahnya, logika saya di pukul empat pagi sering kali tumpul. Saya lebih memilih kenyamanan lidah daripada kebutuhan sel-sel tubuh. Kafein dalam kopi saset yang saya minum itu memiliki sifat diuretik, sebuah zat yang secara harfiah memerintahkan tubuh saya untuk membuang cairan lebih cepat lewat urin.

Jadi, saat saya merasa sudah "cukup" dengan segelas kopi, saya sebenarnya sedang memicu proses dehidrasi dini. Saya sedang menipu diri sendiri dengan bungkus plastik seharga beberapa ribu rupiah.

Dan benar saja, "hukuman" itu datang tanpa ampun tepat pukul 12 siang. Di tengah pekerjaan yang memeras otak, keajaiban sasetan itu mendadak lenyap. Rasa kenyang yang saya agungkan saat subuh tadi menguap, menyisakan ruang hampa di lambung yang mulai berontak.

Bunyi keroncongan di perut saya bukan lagi sekadar suara, tapi sebuah simfoni penderitaan yang sangat dramatis. Perut saya terasa seperti diremas-remas dari dalam, dan kepala saya mulai berdenyut—sebuah sinyal bahwa otak saya sedang berteriak minta asupan yang nyata, bukan sekadar glukosa instan yang sudah ludes terbakar sejak jam sembilan pagi tadi.

Tragedi ini sebenarnya adalah cerminan dari ego saya yang merasa bisa mengakali aturan alam. Saya sering terjebak dalam pola pikir "yang penting masuk sesuatu ke perut", tanpa mempedulikan kualitasnya. Kita hidup di era yang serba cepat, di mana menyobek bungkus saset terasa lebih masuk akal daripada mengunyah serat dan protein.

Padahal, tubuh kita adalah mesin yang jujur. Ia tidak peduli seberapa nikmat aroma kopi Anda; jika ia tidak mendapatkan karbohidrat kompleks untuk dibakar perlahan, ia akan "mogok" tepat di tengah hari saat Anda paling membutuhkannya.

Refleksi pahit ini selalu terulang setiap kali saya merasa lemas luar biasa di jam kritis. Saya sadar bahwa saya telah menumbalkan kesehatan dan fokus saya seharian hanya demi menghindari rasa begah selama sepuluh menit di waktu sahur.

Memilih kopi susu saset sebagai pengganti nasi adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap raga sendiri. Kita memberikan tubuh kita janji manis, tapi membiarkannya kelaparan di medan perang yang sesungguhnya.

Kini, setiap kali saya memegang bungkus kopi saset di waktu sahur, saya teringat pada perihnya lambung di pukul 12 siang. Saya belajar bahwa rasa kenyang di pukul empat pagi adalah delusi yang mematikan.

Jika saya tidak ingin lagi menjadi martir bagi rasa lapar saya sendiri, saya harus belajar berdamai dengan piring nasi dan meninggalkan ritual "sahur minimalis" yang menyiksa ini. Karena pada akhirnya, ketahanan diri tidak dibangun dari aroma kopi, melainkan dari bijaknya kita mengisi "bahan bakar" sebelum pintu rezeki dan pintu makan kita ditutup oleh fajar.

Bagaimana dengan Anda? Masih mau membiarkan lambung Anda berdemo besar-besaran di tengah hari hanya karena rasa malas menyentuh nasi saat sahur? Saya sih, sudah kapok menjadi korban dari sebuah saset kopi.