M. Reza Sulaiman | Fathorrozi πŸ–ŠοΈ
Penukaran uang baru jelang Lebaran. (Dok. Suara.com)
Fathorrozi πŸ–ŠοΈ

Setiap menjelang lebaran, ada satu tradisi yang menurut saya selalu menarik untuk diamati, yaitu perburuan uang baru. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, masyarakat tetap antusias mencari uang pecahan baru untuk dibagikan saat Idulfitri. Fenomena ini bahkan sering terasa seperti sebuah β€œwar”, layaknya berebut tiket konser atau barang diskon besar.

Saya pribadi melihat tradisi ini bukan sekadar soal uang. Di baliknya ada makna kebahagiaan terselip yang ingin ditularkan. Uang baru biasanya dibagikan kepada anak-anak, keponakan, atau saudara sebagai salam tempel saat bersilaturahmi. Walaupun nominalnya tidak selalu besar, tetapi sensasi menerima uang yang masih rapi dan baru selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri.

Di Jember Jawa Timur, misalnya, antusiasme masyarakat untuk menukar uang baru menjelang lebaran selalu tinggi. Untungnya, Bank Indonesia kini menyediakan layanan penukaran melalui aplikasi PINTAR atau situs https://pintar.bi.go.id. Bagi saya, kehadiran layanan ini cukup membantu karena prosesnya lebih teratur dibandingkan dulu, ketika orang harus antre panjang di bank atau lokasi kas keliling.

Aplikasi PINTAR sendiri sudah digunakan sejak 2020. Awalnya, layanan ini dibuat untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan penukaran uang, mulai dari uang peringatan kemerdekaan hingga penukaran uang rusak. Namun, seiring waktu, aplikasi ini juga menjadi solusi untuk mengatur penukaran uang menjelang hari raya.

Setiap tahun, Bank Indonesia juga menetapkan batas maksimal penukaran yang berbeda. Jika beberapa tahun lalu batasnya sekitar Rp3,8 juta hingga Rp4 juta, pada tahun 2026 ini maksimal penukaran mencapai Rp5,3 juta per orang melalui program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri). Program ini melayani masyarakat di wilayah Jember, Lumajang, dan sekitarnya.

Pihak Bank Indonesia Jember menyiarkan bahwa lokasi penukaran uang baru bertempat di Kas Keliling BI Jember, bank-bank umum yang ditunjuk (seperti BNI, BRI, Mandiri, BCA di Jember/Lumajang), serta titik strategis lainnya.

Adapun paket penukaran maksimal Rp5.300.000 per orang, dengan rincian pecahan Rp50.000: 50 lembar, Rp20.000: 50 lembar, Rp10.000: 100 lembar, Rp5.000: 100 lembar, Rp2.000: 100 lembar, dan Rp1.000: 100 lembar.

Meski pada tahun 2026 ini kuota penukaran meningkat, saya merasa permintaan uang baru tetap jauh lebih besar. Tidak heran jika proses mendapatkan jatah penukaran kadang terasa seperti β€œwar”. Ada yang berhasil mendapatkan jadwal penukaran dan pulang dengan wajah puas, tetapi ada juga yang harus menelan kekecewaan karena kehabisan kuota.

Di tengah perkembangan teknologi keuangan seperti QRIS, dompet digital, dan mobile banking, uang fisik ternyata masih punya tempat tersendiri di hati masyarakat. Saya melihat banyak orang tetap menginginkan uang baru yang bersih dan rapi untuk dibagikan saat lebaran. Rasanya memang berbeda jika dibandingkan dengan sekadar transfer digital.

Dari pengalaman melihat fenomena ini, saya belajar satu hal sederhana: kalau ingin menyiapkan uang pecahan kecil untuk lebaran, sebaiknya mulai dipersiapkan jauh-jauh hari. Dengan begitu, ketika layanan penukaran dibuka oleh Bank Indonesia, kita tidak perlu terburu-buru atau ikut panik berebut kuota.

Intinya, bagi saya, tradisi berbagi uang saat lebaran bukan sekadar soal nominal dan harus baru. Namun yang lebih penting adalah makna berbagi kebahagiaan.

Semoga di lebaran tahun ini, siapa pun yang ingin menukar uang, baik uang baru maupun uang layak edar, bisa mendapatkannya dengan mudah, sehingga momen silaturahmi tetap terasa hangat dan penuh berkah.