Gimana jadinya kalau kamu melihat dengan mata kepala sendiri, ada dua bocah kecil sedang bermain di kuburan sebelum azan subuh berkumandang? Bahkan, tepatnya pada dini hari? Ngeri? Merinding? Jujur, janggal...
Hal itulah yang dialami oleh Mbak Galuh, salah satu tetanggaku di suatu hari. Begini kronologinya.
Sebagai pedagang sayuran di kampung, maka pagi-pagi sekali Mbak Galuh harus kulakan ke pasar induk yang berada di dekat kawasan polres. Biasanya, pada dini hari, sayuran segar dari petani datang. Jadi, harganya masih harga produsen.
Lewat dini hari, barang bakal jatuh ke tangan pengepul dan harganya sudah berbeda lagi. Begitu pun kalau ufuk timur muncul, maka barang sudah jatuh entah ke beberapa tangan pengepul dan penjual.
“Buk, nggak pakai jaket?” tanya Sofia sambil menyodorkan jaket pada sang ibu. “Dingin, lho.”
“Iya. Udaranya dingin banget malam ini.”
Mbak Galuh melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Dia sudah menyiapkan perlengkapan kulakan, yakni keranjang kain, catatan belanja, dan sekian tetek bengek lainnya.
“Nanti tolong bawakan ketan ya, Bu?”
“Oke, siap.”
Mbak Galuh mengangguk sambil mengusap rambut Sofia. Setelah semua persiapan lengkap, Mbak Galuh lantas berangkat ke pasar induk.
Walaupun Mbak Galuh bekerja demikian, bukan berarti sang suami menganggur. Suaminya sendiri adalah pekerja proyek bangunan dan biasanya pulang seminggu sekali karena lokasinya di luar kota. Nah, di sini Mbak Galuh tinggal bersama orang tua dan anaknya, yakni Sofia.
Namanya juga dini hari, sudah pasti sepi. Jalanan betulan lengang, dan udaranya dingin sekali. Alih-alih mengambil arah utara yang notabenenya bakal melintasi area persawahan, Mbak Galuh memilih jalur barat yang melintasi permukiman penduduk walau bakal melewati satu area kuburan tua.
Kuburan itu memiliki reputasi angker dan wingit, karena kerap membuat pengendara motor yang melintas tiba-tiba sudah berada di dalam area kuburan. Pokoknya horor sekalilah. Namun, selama ini Mbak Galuh aman-aman saja kok melewati jalur barat ini.
“Aroma wangi bunga?” gumam Mbak Galuh saat menghirup aroma wangi kembang. “Apa demit perempuan, ya?”
Mbak Galuh menggelengkan kepala, berusaha menepis bayangan horor. Dengan niat menambah laju kecepatan motor, Mbak Galuh justru mendengar suara tawa anak-anak. Jadilah dia mengerem motor, dan mencoba mendengarkan dengan saksama.
“Suara bocah? Jam segini? Ini pasti demit, sih.”
Meski janggal, Mbak Galuh enggan segera menyimpulkan demikian. Siapa tahu dia masih mengantuk, sehingga terbawa halusinasi pribadi. Namun, semenjak tadi, entah mengapa angin berembus dingin kian menusuk tulang saja. Rasa-rasanya, jaket tebal ini kehilangan fungsinya saja.
Hingga saat melintasi area depan kuburan, Mbak Galuh membelalakkan mata sewaktu melihat ada dua bocah kecil tampak bermain di area kuburan. Kira-kira mereka berusia empat tahunan, dengan kulit berwarna pucat dan mengenakan celana pendek putih tanpa baju. Sambil tertawa-tawa dan berlarian di antara nisan-nisan kuburan, seolah tidak memiliki ketakutan sama sekali.
Mbak Galuh menelan ludahnya payah, sebelum menambah kecepatan motornya. Pikirannya kembali pada sorot mata bocah-bocah kecil tadi yang kosong dan gelap bak jurang tanpa dasar. Seakan menegaskan bahwa mereka berdua bukanlah entitas manusia.
“Jadi, bocah laki-laki atau perempuan, Mbak?” tanya Bulek Sami.
“Kurang tahu, Bulek. Seingatku rambut pendek semua,” jawab Mbak Galuh sambil menghitung total belanjaan Bulek Sami. “Saya langsung ngebut, tiba-tiba hawanya nggak enak banget.”
“Jangan-jangan tuyul?” imbuh Bude Yam kian menyemarakkan kios sayur Mbak Galuh. “Bocah-bocah kecil cuma pakai celana saja. Apalagi kalau bukan tuyul?”
“Tapi, kuburan itu kan wingit dari dulu. Konon pernah ada pengendara motor yang ujug-ujug nyasar masuk ke situ,” ucap Bulek Sami lagi. “Namanya juga kuburan tua, lho.”
“Wah, mengerikan sekali, Bulek. Saya saja masih ngeri-ngeri sedap lihat penampakan bocah-bocah itu.” Mbak Galuh kemudian memberikan kantong belanjaan Bulek Sami. “Rasanya kapok dan nggak mau ketemu begituan lagi, deh!”
“Ya, kalau begitu, kamu lewat jalur utara saja.”
Mbak Galuh menggeleng. “Nah, saya malah lebih waswas kalau lewat jalur utara.”
“Lha, kenapa?”
“Jalur utara itu punya area persawahan yang luas dan jembatan yang sama-sama ngeri. Tetapi, yang saya takutkan kalau ada manusia sontoloyo di sekitaran situ. Mana jauh dari permukiman penduduk, Bulek.”
“Wah, benar juga.”
“Makanya, saya lebih pilih ketemu demit daripada ketemu manusia yang kelakuannya melebihi demit.”
Sampai sekarang pun Mbak Galuh masih mengingat kejadian dini hari itu. Bahkan di titik-titik mana sosok-sosok tersebut bermain. Sekalipun sudah bertahun-tahun, Mbak Galuh masih ngeri sendiri kalau mengingatnya.
Nah, kalau harus jujur, aku pun pernah memiliki pengalaman ngeri terhadap kuburan tersebut. Yang pertama, adanya sesosok bayangan tanpa tuan yang keluar dari area kuburan, dan menyeberangi jalan. Yang kedua, aku pernah mendengar suara bocah kecil memanggil ‘Mbak’ dari arah kuburan.
Entahlah. Entah apakah sosok-sosok tersebut hanyalah manipulasi kimiawi di otak manusia, atau entitas mereka betul-betul ada.
Baca Juga
-
What's Wrong With Secretary Kim: Sinematografi Romansa dan Misteri Menyatu
-
Teori Konspirasi dan Friendship Manis dalam Anime Mr. Love: Queen's Choice
-
Mohabbatein: Film yang Mengajak Kita Crosscheck Realita Jaman Sekarang
-
Review Embrace in the Dark Night: Sinematografi Misteri yang Niat Banget
-
Lighter and Princess: Kesetiaan & Penghianatan yang Dieksekusi Membabi Buta
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
5 Rekomendasi Anime Baru di Summer 2026, Ada Remake Ghost in the Shell!
-
Review Film The Protege: Drama Kriminal yang Penuh dengan Intrik dan Darah!
-
2026 Tahun Terakhir Melihat Messi dan Ronaldo di Piala Dunia: Akhir dari Sebuah Era?
-
Musikal Hell's Kitchen Pentas Juli, Intip Deretan Pemain Penuh Bintang
-
Dari Tumbler ke Paylater: Kontradiksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan Anak Muda