Hayuning Ratri Hapsari | Sri Rahayu
Ilustrasi kakak beradik (Pexels/Alex Green)
Sri Rahayu

Bagi seorang ibu rumah tangga kelas menengah ngepas seperti saya, momen paling menegangkan dalam sehari bukanlah saat melihat tagihan listrik, melainkan saat jarum jam dinding mendekati angka lima sore. Itu adalah waktu krusial di mana suasana perkampungan yang tadinya damai tiba-tiba berubah mencekam.

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar bunyi klakson telolet atau musik bernada nyaring yang sangat familier. Ya, itu adalah suara motor abang-abang penjual mainan keliling, sebuah pertanda bahwa ujian diplomasi tingkat tinggi di teras rumah resmi dimulai.

Begitu mendengar suara itu, anak bungsu saya yang tadinya sedang asyik mandi langsung pasang telinga. Dengan gerakan secepat kilat, dia akan berlari ke teras rumah, bahkan kadang masih pakai handuk—lalu berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan penuh harap.

Di saat yang sama, jantung saya rasanya mau copot. Pikiran saya langsung berputar cepat mencari alasan, sebab saya tahu betul isi dompet saya sore itu tidak sedang ramah pada mainan plastik seharga lima belas ribu rupiah yang biasanya rusak dalam waktu dua jam saja.

Drama sore hari ini bukan sekadar urusan rengekan anak kecil yang manja. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Psikologi Perkembangan, kemampuan orang tua dalam menerapkan strategi penolakan secara asertif tanpa kekerasan verbal sangat memengaruhi regulasi emosi dan pemahaman konsep batasan ekonomi pada anak usia dini.

Namun, teori psikologi yang rapi itu sering kali terasa sangat buram ketika dipraktikkan langsung di lapangan, di mana saya harus berhadapan dengan tatapan mata anak yang berkaca-kaca dan senyuman abang penjual yang sudah siap menurunkan barang dagangannya.

Menolak anak minta mainan di depan abang keliling itu butuh taktik yang matang, tidak bisa asal bentak. Kalau saya langsung bilang, "Enggak usah beli, enggak punya uang!" di depan umum, ada rasa harga diri yang rontok, baik bagi saya yang merasa gagal jadi orang tua, maupun bagi anak yang merasa dipermalukan di depan teman-temannya. Maka, saya wajib menerapkan strategi diplomasi berlapis yang bikin batin ini sebenarnya menangis.

Taktik pertama yang sering saya gunakan adalah "Pengalihan Isu Makro". Begitu anak mulai menunjuk mobil-mobilan plastik, saya akan langsung memeluknya dari belakang sambil membisikkan kalimat manis, "Wah, mobilnya bagus ya, Dek.

Tapi lihat deh, di rumah kan warnanya belum ada yang merah, besok kita tabung uangnya dulu ya buat beli yang lebih besar di toko." Kalimat itu adalah janji manis bermuatan politis, sebuah cara halus untuk menunda kekalahan finansial hari ini ke hari esok yang belum pasti.

Kalau taktik pertama gagal dan anak mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu menangis, guling-guling di aspal—saya terpaksa mengeluarkan taktik kedua: "Kambing Hitam Domestik". Saya akan pasang wajah sedih lalu berbisik, "Aduh sayang, uang Ibu tadi habis dipakai beli susu adek sama bayar iuran sampah ke Pak RT. Kalau kita beli mainan ini, nanti malam kita enggak bisa makan telur dadar kesukaan kamu, lho." Mendengar kata telur dadar terancam hilang, biasanya anak saya mulai goyah dan perlahan mau diajak masuk ke dalam rumah.

Jujur saja, setiap kali berhasil menyeret anak masuk dan melihat abang mainan itu berlalu dengan wajah kecewa, ada rasa lega sekaligus sesak yang menyatu di dada saya. Saya lega karena dompet selamat, tapi batin saya menangis.

Sebagai ibu, siapa sih yang tidak ingin melihat anaknya tertawa riang memegang mainan baru? Ada rasa bersalah yang teramat dalam karena untuk kebahagiaan kecil seharga belasan ribu saja, saya harus menggunakan seluruh kemampuan berbohong dan bersandiwara demi menyelamatkan sisa uang belanja.

Edukasi tentang financial parenting yang sering dibagikan para selebgram kaya di internet itu rasanya terlalu mewah bagi kami. Mereka bisa dengan mudah mengajarkan anak menabung karena uang dasarnya sudah ada. Sementara bagi saya, seni menolak ini adalah murni mekanisme bertahan hidup agar dapur tetap bisa ngepul esok hari tanpa harus terlilit utang di warung sebelah.

Pada akhirnya, jam lima sore akan selalu menjadi waktu yang menguji mental saya sebagai seorang ibu. Melalui rentetan diplomasi getir setiap sore, saya hanya bisa berharap anak saya pelan-pelan belajar satu hal penting sejak dini: bahwa hidup ini penuh dengan batasan, dan cinta seorang ibu tidak diukur dari seberapa banyak mainan plastik yang mampu dibelinya, melainkan dari seberapa keras dia menjaga agar perut anaknya tetap kenyang dan masa depannya tetap aman.