Beberapa bulan lalu, saya sempat merasa bangga saat melihat lingkaran hitam di bawah mata saya semakin menebal. Di depan cermin, saya meyakinkan diri bahwa ini adalah "lencana kehormatan" seorang pekerja keras.
Saya terbiasa membalas pesan kerja di tengah malam, membawa laptop ke tempat tidur, dan merasa berdosa jika membiarkan akhir pekan berlalu tanpa membuka draf pekerjaan. Saat itu, saya merasa sedang berada di jalur menuju kesuksesan yang diagungkan banyak orang.
Namun, sebuah momen sederhana menghancurkan ilusi itu: saya mendapati tangan saya gemetar saat memegang sendok makan karena kelelahan kronis, sementara di saat yang sama, saya melihat unggahan media sosial bos saya yang sedang menikmati liburan mewah bersama keluarganya.
Nah, saat itulah saya sadar bahwa saya bukan sedang membangun masa depan, saya hanya sedang menumbalkan kewarasan saya demi kenyamanan orang lain.
Keresahan pribadi ini adalah potret kecil dari penyakit sosial bernama hustle culture yang sedang mewabah di kalangan generasi kita.
Kita hidup di tengah masyarakat yang memuja kesibukan berlebih sebagai simbol status sosial. Jika Anda tidak terlihat sibuk, Anda dianggap malas. Jika Anda pulang kerja tepat waktu, Anda dianggap tidak punya dedikasi.
Fenomena ini menciptakan standar moral baru yang cacat: semakin Anda menderita demi pekerjaan, semakin mulia nilai Anda sebagai manusia.
Celakanya, glorifikasi kerja lembur ini sering kali tidak dibarengi dengan kompensasi yang layak. "Loyalitas" dan "kekeluargaan" menjadi kata-kata sakti yang digunakan perusahaan untuk memeras tenaga karyawannya tanpa harus membayar upah lembur sepeser pun.
Kegilaan ini memiliki dampak yang mengerikan bagi keberlangsungan hidup manusia. Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO), bekerja lebih dari 55 jam seminggu meningkatkan risiko strok dan penyakit jantung koroner secara signifikan.
Di Indonesia, fenomena burnout atau kelelahan mental akut merambah ke pekerja muda dengan sangat cepat. Data dari WHO menunjukkan bahwa efektivitas kerja justru menurun drastis setelah jam kedelapan, namun logika industri sering kali menutup mata.
Mereka lebih suka melihat karyawan yang duduk diam di depan meja hingga larut malam—meski otaknya sudah mati rasa—daripada melihat karyawan yang pulang tepat waktu dengan hasil kerja yang berkualitas. Kita dipaksa menjadi martir bagi pertumbuhan ekonomi yang angka-angkanya tidak pernah benar-benar mampir ke rekening kita.
Analisis saya terhadap situasi ini membawa pada sebuah pertanyaan mendasar: kita telah tertipu oleh "dongeng" produktivitas. Hustle culture adalah cara halus sistem untuk membuat kita merasa bersalah saat kita beristirahat. Kita diajarkan bahwa istirahat adalah kemewahan, padahal itu adalah hak biologis.
Urgensi masalah ini bukan hanya soal kesehatan fisik, melainkan soal hilangnya identitas kita sebagai manusia. Kita tidak lagi memiliki waktu untuk hobi, keluarga, atau sekadar merenung, karena seluruh energi kita telah diisap oleh mesin korporasi.
Ironisnya, saat kita jatuh sakit karena terlalu keras bekerja, perusahaan hanya butuh waktu kurang dari 24 jam untuk mencari pengganti posisi kita, sementara keluarga kita akan menanggung sedihnya seumur hidup.
Mari kita bicara jujur dari hati ke hati, pernahkah Anda merasa bangga saat mengatakan "saya sedang sibuk sekali" kepada teman Anda? Rasa bangga itu adalah racun.
Kita telah menginternalisasi penindasan terhadap diri sendiri. Kita merasa hebat saat begadang demi deadline yang sebenarnya bisa ditunda, seolah-olah dunia akan kiamat jika dokumen itu tidak selesai malam ini. Padahal, satu-satunya yang akan kiamat adalah kewarasan kita sendiri.
Menolak lembur tanpa bayaran bukanlah tanda bahwa kita malas; itu adalah tanda bahwa kita memiliki harga diri. Itu adalah pernyataan tegas bahwa waktu kita memiliki nilai, dan hidup kita tidak bisa dibeli hanya dengan janji manis "kesuksesan" yang abstrak.
Saya ingin mengajak Anda untuk berani mengambil kembali kendali atas waktu Anda. Berhenti mengagungkan lelah sebagai prestasi. Sukses sejati tidak pernah menuntut Anda untuk kehilangan akal sehat atau menjauhi orang-orang tercinta.
Dunia tidak akan runtuh jika Anda mematikan notifikasi kantor setelah jam lima sore. Jadi, besok pagi, saat Anda duduk di meja kerja, tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda sedang bekerja untuk hidup, atau sedang menggali liang lahat sendiri demi kemajuan perusahaan?
Saya sudah memilih untuk berhenti menjadi budak. Sekarang, giliran Anda untuk memutuskan apakah kewarasan Anda layak untuk dipertahankan atau tidak.
Baca Juga
-
Anak Bungsu Jelang Lebaran: Saat Titah Perantau Jadi Beban di Punggung Saya
-
Lagu "Mejikuhibiniu" Sukses Hancurkan Standar Musik Saya Tanpa Ampun
-
Saya Menjual Idealisme Musik Saya Demi Desahan Manis Bertajuk 'Malu-Malu'
-
Saya Menumbalkan Lambung Demi Sesobek Saset Kopi Susu saat Sahur
-
Saya Jarang Mendengarkan Dewa 19 dan SO7 Sejak Bintang 5 Menjarah Otak Saya
Artikel Terkait
-
Belanja Sampai Tengah Malam Jelang Lebaran, Mal Ini Hadirkan Diskon Besar-besaran hingga 80%!
-
Hustle Culture vs Slow Living: Haruskah Kita Merasa Bersalah Saat Istirahat?
-
Kota yang Bising, Pikiran yang Lelah: Apa Kabar Kesehatan Mental Anak Muda?
-
Seni Mindful Living: Cara Menata Hidup Agar Berkualitas di Era Digital
-
Teror di Perlintasan Mati: Misteri Masinis Tanpa Kaki di Tengah Malam
Kolom
-
Bagi Seorang Ayah seperti Saya, Bulan Ramadan Justru Datangkan Perasaan Ngenes yang Berganda
-
Ketika Ucapan Idulfitri Diwakili oleh Mesin Kecerdasan Buatan
-
Belajar Melepaskan: Bagaimana Proses Decluttering Mengajarkan Kita Hidup Lebih Ringan
-
Kenapa Ide Kreatif Muncul Saat Kita Melamun dan Mau Tidur?
-
Pragmatis atau Inkonsisten? Membaca Gaya Bebas Ekonomi ala Prabowo
Terkini
-
SUGA BTS Resmi Jadi Salah Satu Penulis Buku Terapi Musik untuk Anak Autisme
-
Berlayarnya Blitar Holland, Kisah Perjalanan Haji 1938 di Novel Rindu
-
Wajib Tahu! Bedanya Parfum Siang dan Malam yang Bikin Wangimu Makin Sempurna
-
Cinta Suci Nadia: Saat Kesalehan Diuji oleh Masa Lalu yang Kelam
-
Ingin Mudik Lebaran 2026 Tanpa Drama Macet? Manfaatkan Aplikasi Travoy Ini