Saya baru saja menutup lembar terakhir novel Eka Kurniawan yang tebalnya lumayan bikin pergelangan tangan pegal. Perasaan saya? Campur aduk. Ada rasa puas, sedih, marah, sekaligus kagum yang meledak-ledak di kepala. Detik itu juga, saya ingin sekali berteriak, atau minimal mengirim pesan panjang ke seseorang untuk menumpahkan segala teori konspirasi dan emosi yang mengganjal di dada.
Namun, yang saya lakukan justru hanya terdiam. Saya menatap langit-langit kamar, lalu beralih menatap layar ponsel yang sepi. Tidak ada notifikasi yang bisa diajak debat soal nasib tokoh utamanya. Akhirnya, perasaan hebat itu menguap begitu saja, menyisakan ruang hampa yang bikin saya mikir: ternyata bagian tersulit dari membaca buku bukanlah memahami plot yang berat, melainkan fakta bahwa saya tidak punya tempat untuk bercerita setelah buku itu usai.
Selama ini, kita sering kali mengeluh bahwa minat baca di Indonesia rendah karena harga buku fisik yang setinggi langit. Pajak buku, biaya distribusi, hingga kertas yang makin mahal memang jadi tembok penghalang. Tapi coba kita telisik sedikit. Pernahkah kita sadar bahwa ada masalah lain yang lebih personal sekaligus sistemik? Yaitu, hilangnya ruang komunal untuk merayakan sebuah bacaan. Banyak orang sanggup menabung untuk beli buku original seharga ratusan ribu, tapi mereka tetap "miskin" karena tidak punya ekosistem yang mendukung pertumbuhan intelektual setelah proses membaca itu selesai.
Fenomena ini sering disebut sebagai post-book blues, sebuah kondisi emosional di mana pembaca merasa kehilangan atau hampa setelah menyelesaikan cerita yang mendalam. Masalahnya, di Indonesia, budaya literasi kita masih sering berhenti pada tahap "pamer" koleksi di media sosial atau sekadar mengejar target jumlah bacaan di aplikasi Goodreads. Kita punya ribuan akun bookstagram yang estetik, tapi sangat sedikit ruang diskusi yang organik. Kita terjebak dalam sekat-sekat privasi, di mana membaca dianggap sebagai aktivitas soliter yang egois, padahal hakikat pengetahuan adalah untuk dibagikan.
Menurut data dari National Endowment for the Arts sebenarnya pernah menyinggung bahwa membaca secara berkelompok atau mendiskusikan bacaan dapat meningkatkan empati dan kesehatan mental secara signifikan. Namun, realitas sosial kita justru menunjukkan kecenderungan yang kontradiktif.
Di kota-kota besar maupun daerah, perpustakaan masih sering dianggap sebagai "kuburan" yang sunyi senyap, tempat di mana kita dilarang bersuara—bukannya menjadi pusat diskusi yang hidup. Belum lagi stigma di pergaulan tongkrongan; kalau kamu tiba-tiba bahas soal kritik sosial di sebuah novel saat lagi ngopi, besar kemungkinan kamu bakal dicap "sok puitis" atau "kebanyakan gaya."
Secara analisis, hambatan ini menciptakan jurang pemisah bagi para pembaca muda. Kita butuh kanal untuk memproses informasi. Ketika seseorang selesai membaca buku tentang isu gender atau ketidakadilan sosial, misalnya, dorongan untuk berdiskusi adalah bentuk validasi atas pemikiran baru yang ia dapatkan.
Tanpa adanya ruang bercerita, gagasan-gagasan kritis tersebut sering kali layu sebelum berkembang. Kita hanya menjadi penampung informasi tanpa pernah menjadi pengolah gagasan. Dampaknya? Literasi kita hanya sampai di permukaan, tidak meresap menjadi kesadaran kolektif yang bisa mengubah keadaan sosial.
Bagi saya, pengalaman membaca adalah sebuah perjalanan spiritual. Dan layaknya sebuah perjalanan, rasanya hambar jika kita pulang tanpa bisa menceritakan keindahan tempat yang kita kunjungi kepada orang lain. Bukan salah kita jika akhirnya kita memilih untuk "scrolling" media sosial berjam-jam daripada menamatkan satu buku lagi, karena setidaknya di media sosial, komentar kita (sekecil apa pun) langsung mendapat respons. Ada interaksi, ada rasa didengarkan.
Jadi, masalahnya memang bukan cuma soal dompet yang kering karena harga buku yang makin nggak masuk akal. Masalahnya adalah tentang telinga yang tidak tersedia dan ruang yang tidak terbuka. Kita butuh lebih banyak komunitas yang berisik, perpustakaan yang memperbolehkan orang berdebat, dan teman-teman yang tidak mencibir saat kita mulai bicara soal fiksi yang terasa nyata.
Pada akhirnya, apakah kita akan terus membiarkan buku-buku bagus itu berakhir hanya sebagai pajangan estetik di rak kayu tanpa pernah benar-benar "hidup" dalam percakapan?
Saya rasa, sebelum kita menuntut masyarakat untuk rajin membaca, kita harus lebih dulu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menjadi telinga yang baik bagi mereka yang baru saja pulang dari petualangan di balik lembaran kertas?
Jangan sampai, buku-buku itu mati di tangan kita hanya karena kita terlalu malas untuk saling menyapa dan bertukar cerita. Karena sebuah buku baru benar-benar selesai dibaca, saat isinya sudah mulai dibicarakan.
Baca Juga
-
Internet Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Kenapa Tata Kelolanya Masih Merugikan Konsumen?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Iqro', Lagu yang Bikin Saya Mikir Ulang soal Kesombongan Sendiri
Artikel Terkait
Kolom
-
BPS vs Bank Dunia: Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Bisa Berbeda Jauh?
-
Interview Online vs Offline, Mana yang Lebih Masuk Akal?
-
Menko IPK Minta Kota Bersiap, tapi Mengapa Birokrasi Daerah Lambat?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?
-
Financial Anxiety: Saat Memikirkan Uang Lebih Melelahkan dari Mencari Uang
Terkini
-
Menembus Kesunyian dan Ketidakadilan dalam The Silence of Bones
-
Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan
-
Belajar Menerima Cinta Lewat Lagu Ketika Cinta Bertasbih Melly Goeslaw
-
Review Novel Rengat: Romansa Kaum Elite yang Penuh Rumor dan Intrik
-
5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda