Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Ilustrasi Burnout atau kelelahan. (unsplash.com/Nik Shuliahin)
Vicka Rumanti

Di era digital yang selalu bergerak cepat, kita sering terjebak dalam dilema yang membuat otak seakan berpikir, “Salah nggak ya aku istirahat sebentar?” Hal ini membuat kita seolah-olah mendengar suara yang berbisik, “Orang lain sudah sukses melesat, kamu masih di sini-sini aja nggak ada perkembangan.”

Suara itu adalah bisikan-bisikan dari Hustle Culture. Ini merupakan kondisi di mana ketika kita istirahat, kita malah merasa seperti sedang menunda kesuksesan atau bahkan gagal dan merasa bahwa ketenangan adalah sebuah ancaman.

Namun, di tengah kebisingan ambisi yang begitu kejam, ada gerakan Slow Living yang muncul perlahan di kalangan Generasi Z. Ia bukan upaya pelarian, melainkan upaya untuk menyelamatkan diri sebelum jiwa benar-benar kekeringan. Selamat datang di medan perang Hustle Culture dan Slow Living.

Gila Kerja Membuat Kesibukan Menjadi Status Sosial

Akhir-akhir ini, hustle culture atau budaya "gila kerja" telah mendominasi narasi kesuksesan. Ini tidak dapat dipungkiri, apalagi bagi mereka yang hidup di kota besar. Bukan mereka yang mengejar waktu, tetapi waktu yang mengejar mereka.

Di dunia ini, tidur dianggap sebagai kemewahan bagi mereka yang tidak punya ambisi. Kita diajarkan bahwa jika ingin menjadi "orang yang sukses”, kita harus terus berlari, melakukan multitasking, dan mengorbankan waktu pribadi demi angka-angka di atas kertas dengan nilai yang ganas.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar. Waktu dan tenaga. Dua hal ini sering kali terkuras dan terabaikan jika ambisi sudah menjadi obsesi. Kita sering kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Burnout bukan lagi risiko, melainkan konsekuensi yang dianggap wajar. Kita mengejar tujuan dengan begitu cepat sampai lupa dan justru tersesat.

Slow Living Bukan Malas, Tapi Bentuk Kesadaran

Di sisi lain, muncul gerakan slow living. Banyak yang salah kaprah menganggap gaya hidup ini sebagai bentuk kemalasan. Padahal, slow living adalah adalah sebuah seni untuk memilih melakukan lebih sedikit hal, tetapi dengan kualitas dan kesadaran penuh (mindfulness).

Alih-alih berlomba mencapai garis finis, penganut slow living memilih untuk menikmati prosesnya. Mereka percaya bahwa hidup bukan sekadar deretan daftar tugas yang harus dicentang, melainkan rangkaian momen yang harus dirasakan. Contoh sederhananya seperti menghirup aroma kopi di pagi hari atau melakukan percakapan tanpa gangguan ponsel.

Menemukan "Jalan Tengah" yang Manusiawi

Lalu mana yang lebih baik untuk kelangsungan hidup kita? Jawabannya tidak hitam-putih. Hidup tanpa ambisi mungkin membuat kita stagnan, tapi hidup tanpa istirahat juga akan membuat kita tumbang.

Kuncinya bukan memilih salah satu secara ekstrem, melainkan menemukan ritme yang berkelanjutan. Kita butuh ambisi untuk tumbuh, tetapi kita juga butuh ruang bernapas agar tetap waras. Arti sukses yang sejati itu seharusnya tidak membuat kita merasa asing dengan diri sendiri ketika bercermin.

Keputusannya kembali pada diri sendiri, apakah ingin diingat sebagai orang yang paling sibuk di kantor, atau sebagai orang yang paling hadir dalam setiap momen hidup pribadi? Hidup itu seperti sebuah maraton, bukan lari sprint 100 meter. Jalan yang ditempuh masih panjang, tapi jangan sampai lupa pulang. Jangan sampai ketika sudah mencapai garis finis, kita malah terlanjur lelah dan tidak sempat merayakannya.