Kegiatan favorit saya kalau lagi senggang atau sekadar melepas penat ya apalagi kalau bukan scrolling media sosial. Dari mulai konten kucing yang lucu sampai perdebatan politik yang bikin dahi lipat tujuh, semua saya lahap.
Tapi jujur, beberapa hari terakhir, jempol saya mendadak kaku saat melewati berita soal tragedi KRL di Bekasi Timur. Belum kering air mata keluarga korban, lini masa saya sudah disuguhi usulan yang bikin saya bertanya-tanya: ini yang bikin kebijakan lagi kurang kopi atau gimana?
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengusulkan agar gerbong khusus wanita dipindah ke tengah rangkaian kereta. Alasannya? Supaya kalau ada tabrakan lagi, perempuan lebih aman karena posisi tengah adalah titik paling minim dampak. Mendengar sekaligus membaca berita itu, saya yang biasanya cuma jadi penonton pasif di kolom komentar, kali ini benar-benar merasa miris.
Logika yang "Offside"
Mari kita pakai kacamata orang biasa saja. Kalau saya duduk di gerbong tengah karena saya perempuan dan pemerintah merasa saya "lebih berharga" untuk diselamatkan, lalu siapa yang mereka taruh di gerbong paling depan dan belakang? Jawabannya jelas: laki-laki. Di titik inilah saya merasa ada yang sangat salah.
Konteks sosial kita saat ini seolah sedang digiring untuk mengadu domba keselamatan antargender. Isu keselamatan transportasi yang harusnya bersifat universal, mendadak jadi soal "siapa yang lebih pantas jadi tumbal". Memindahkan gerbong wanita ke tengah bukan solusi atas buruknya sistem keamanan kereta api; itu cuma cara halus untuk bilang bahwa nyawa laki-laki punya harga yang lebih murah sehingga boleh ditaruh di zona bahaya.
Kecelakaan kereta di Indonesia, menurut catatan beberapa tahun terakhir, hampir selalu disebabkan oleh kendala teknis, kerusakan prasarana, atau masalah komunikasi di pusat kendali. Tidak ada satu pun riset keselamatan transportasi di dunia yang menyarankan "pemisahan gender berdasarkan posisi gerbong" sebagai cara mengurangi angka fatalitas.
Justru, standar keselamatan internasional fokus pada crashworthiness—bagaimana desain setiap gerbong, dari paling depan sampai belakang, punya daya serap benturan yang sama baiknya. Ketika pemerintah malah sibuk mengatur siapa duduk di mana, mereka seolah sedang melakukan gaslighting kepada kita semua, seakan-akan kecelakaan itu adalah takdir yang posisi "korbannya" bisa kita atur-atur.
Diskriminasi yang Dibungkus Perlindungan
Sebagai sesama wanita, saya merasa usulan ini justru menghina akal sehat perempuan. Kita selama ini menuntut gerbong khusus wanita itu untuk menghindari pelecehan seksual, bukan untuk dijadikan alasan supaya kita punya "hak istimewa" untuk selamat duluan dalam kecelakaan sementara laki-laki dibiarkan bertaruh nyawa di ujung rangkaian.
Bayangkan saya sedang naik kereta bersama ayah atau adik laki-laki saya. Apakah saya tega melihat mereka berdiri di gerbong paling ujung yang rawan benturan, sementara saya duduk manis di tengah dengan rasa aman yang semu? Tentu tidak. Nyawa tidak punya jenis kelamin. Rasa sakit saat besi menghantam tubuh itu sama, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Kebijakan yang reaktif seperti ini menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman pemangku kepentingan kita terhadap esensi "keamanan". Mereka lebih memilih memberikan solusi kosmetik yang terlihat "peduli perempuan", padahal sebenarnya mereka sedang gagal total dalam menyediakan standar keamanan yang adil bagi seluruh warga negara.
Meskipun akhirnya beliau sudah minta maaf, bagi saya, munculnya pemikiran seperti itu di level menteri sudah cukup menunjukkan bahwa ada masalah besar dalam cara pemerintah memandang keselamatan kita. Kita jangan mau dijebak dalam narasi yang seolah-olah mengistimewakan wanita tapi sebenarnya sedang merendahkan nilai nyawa manusia secara umum.
Keamanan transportasi publik bukan tentang memindahkan gerbong layaknya kita menggeser perabot di rumah. Keamanan itu adalah tentang memastikan kereta tidak anjlok, sinyal tidak error, dan setiap orang yang membeli tiket—laki-laki maupun perempuan—punya jaminan yang sama untuk bisa sampai di rumah dan memeluk keluarganya lagi.
Jadi, daripada sibuk memikirkan posisi gerbong, mungkin ada baiknya energi itu dipakai untuk membenahi sistem yang sudah lama keropos. Karena jujur saja, sebagai perempuan, saya tidak butuh "diselamatkan duluan" jika itu artinya harus mengorbankan orang lain. Saya hanya ingin kita semua selamat, tanpa terkecuali.
Baca Juga
-
Gratis Itu Relatif, Setidaknya Itu yang Saya Pelajari dari Sekolah Negeri
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
-
Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan
-
Sistem Pendidikan Kita Mencetak Saya Jadi Mesin, Bukan Manusia Siap Hidup
-
Jatuh Cinta Lagi oleh Nadhif, Teror Manis bagi Hati Saya yang Belum Sembuh
Artikel Terkait
-
Malaikat Maut Selalu Mengintai Kita, Tidak Pandang di Gerbong Sebelah Mana
-
Blunder Usul Gerbong Perempuan Pindah Tengah: Solusi atau Respons Prematur?
-
Menteri PPPA Minta Maaf soal Usul Gerbong Wanita Dipindah: Saya Sadar Kurang Tepat
-
Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!
-
Tragedi KRL Maut Bekasi Timur Naik Penyidikan: Polisi Bidik Tersangka!
Kolom
-
Malaikat Maut Selalu Mengintai Kita, Tidak Pandang di Gerbong Sebelah Mana
-
Blunder Usul Gerbong Perempuan Pindah Tengah: Solusi atau Respons Prematur?
-
Sekolah Gratis Tapi Tak Setara: Hidden Cost yang Menyaring Status Siswa
-
Ilusi Sekolah Gratis: Biaya Tersembunyi yang Membungkam Mimpi Anak Bangsa
-
Sedekah yang Berubah Jadi Tagihan: Tradisi atau Tekanan Sosial?
Terkini
-
Nikmatnya Lumpia Bu Haji Jambi, Resep Legendaris Kini Tampil Modern
-
Film dan Serial Anime Jepang Ramaikan Annecy Festival 2026, Ini Daftarnya
-
Anime World Trigger Hadirkan Versi Reboot, Arc Ikonik Siap Diadaptasi Ulang
-
Kesulitan Pakai Motor GP26, Marc Marquez Enggan Kembali Gunakan Motor Lama
-
Ulasan Drama Walking on Thin Ice: Antara Dosa dan Kasih Sayang Seorang Ibu