M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi Lebaran ala Gen Z (Pexels/ds rexy)
e. kusuma .n

Setiap kali Hari Raya tiba, ada satu perasaan yang selalu muncul dalam diri saya, campuran antara hangat dan canggung. Hangat karena Lebaran selalu membawa pulang kenangan masa kecil, mulai dari aroma opor di dapur, suara takbir yang menggema, dan rumah yang dipenuhi tawa keluarga.

Namun di sisi lain, ada juga rasa canggung yang pelan-pelan tumbuh seiring bertambahnya usia dan berubahnya cara saya memandang tradisi. Saya bahkan terkadang merasa berada di persimpangan antara kewajiban tradisi yang sudah mengakar dengan realita zaman.

Tentu ada keinginan untuk mempertahankan pola silaturahmi dari rumah ke rumah, bersalaman dengan sanak saudara, dan duduk berjam-jam dalam percakapan yang kadang terasa repetitif. Hanya saja, saya juga mulai mempertimbangkan untuk lebih selektif dan peka pada kenyamanan emosional.

Lebaran Dulu vs Sekarang

Dulu, saya tidak pernah mempertanyakan apa pun. Lebaran adalah tentang berkeliling, mengenakan baju baru, dan menerima amplop dengan wajah berbinar. Semua terasa sederhana dan penuh kehangatan bersama keluarga dan sahabat.

Namun sekarang, ada banyak hal yang terasa berbeda.  Bukan karena tradisinya berubah, melainkan karena cara saya memaknainya yang ikut berubah. Salah satu momen yang paling saya rasakan adalah saat berkumpul dengan keluarga besar.

Bukan kebersamaannya yang menjadi masalah, melainkan percakapan yang sering kali terasa seperti “ujian sosial”. Pertanyaan-pertanyaan seperti “sekarang sibuk apa?”, “kapan lulus?”, atau “kapan menikah?” terdengar sederhana, tetapi sering kali membawa beban tersendiri.

Saya tahu, sebagian besar dari pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Itu adalah bagian dari cara generasi sebelumnya menunjukkan perhatian. Namun, kesadaran yang tinggi akan kebutuhan menjaga kesehatan mental membuat pertanyaan klasik tadi terasa mengusik.

Kebutuhan Menjaga Diri Secara Emosional

Di titik ini, saya mulai menyadari kalau Lebaran bukan hanya tentang hadir secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana saya menjaga diri sendiri secara emosional. Kadang, saya memilih untuk tidak terlalu lama berada di tengah keramaian.

Bukan karena tidak peduli, melainkan karena saya tahu batas energi sosial saya. Saya mulai belajar menjaga kesehatan mental, bukan melupakan tradisi, melainkan menemukan cara untuk tetap terhubung tanpa mengorbankan diri sendiri.

Era Digitalisasi Lebaran

Di sisi lain, saya juga melihat bagaimana teknologi mengubah cara saya, terutama Gen Z, dalam menjalani Lebaran. Ucapan maaf kini tidak selalu harus disampaikan secara langsung. Sebuah pesan singkat atau video call bisa menjadi alternatif.

Dulu, mungkin hal ini dianggap kurang sopan. Namun bagi saya, ini adalah bentuk adaptasi. Tidak semua orang memiliki kesempatan atau kapasitas untuk bertemu langsung, tetapi keinginan untuk tetap terhubung tetap ada.

Meski begitu, saya juga tidak ingin sepenuhnya kehilangan esensi dari Lebaran itu sendiri. Ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar, seperti hangatnya pelukan, tatapan mata yang tulus, dan momen hening saat saling memaafkan secara langsung.

Keseimbangan Esensi Lebaran

Di tengah tarik-menarik ini, saya mulai mencari keseimbangan. Saya tetap datang ke rumah keluarga, tetap bersalaman, tetapi juga memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas. Saya memilih percakapan yang lebih bermakna daripada sekadar basa-basi.

Saya juga mencoba hadir bukan hanya sebagai “anak muda yang diwajibkan hadir”, tetapi sebagai individu yang benar-benar ingin terhubung. Saya bahkan belajar untuk lebih memahami perspektif generasi yang lebih tua.

Bagi mereka, tradisi adalah cara menjaga hubungan tetap hidup. Sementara bagi saya, hubungan yang sehat adalah yang memberi ruang untuk menjadi diri sendiri. Mungkin di sinilah tantangannya untuk menjembatani dua cara pandang yang berbeda tanpa harus saling meniadakan.

Lebaran, bagi saya sekarang, bukan lagi sekadar ritual tahunan. Justru lebaran menjadi ruang refleksi tentang bagaimana saya melihat keluarga, bagaimana saya menjaga hubungan, dan bagaimana saya memahami diri sendiri.

Pada lebaran di era digital ini, saya bukan ingin menolak tradisi. Saya hanya ingin memaknainya dengan cara yang lebih relevan dengan kehidupan saya hari ini dengan tetap menghormati nilai-nilai yang ada sekaligus memberi ruang bagi realita yang saya hadapi.

Karena pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita menjalankan tradisi, tetapi tentang seberapa tulus kita hadir, baik untuk orang lain, maupun untuk diri sendiri.