Lebaran telah usai. Para perantau akan kembali pulang untuk melaksanakan pekerjaan kembali. Itu merupakan sesuatu yang sulit. Saya pun merasakan hal yang sama. Ketika semangat mudik menyala-nyala, namun ketika semua telah usai, harus kembali kepada rutinitas yakni bekerja. Semangat pun harus dipompa lagi dan dipacu lagi.
Entah kenapa, saat mudik rasanya begitu bahagia, riang, gembira, namun saat mudik telah usai, sulit untuk meninggalkan kampung halaman. Itu benar adanya.
Daniel Kahneman (2004) menjelaskan fenomena tersebut sebagai hedonic adaptation. Orang akan cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan dasar setelah mengalami emosi positif. Saya mengibaratkan hal tersebut dalam artian kebahagiaan luar biasa itu ada di kampung halaman dan di perantauan itu hanya berupa tuntutan kerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pekerjaan Itu Menguras Energi dan Pikiran
Pada dasarnya, pekerjaan itu menguras energi dan pikiran. Dengan kata lain, bekerja itu banyak beban. Kalau bisa memilih, setiap orang ingin bekerja tidak jauh dari rumah, agar ketika lelah bekerja, ada rumah sebagai tempat masa kecil dan hidup bersama keluarga menjadi tempat yang membahagiakan dan penghilang rasa lelah. Banyak orang saat ini memilih untuk merantau karena punya impian dan cita-cita, serta untuk melanjutkan hidup.
Ketika di kampung sendiri tidak ada lapangan pekerjaan, maka merantau menjadi pilihan yang tepat. Dengan bekerja, kita bisa hidup mandiri. Ke depannya, kita akan punya keluarga sendiri dan harus mandiri, tidak lagi meminta kasih sayang orang tua.
Ketika kita sudah bekerja, tentu saja suka duka selalu datang membelenggu. Salah satunya pekerjaan yang banyak dan menumpuk, atasan atau bos yang galak, dan pekerjaan yang rumit serta menguras energi. Itulah hal-hal yang dialami oleh banyak pekerja.
Kesemuanya itu dapat diatasi dengan liburan ataupun mudik untuk bertemu sanak keluarga, melepas kepenatan dan kerinduan yang mendalam di kampung halaman. Dalam benak kita, setiap pekerjaan itu memang memberi rasa lelah, capek, bahkan putus asa. Andai saja ada tempat untuk bercerita, yakni orang tua, maka itu sangatlah membahagiakan.
Tetapi apa? Jarak membuat kita sulit untuk mencurahkan lelah, penat, dan kerinduan kepada orang tua. Biasanya orang tua suka bercanda, tertawa, dan memberi nasihat, tetapi sekarang semuanya hanya melalui jarak jauh. Hal itu masih kurang. Pelukan dan nasihat orang tua adalah vitamin mujarab yang mampu memberi semangat lebih, mengembalikan energi dan pikiran setiap hari untuk menyambut pagi dengan kesibukan kerja.
Dari hal tersebutlah, maka banyak orang tidak merasakan kenikmatan dan kebahagiaan bila jauh dari rumah dan orang tua. Rasa-rasanya ingin mudik lebih lama di kampung halaman. Rasanya tidak ingin kembali ke perantauan karena akan dikejar oleh kesibukan yang amat luar biasa.
Hal itulah yang membuat banyak orang ketika kembali ke perantauan setelah libur selesai, rasa malas itu selalu datang. Malas untuk bekerja. Butuh adaptasi lagi. Energi kembali ke nol lagi dan perlu **di-**charge lebih lama agar kembali seperti sediakala.
Tuntutan untuk Bekerja Cepat dan Efektif
Dalam dunia kerja, kita selalu diminta untuk bekerja cepat dan efektif. Namun, entah kenapa, setelah balik dari mudik sepertinya segalanya telah hilang. Terkadang, data-data yang sudah kita buat dan simpan, tidak tahu entah di mana. Kemarin, kita bekerja efektif dan cepat, namun ketika dituntut untuk hal tersebut, rasanya sulit.
Kepala rasanya kosong dan bingung. Pada kondisi itu, kita bisa terkena teguran. Malah teguran itu dapat membuat mood menjadi jelek. Bahkan hal itu akan mengorbankan pendapatan kita dari gaji yang tiap bulannya kita terima. Padahal, kita masih butuh uang untuk hidup dan menabung lagi buat mudik di tahun berikutnya.
Dari hal tersebutlah kita diajak untuk kembali efektif dan cepat bekerja. Atasan tidak mau tahu apa yang kita alami, paling penting kita memenuhi target yang sudah ada. Benar-benar sangat menyulitkan dan membingungkan.
Meskipun demikian, semoga saja setelah mudik usai kita bisa cepat beradaptasi lagi. Kita bisa efektif dan cepat bekerja. Harapannya, tenaga dan pikiran masih dapat kita kendalikan. Rasa takut dan lelah bisa kita lawan demi proses kehidupan yang lebih baik ke depannya. Apa pun rintangannya, kita punya masa depan yang harus diwujudkan. Itulah sebagai semangat juang kita saat ini. Jangan pernah lelah untuk produktif dan untuk lebih bijaksana. Semoga kita dapat mudik lagi dengan tabungan yang lebih banyak lagi tahun depan.
Baca Juga
-
Pentingnya Sebuah Kesadaran: Menilik Teguran Kepada Konten Kreator di IKEA
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Pendidikan Gratis dan Perspektif Salah Soal Sekolah Gratis
-
Berjuang untuk Pendidikan Anak, Meski Tanpa Sekolah Gratis
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
Artikel Terkait
-
Menhub Minta Truk Logistik Tahan Operasi Saat Puncak Arus Balik Lebaran
-
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Tiba, Catat 3 Tanggal Aman Bebas Macet Ini
-
Arus Balik Lebaran, Ribuan Penumpang Tiba di Jakarta Lewat Terminal Kampung Rambutan
-
Transjakarta Perbanyak Armada di Stasiun dan Terminal Selama Arus Balik Lebaran
-
Arus Balik Meningkat, Korlantas Berlakukan One Way hingga Contraflow
Kolom
-
Dari Sangkar ke Rekening: Jalan Sunyi Side Hustle Jual Beli Burung
-
Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?
-
Privasi Semakin Tipis di Era Digital: Ketika Hidup Jadi Konsumsi Publik
-
Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?
-
Sebagai Santri, Saya Marah: Pelecehan Tak Boleh Dinormalisasi di Pesantren
Terkini
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Raja Antioksidan! 4 Masker Astaxanthin untuk Lawan Penuaan dan Flek Hitam
-
Teach You a Lesson Rilis Jadwal Tayang, Drama Aksi Terbaru Berlatar Sekolah
-
Jadi Dokter Bedah Plastik, Intip Karakter Lee Jae Wook di Doctor on the Edge
-
Bosan Desain TWS Itu-itu Aja? Realme Buds T500 Pro Bawa Desain Kotak Permen