Pendidikan merupakan kewajiban yang harus diberikan pemerintah kepada rakyat dan menjadi hak rakyat untuk mendapatkannya. Norma mengenai pendidikan menjadi tanggungjawab pemerintah sudah diatur dalam UUD 1945 sebagai aturan tertinggi di negara kita.
Namun, dalam kesempatan ini, meskipun pendidikan belum merata didapatkan oleh anak bangsa bukan berarti anak tidak perlu sekolah dan tidak perlu berpengetahuan. Meskipun sekolah gratis masih belum nyata namun pendidikan bukan berarti hilang. Bagaimanapun, keluarga atau orang tua terus mencari cara bagaimana anaknya mendapatkan pendidikan dasar, menengah, dan sampai pendidikan tinggi.
Filosofi dalam adat Bpatak
Dalam kesempatan ini, saya ingin sedikit menyampaikan filosofi dalam adat Batak yang sampai sekarang masih dipegang teguh, yakni anakon hi do hamoraon diau, artinya anakku adalah kekayaanku. Dalam artian bahwa anak itu adalah kekayaan yang setinggi-tingginya. Maka jangan heran bila dalam adat Batak, anak akan diperjuangkan dan diusahakan untuk sukses dengan cara berpendidikan tinggi.
Bagi orang Batak, pendidikan itu sangat penting. Tanpa pendidikan maka anak tidak akan cerdas, sukses dan tidak dapat membanggakan keluarganya. Pendidikan itu adalah hak dasar yang wajib dipenuhi. Kita bisa melihat, membaca maupun mendengar cerita dari keluarga, rekan kerja maupun teman-teman kita orang Batak bahwa meskipun hidup miskin, orang tua dalam suku Batak akan mengusahakan anaknya untuk sekolah bahkan sampai bangku kuliah.
Sudah banyak cerita yang tersebar di media bagaimana anak Batak dapat berprestasi di bangku kuliah padahal orang tuanya hanya seorang petani. Bahkan, orang tua akan mengusahakan seperti: meminjam uang kepada keluarga dan akan melunasinya cepat dengan bekerja keras setiap hari. Hasil usaha bertani yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan mampu melunasi pinjaman tadi. Dan, hal tersebut nyata adanya.
Orang tua dalam suku Batak tidak akan pernah lelah dan mensia-siakan keinginan anak untuk mendapatkan pendidikan. Orang tua begitu yakin bahwa hasil usahanya sebagai seorang petani akan berbuah manis dan membawa anaknya pada kesuksesan. Dan, senada dengan itu si anak akan menjadi sosok yang membanggakan bagi seluruh keluarga.
Pengalaman saya pun demikian, bagaimana kami 4 (empat) bersaudara dan orang tua tergolong orang yang mampu, namun kami berempat disekolahkan sampai sarjana bahkan orang tua saya pernah berkata begini: "Kamu mau sekolah lagi ambil S2 dan S3? Bapak sama Mamak masih mampu kok, kalau kamu mau". Lanjutnya, "Jangan pikirkan yang lain, untuk makan sehari-hari tenang aja, tinggal diirit-irit saja". Begitulah yang pernah terucap dari orang tua saya. Itu membuktikan bahwa orang tua sangat menginginkan anaknya berpendidikan tinggi karena itu kunci utama untuk sukses. Ketika anaknya mau untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi maka orang tua pasti siap untuk memenuhinya.
Kesetaraan
Dalam adat Batak, pendidikan itu diberikan dengan sebuah kesetaraan. Antara anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam pendidikan. Tidak ada pembedaan sama sekali. Jika anak perempuan mau untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi maka orangtua akan senang hati dalam mewujudkan niat itu.
Disitulah konsep kesetaraan gender yang selalu dijaga oleh adat Batak. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita pernah menjumpai atau mendengar, bagaimana sosok perempuan diidentikkan dengan pekerjaan di dapur maupun dirumah serta menjaga anak-anak saja ketika sudah berkeluarga. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan dapat jabatan yang tinggi. Seakan-akan perempuan itu tidak boleh lebih dari seorang laki-laki. Konsep berpikir seperti itu tentu salah dan tidak lagi dibenarkan. Kesetaraan gender itu harus dijaga. Peran perempuan dalam masyarakat dan negara harus memiliki pengaruh yang signifikan, caranya dengan berpendidikan tinggi.
Dalam keluarga Batak, laki-laki dan perempuan harus membanggakan orang tua dan keluarga lainnya. Ketika dewasa, bekal pendidikan tinggi dapat digunakan untuk mencari kerja, memiliki skill dan berguna ketika sudah menikah. Kerja keras orang tua di kampung untuk anak-anaknya harus juga diaplikasikan dalam keluarga kecil mereka. Anak-anak mereka juga harus sekolah tinggi dan orang rua harus bekerja keras untuk pendidikannya. Dengan kata lain, secara turun-temurun budaya tersebut terus dijaga. Kesuksesan anak adalah harta berharga bagi orang tua.
Perjuangan orang tua untuk pendidikan anak sangat luar biasa. Oleh karenanya, jika tidak ada sekolah gratis dari pemerintah, maka orang tua akan berjuang dengan usaha dan doa agar anaknya dapat bersekolah. Melihat kondisi tersebut, semoga saja orang tua lainnya pun berjuang demikian. Kita tetap bersuara agar ada sekolah gratis namun jangan pernah menyerah bila tidak ada sekolah gratis. Masa depan gemilang bagi anak bangsa dapat diraih dengan pendidikan yang baik.
Pendidikan itu adalah sarana menuju pada sebuah kemajuan, baik dalam berpikir dan bertindak. Di era modern sekarang, pendidikan yang baik dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Mari kita berikan pendidikan buat anak bangsa. Inilah saatnya pemerintah kita terus mengupayakan anak-anak mendapatkan pendidikan yang merata.
Baca Juga
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
-
Susah Cari Jodoh Secara Langsung? Mengapa Media Sosial Jadi Solusi di Era Digital
-
Warung Kopi: Ruang Nyaman untuk Mencari Ide dan Merayakan Hidup
-
Berhenti Terjebak di Gedung Gersang: Saatnya Merasakan Manfaat Berteduh di Bawah Pohon Rindang
-
Perang Bukan Solusi: Menilik Pesan Nostra Aetate di Tengah Perseteruan AS-Iran
Artikel Terkait
Kolom
-
Kuota, Sinyal, dan Ketimpangan yang Tak Pernah Masuk Kebijakan
-
Hak atas Pendidikan dan Biaya Tersembunyi yang Melanggarnya
-
Kerja Keras, tapi Kurang Diakui: Nasib Perempuan di Dunia Profesional
-
Membongkar 'Biaya Siluman' Pendidikan: Dari Tingkat Sekolah hingga Kampus
-
Mahalnya Harga Pendidikan: Ketika Pengorbanan Menjadi Satu-satunya Jalan
Terkini
-
Bongkar Dualisme Film Para Perasuk
-
Merah Bara Biru Beku, Kupas Bahasa Warna dalam Film Kupilih Jalur Langit
-
Mengingat yang Dilupakan: Kisah Segara Alam dan Bayang-Bayang 1965
-
Perdana Tayang, Film Michael Raup 39,5 Juta Dolar di Box Office Domestik
-
Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir