Sebagai anak yang lahir di keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, saya sering mendengar bahwa kebahagiaan itu mahal. Termasuk hal-hal sederhana, seperti: jalan-jalan di akhir pekan, makan malam di luar, atau mencoba hal baru dianggap sebagai sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika memiliki uang lebih.
Ketika beranjak dewasa, doktrin tentang mahalnya kebahagiaan itu masih terbawa pada saya dan saudara yang lain. Suatu ketika, saat saya memberi kabar akan berangkat berlibur ke luar kota bersama teman-teman di asrama—karena biayanya lebih murah dibandingkan jika berangkat sendiri—pada seseorang, saya justru mendapat respon tak terduga dan ditanya perihal keuangan: “Emang kamu udah punya banyak uang lebih, ya, buat ikut liburan?”
Kalimat itu terdengar cukup menyakiti. Tetapi saya memilih tak ambil pusing. Sebab yang terpikirkan saat itu, saya hanya ingin merasakan sesuatu yang sejak kecil terasa jauh: mencoba hal baru tanpa harus terlalu banyak berpikir tentang biaya.
Akhirnya, saya tetap berangkat dengan menggunakan uang beasiswa yang memang sejak awal disapkan untuk ikut kegiatan ini. Namun seiring waktu, pertanyaan tentang keuangan tadi terus terngiang di benak saya. Hingga lahir pertanyaan lainnya. Apakah sebegitu mahalnya untuk merasakan kebahagiaan sebentar saja sampai harus memiliki banyak uang dulu baru berhak mendapatkannya?
Di titik ketika saya menulis artikel ini, saya merasa mulai sedikit memahami jawabannya. Tentang kondisi yang dialami orangtua saya hingga menganggap kebahagiaan mahal harganya, juga tentang definisi kebahagiaan yang saya lihat pada orang lain dan pernah begitu saya idam-idamkan.
Ada banyak hal yang bisa membuat orang merasa bahagia. Duduk santai di kafe sambil menikmati minuman favorit, pergi jalan-jalan singkat di akhir pekan, membeli buku yang sudah lama diinginkan, atau sekadar menikmati makan malam di luar setelah minggu yang melelahkan. Sekilas, semua itu terdengar sederhana dan biasa saja bagi banyak orang. Namun, dalam realitas tertentu, kebahagiaan semacam itu justru menjadi sesuatu yang harus dipikirkan berkali-kali.
Seperti itulah yang terjadi pada orangtua saya. Pada dasarnya, mereka juga ingin menikmati semua itu tanpa berpikir banyak soal biaya. Namun di sisi lain, ada hal lebih penting yang harus didahulukan. Makan sehari-hari, pembayaran listrik, biaya pendidikan, dan berbagai pengeluaran untuk kebutuhan pokok lainnya menjadi prioritas utama. Di tengah keterbatasan itu, melakukan sesuatu yang menyenangkan—seperti hal-hal yang sudah saya sebutkan tadi—sudah pasti berada di urutan terakhir atau bahkan mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran. Sebab di suatu masa, bisa makan cukup saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Sementara generasi muda hari ini—termasuk saya—dihadapkan pada standar sosial yang begitu tinggi. Tampilan media sosial yang seringkali menggambarkan kebahagiaan yang tampak mudah dijangkau. Foto liburan, nongkrong di tempat estetik, membeli barang baru, hingga pengalaman menarik lainnya muncul setiap hari. Tanpa disadari, hal tersebut membentuk standar bahwa kebahagiaan sangat identik dengan aktivitas tertentu yang sering kali membutuhkan biaya.
Ketika realitas tidak memungkinkan, muncul perasaan tertinggal. Bukan karena tidak ingin mencoba, tetapi karena kondisi tidak selalu mendukung. Akibatnya, kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang harus ditunda sampai situasi finansial lebih stabil. Sayangnya, stabilitas itu sendiri tidak selalu datang dalam waktu cepat.
Di tengah kondisi tersebut, saya mencoba menyesuaikan kembali definisi bahagia. Kondisi ekonomi keluarga memang sudah membaik, kondisi keuangan pribadi juga lebih baik meski belum bisa dikatakan stabil. Namun semakin dewasa, saya mulai paham bahwa kebahagiaan tidak selalu harus mahal, tetapi pengalaman hidup bisa membuatnya terasa mahal bagi sebagian orang.
Kini, saya mencoba menemukan bentuk kebahagiaan yang lebih sederhana. Menonton film di rumah dengan memanfaatkan wiFi, berjalan pagi menikmati udara segar dan menyaksikan keindahan matahari terbit di area persawahan, mendengarkan musik dan bernyanyi sesuka hati, menulis hal-hal yang terlintas di pikiran, atau sekadar menikmati waktu tenang tanpa distraksi. Semua itu terasa lebih realistis dibandingkan membayar ratusan ribu untuk kebahagiaan yang hanya berlangsung sebentar.
Sobat Yoursay, pada akhirnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat relatif. Setiap orang berhak memberikan definisi dan menikmatinya dengan cara masing-masing. Mungkin benar, uang memang bisa membatasi cara seseorang untuk bahagia. Namun di tengah keterbatasan itu, selalu ada ruang kecil yang bisa ditemukan—ruang yang mengingatkan bahwa bahagia tidak selalu tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana seseorang memilih menikmatinya.
Baca Juga
-
Review Dear X: Senyum Manis Seorang Aktris dengan Sisi Gelap Mematikan
-
Review The Defects: Ketika Anak Bisa 'Diretur' seperti Barang Rusak
-
Bukan soal Nominal, Ini Alasan Pentingnya Menghargai Nilai dari Uang Kecil
-
Ketika Momen Sesederhana Foto Keluarga di Hari Lebaran Terasa Mewah
-
Pelajaran Kehidupan dan Pencarian Jati Diri di Drama Our Unwritten Seoul
Artikel Terkait
Kolom
-
Konten 'Back to Reality' di Media Sosial dan Narasi Kolektif Pasca Lebaran
-
Drama Sekolah Daring April 2026: Kebijakan Bijak atau Sekadar Tes Ombak?
-
Paradoks Wisata Libur Lebaran: Berangkat Cari Ketenangan, Pulang Bawa Pegal Linu Sekujur Badan
-
Dari Eco-Pesantren Hingga Teologi Hijau: Cara NU dan Muhammadiyah Mengubah Iman Jadi Aksi Lingkungan
-
Digeber 80 Ribu Cabang, tapi Sepi Pembeli: Ironi Koperasi Merah Putih?
Terkini
-
Kebrutalan Era Dinasti Joseon 1506 di Novel A Crane Among Wolves
-
Review Dear X: Senyum Manis Seorang Aktris dengan Sisi Gelap Mematikan
-
Review Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara: Tutorial Jadi Badut Hubungan yang Tetap Elegan
-
Ulasan Novel Kerumunan Terakhir, Pudarnya Batas Realitas Kehidupan
-
Nostalgia Orde Baru: Mengenang Masa Ketika TVRI Jadi Satu-Satunya Jendela Piala Dunia