FOMO atau fear of missing out alias ketinggalan tren tidak selalu berkonotasi buruk, apalagi FOMO terhadap buku. Yang terjadi pada saya akhir tahun 2025 yaitu karya-karya George Orwell yang berseliweran di beranda IG. Setelah membaca Animal Farm, buku yang saya baca selanjutnya adalah 1984. Buku paling mengerikan karena begitu membuka halaman random saja, isinya seperti ini: slogan, “Perang adalah perdamaian, kebebasan adalah perbudakan, ketidaktahuan adalah kekuatan.”
Sinopsis mengikuti keseharian jalannya pemikiran tokoh utama dalam kisah ini, yaitu Winston Smith yang mendambakan kebebasan. Seorang pekerja di kementerian negara dengan job description pengubah masa lalu, artinya mengubah berita yang terjadi pada masa lalu sesuai dengan pesanan atasan. Tinggal di sebuah negara totalitarian dalam pengawasan Big Brother melalui alat bernama teleskrin. Pembangkangan sedikit pun akan termasuk sebuah dosa.
Novel distopia ini membawa kita terjebak dalam negara superpower Oseania, sebuah wilayah totaliter di bawah pengawasan absolut Big Brother yang wajahnya terpampang di mana-mana, mulai dari dinding jalanan hingga botol vodka, sementara di tengah kengerian itu, Winston Smith menemukan titik terang perlawanan melalui hubungan asmara rahasia dengan Julia serta pertemuannya dengan O'Brien yang diyakini sebagai anggota gerakan bawah tanah bernama Persaudaraan. Keyakinan Winston semakin kuat ketika O'Brien memberikan buku terlarang karya musuh negara, Emmanuel Goldstein, sebagai syarat mutlak bagi mereka untuk membedah taktik penindasan partai sebelum akhirnya diangkat menjadi anggota penuh organisasi pemberontak yang bercita-cita menggulingkan kediktatoran tersebut.
Big Brother dalam novel ini tidak pernah hadir, tetapi gambarnya dipajang dengan poster besar yang mengawasi di mana-mana sebagai pengingat pengaruhnya yang ada di mana-mana. Saya sendiri menggambarkannya dalam imajinasi saya sebagai Stalin pada masa pemerintahan Uni Soviet.
Ketakutan tumbuh dan memaksa warga untuk menyesuaikan diri dengan ideologi partai. Di alun-alun, kebebasan dihukum gantung juga ditontonkan secara umum, bahkan anak-anak dianjurkan menonton. Sangat mengerikan, siapa pun boleh menjadi mata-mata: orang tua, tetangga, anak-anak, bahkan hati kita sendiri mengkhianati pemiliknya.
Winston berkali-kali membangkang dalam pikiran; dia benci Bung Besar. Namun, pembangkangan sekecil apa pun tidak akan pernah lolos dari sensor Polisi Pikiran. Partai tidak hanya mendikte tindakan, tetapi juga pikiran.
Hidup di negara sosialis memang semua sudah mendapat jatah, seperti cokelat, teh, dan tembakau, sekalipun. Namun, tetap saja kelas pekerja hidup dalam kemiskinan. Tidak ada kesejahteraan atau yang digembar-gemborkan penguasa sebagai kesetaraan.
Di sini sejarah ditulis ulang menggunakan bahasa Newspeak, menghapus kata-kata dari Oldspeak, menghancurkan ingatan dengan ideologi INGSOC-nya, menulis ulang sejarah, merumuskan bahasa melalui Newspeak, dan bahkan berusaha mengontrol emosi manusia. Pembatasan ekspresi lewat simplifikasi bahasa ini mengakibatkan semakin tertutupnya ruang untuk mengembangkan pikiran-pikiran kritis yang dapat mengancam partai. Tujuannya jelas untuk memantapkan pemerintahan yang totalitarianisme dan membatalkan oposisi agar tidak bisa berkembang. Demi mewujudkan hal tersebut, maka diciptakan dan dikembangkanlah sebuah bahasa baru bertajuk Newspeak.
Kebebasan yang sedikit demi sedikit didapatkan oleh Winston Smith ternyata hanyalah harapan semu karena plot twist dalam novel ini sangat luar biasa sekali. Semua bisa menjadi pengkhianat, termasuk hati Winston sendiri.
Pembangkangan terhadap partai ditindaklanjuti secara langsung, mulai dari pembuangan hingga Kamar 101. Metode penyiksaan tidak lagi diterapkan karena hanya akan melahirkan martir-martir baru, berkaca pada orang-orang murtad abad kegelapan.
Konsekuensi dari perlawanan Winston terhadap partai diperlihatkan secara gamblang lewat proses pencucian otak. Cara ‘penyembuhan’ yang digunakan ialah mengubah paradigma sambil membiarkan si pesakitan merasa dihina, direndahkan, sampai ia merasa tak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya diprogram ulang, bukan sekadar memasukkan kesadaran baru, tetapi keyakinan baru.
Pengkhianatan pun tak pelak terjadi pada hubungan yang tadinya berlandaskan cinta dan diyakini tak bisa diambil dari dirinya. Hingga pada akhirnya, dengan sepenuh kesadaran, Winston merasakan cintanya kepada Bung Besar.
Novel 1984 tidak hanya menghadirkan kengerian tentang pengawasan dan kontrol pikiran, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang ideologi itu sendiri. Beberapa pendapat mengatakan ini buku kiri. Mungkin yang mengatakan belum membacanya. Jika sudah dibaca, ini justru kritik terhadap kiri itu sendiri. Bagaimana kenyataannya jika sosialisme-komunisme benar-benar berjalan sebagai ideologi negara? Nyatanya, kaum buruh juga sama saja hidup dalam kemiskinan. Kebebasan yang dijanjikan berubah menjadi ilusi, dan kesetaraan yang digembar-gemborkan justru melahirkan ketakutan serta penyeragaman yang mematikan.
Identitas Buku
Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Landung Simatupang
Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-291-234-7
Baca Juga
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Jika 1984 Adalah Dunia yang Dikendalikan, Lalu Apa Itu Dunia dalam IQ84?
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
-
Pahlawan Tanpa Tanda Tangan: Menertawakan Hal-Hal Kecil di Sekitar Kita
Artikel Terkait
-
Gerundelan Penulis Kere: Kontradiksi Idealisme dan Hegemoni Kapitalisme
-
Adopsi Strategi Mao Zedong, Rahasia 'Pertahanan Mosaik' Iran yang Bikin AS-Israel Pusing
-
Menelanjangi Gengsi Penjajah dan Derita Si Miskin dalam Esai George Orwell
-
Michael Carrick Beri Kode Keras Manchester United Segera Berburu Winger Kiri Baru
-
Mengapa Ayatollah Ali Khamenei Sering Gunakan Tangan Kiri? Ini Kisah Tragis di Baliknya
Ulasan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Ulasan Drakor Snowdrop: Debut Akting Jisoo Blackpink yang Tercoreng Kontroversi
-
Ketika Mengompol Jadi Cerita Lucu: Ulasan How to Pee Your Pants
-
Di Antara Pelarian, Prasangka, dan Cinta dalam Novel Honor Bound
-
Review Bartender Glass of God: Mengobati Luka Jiwa Lewat Segelas Koktail
Terkini
-
Indonesia Dapat Kategori E untuk Kesejahteraan Hewan, Kok Bisa?
-
Fenomena Lifestyle Inflation: Saat Pendapatan Bertambah Tapi Dompet Tetap Menjerit
-
5 Serum Kombinasi Peptide dan Retinol untuk Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
-
Politik Burung Unta Pemerintah: Ilusi Keberhasilan yang Menutup Realita
-
Netflix Umumkan Anime Baru hingga Tanggal Tayang Cyberpunk: Edgerunners 2