Terhitung mulai Juli 2025, aku lulus dan menyandang gelar S.Si. Agustus aku wisuda, dan sampai detik ini aku masih belum mendapatkan pekerjaan.
Ya, aku baru sadar ternyata sangat sulit bekerja di laboratorium walaupun aku lulusan kimia, khususnya untuk perempuan. Banyak perusahaan yang khawatir soal risiko bahan kimia terhadap perempuan (takut berdampak pada kesehatan sehingga mandul), jadi mereka lebih memilih laki-laki. Namun, tidak semua perusahaan begitu.
Di Medan, selama itu aku cari kerja. Tetapi, kebanyakan perusahaan terlihat memakai koneksi. Bukan berarti koneksi itu salah; mungkin memang aku saja yang kurang koneksi. Singkat cerita, aku memutuskan kembali ke kota kelahiranku: Batam, tempat aku menghabiskan 19 tahun sekaligus kota UMK tertinggi kedua di Indonesia.
Tetapi, Batam sekarang berubah. Jalan sudah lebar, bahkan sampai lima lajur. Perusahaan makin banyak. Investasi dari Singapura dan Malaysia juga masuk. Aku sempat berpikir, karena KTP-ku Batam, mungkin ini privilege.
Ternyata tidak semudah itu.
Culture shock terbesarku adalah harga.
Suatu hari aku mau beli ayam penyet—ayamnya saja, karena nasi sudah masak di kos.
"Bang, ayam satu saja berapa?"
"16 ribu, Kak, kalau ayam penyet."
Aku langsung bengong. "16, Bang? Ayamnya aja? Ayam doang ini, kan?"
Abangnya makin yakin lagi menjawab, "Iya, Kak, 16."
Detik itu juga aku ingin batal beli. Akhirnya aku pakai trik pura-pura menelepon (ini jangan ditiru, ya, hanya saat terdesak), lalu jalan cepat sambil menahan malu.
Ujung-ujungnya aku beli mi ayam 13 ribu.
Buat yang mengira aku tidak dikasih uang oleh orang tua, sebenarnya orang tuaku punya usaha kos-kosan di Batam. Aku kadang dititipi uang kos dari anak-anak kos. Tetapi, waktu itu aku tidak enak minta duluan ke Ayah karena ATM-nya lagi hilang, jadi aku menunggu uang dari anak kos.
Masalahnya, ada yang telat bayar sampai lima hari.
Uangku tinggal 200 ribu—100 dari Ayah untuk jaga-jaga, 100 dari tabunganku. Seminggu itu aku cuma masak telur dan sayur. Bahkan aku puasa tiga hari, jadi hitungannya dalam tiga hari cuma makan sekali.
Sesampai di tempat mi ayam langgananku, Bude penjualnya bilang, "Loh, kok kurusan sekarang?"
Aku cuma jawab, "Biasalah, Bude, anak kos."
Padahal kalau dipikir-pikir ... miris juga, ya.
Di Medan, 500 ribu bisa cukup dua minggu dan masih bisa makan enak (ayam penyet 12 ribu sudah pakai nasi). Di Batam, 500 ribu cuma cukup seminggu lebih sedikit.
Akhirnya aku memutuskan menaikkan uang bulanan kepada Ayah karena bisa-bisa aku melarat akhir bulan. Dan aku hanya bisa berbicara kepada Tuhan, "Tuhan, tidak apa-apa kalau aku kurusan, yang penting masih bisa makan hari ini."
Karena jujur, aku merasa tidak enak jadi beban orang tua. Jadi bersyukur saja dengan apa yang ada.
Cerita ini mungkin relate buat beberapa orang yang merantau ke kota besar, lalu tiba-tiba punya survival skills entah dari mana—kayak aku ini. Who knows.
Baca Juga
-
Tupi dan Wajah Muram Legendaris Penyelamat Hutan Rindang
-
Berburu Kuliner Legendaris di Batam: Kelezatan Mie Tarempa dan Luti Gendang
-
Saat Keni Belajar Berkata Tidak
-
Lontong Medan: Kuliner "Ramai" yang Bikin Rindu, Wajib Ada Mi!
-
Bukan Cuma Juara 1 Jaringan, Ini Alasan Saya Setia Pakai XL Sejak Dahulu
Artikel Terkait
-
Serbuan Perantau Pasca Lebaran: Jakarta Masih Jadi Ladang Emas atau Jebakan Kemiskinan?
-
Puncak Arus Balik Lebaran Kawasan Belawan-Batam
-
5 Motor Bekas Tangguh di Bawah Rp10 Juta untuk Perantau yang Mau Cari Kerja di Jakarta
-
25 Kata-Kata Bijak Perjuangan Perantau Pulang Mudik Demi Keluarga
-
Kisah Haru Perantau Asal Madura: Gaji Tak Dibayar, Tetap Berjuang Mudik demi Keluarga
Kolom
-
Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Menjeda Rutinitas Sejenak, Menemukan Kebahagiaan Sederhana di Tempat Camping
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
Terkini
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
-
Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah