M. Reza Sulaiman | Rahel Sembiring
ilustrasi warung pecel lele ayam penyet (Google review/Grace Supatra)
Rahel Sembiring

Terhitung mulai Juli 2025, aku lulus dan menyandang gelar S.Si. Agustus aku wisuda, dan sampai detik ini aku masih belum mendapatkan pekerjaan.

Ya, aku baru sadar ternyata sangat sulit bekerja di laboratorium walaupun aku lulusan kimia, khususnya untuk perempuan. Banyak perusahaan yang khawatir soal risiko bahan kimia terhadap perempuan (takut berdampak pada kesehatan sehingga mandul), jadi mereka lebih memilih laki-laki. Namun, tidak semua perusahaan begitu.

Di Medan, selama itu aku cari kerja. Tetapi, kebanyakan perusahaan terlihat memakai koneksi. Bukan berarti koneksi itu salah; mungkin memang aku saja yang kurang koneksi. Singkat cerita, aku memutuskan kembali ke kota kelahiranku: Batam, tempat aku menghabiskan 19 tahun sekaligus kota UMK tertinggi kedua di Indonesia.

Tetapi, Batam sekarang berubah. Jalan sudah lebar, bahkan sampai lima lajur. Perusahaan makin banyak. Investasi dari Singapura dan Malaysia juga masuk. Aku sempat berpikir, karena KTP-ku Batam, mungkin ini privilege.

Ternyata tidak semudah itu.

Culture shock terbesarku adalah harga.

Suatu hari aku mau beli ayam penyet—ayamnya saja, karena nasi sudah masak di kos.

"Bang, ayam satu saja berapa?"

"16 ribu, Kak, kalau ayam penyet."

Aku langsung bengong. "16, Bang? Ayamnya aja? Ayam doang ini, kan?"

Abangnya makin yakin lagi menjawab, "Iya, Kak, 16."

Detik itu juga aku ingin batal beli. Akhirnya aku pakai trik pura-pura menelepon (ini jangan ditiru, ya, hanya saat terdesak), lalu jalan cepat sambil menahan malu.

Ujung-ujungnya aku beli mi ayam 13 ribu.

Buat yang mengira aku tidak dikasih uang oleh orang tua, sebenarnya orang tuaku punya usaha kos-kosan di Batam. Aku kadang dititipi uang kos dari anak-anak kos. Tetapi, waktu itu aku tidak enak minta duluan ke Ayah karena ATM-nya lagi hilang, jadi aku menunggu uang dari anak kos.

Masalahnya, ada yang telat bayar sampai lima hari.

Uangku tinggal 200 ribu—100 dari Ayah untuk jaga-jaga, 100 dari tabunganku. Seminggu itu aku cuma masak telur dan sayur. Bahkan aku puasa tiga hari, jadi hitungannya dalam tiga hari cuma makan sekali.

Sesampai di tempat mi ayam langgananku, Bude penjualnya bilang, "Loh, kok kurusan sekarang?"

Aku cuma jawab, "Biasalah, Bude, anak kos."

Padahal kalau dipikir-pikir ... miris juga, ya.

Di Medan, 500 ribu bisa cukup dua minggu dan masih bisa makan enak (ayam penyet 12 ribu sudah pakai nasi). Di Batam, 500 ribu cuma cukup seminggu lebih sedikit.

Akhirnya aku memutuskan menaikkan uang bulanan kepada Ayah karena bisa-bisa aku melarat akhir bulan. Dan aku hanya bisa berbicara kepada Tuhan, "Tuhan, tidak apa-apa kalau aku kurusan, yang penting masih bisa makan hari ini."

Karena jujur, aku merasa tidak enak jadi beban orang tua. Jadi bersyukur saja dengan apa yang ada.

Cerita ini mungkin relate buat beberapa orang yang merantau ke kota besar, lalu tiba-tiba punya survival skills entah dari mana—kayak aku ini. Who knows.