Belanja online kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban yang menginginkan cara berbelanja praktis dan efisien.
Hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, kebutuhan sehari-hari hingga barang keinginan dapat tiba di depan rumah tanpa harus keluar ongkos dan susah payah menghadapi kemacetan.
Namun di balik kemudahan itu, ada persoalan lingkungan yang semakin nyata, yakni meningkatnya sampah plastik dari kemasan paket yang kita beli.
Sebagai orang yang mengikuti tren belanja online selama beberapa tahun terakhir, saya pun menyadari banyaknya sampah yang tersisa setelah paket dibuka.
Mungkin awalnya terlihat biasa saja, tapi kok lama kelamaan sampah belanja online mulai dari kardus, bubble wrap, plastik pembungkus, hingga lakban makin menumpuk di rumah dan tanpa sadar ikut menyumbang persoalan limbah sampah.
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang, Cikiwul, Bekasi, Jawa Barat
Tak sampai di situ saja nih guys, permasalahan semakin kompleks saat perilaku hidup konsumtif makin sulit dikendalikan karena banyaknya promo-promo menggiurkan yang biasanya ditawarkan pada tanggal kembar atau flash sale yang menawarkan harga menarik hingga memengaruhi keinginan belanja para individu, tak terkecuali saya yang memang juga gemar belanja barang diskonan.
Kalau sudah begini, rasanya kita harus segera mengambil langkah tegas untuk tetap menjaga lingkungan dengan menanggulangi sampah belanja online.
Mirisnya, sampah-sampah yang selama ini dihasilkan dari berbagai aspek, hanya sedikit saja yang bisa dikelola dengan optimal.
Berdasarkan data terverifikasi yang dirilis situs Kementerian Lingkungan Hidup, hanya sebesar 24,69 persen atau sekitar 25 persen sampah yang bisa dikelola dari target 100 persen di tahun 2025 lalu.
Sementara sisanya sebesar 75 persen sampah belum terkelola yang bisa mencemari lingkungan dan bumi yang kita tempati saat ini.
Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita lakukan demi meningkatkan kesadaran atau awareness dalam mengurangi sampah dari belanja online?
Meski tidak mudah, namun hal tersebut bukan berarti tidak bisa diubah. Semua itu bisa dimulai dari kebiasaan kecil saat berbelanja hingga setelah paket tiba di rumah.
1. Beli karena Butuh, Bukan karena Ingin
Banyaknya tawaran promo di tanggal kembar dan akhir bulan biasanya sering membuat kita kalap karena tergiur harga murah. Padahal, barang diskonan tersebut belum tentu kita butuhkan dan tak jarang akan berakhir menjadi tumpukan barang yang tak terpakai.
Oleh sebab itu, penting bagi kita agar sebelum memutuskan checkout barang, biasakan bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan?
Karena semakin sedikit pembelian tanpa kebutuhan jelas, semakin sedikit pula sampah kemasan yang dihasilkan. Tentu saja kesadaran ini menjadi langkah awal paling penting dalam mengurangi limbah belanja online.
2. Gabungkan Pesanan dalam Satu Checkout
Hal ini sudah saya lakukan selama bertahun-tahun. Biasanya, setiap bulan, pembelian skincare atau kosmetik menjadi kebutuhan rutin bagi perempuan.
Pilihlah salah satu toko online yang terpercaya yang menyediakan semua skincare atau produk apapun yang kita butuhkan.
Selain lebih praktis, menggabungkan belanjaan dalam satu keranjang dapat mengurangi jumlah kemasan sekaligus menekan frekuensi pengiriman. Cara ini juga membantu mengurangi emisi transportasi logistik.
Dan yang tak kalah penting, kita bisa meringankan pekerjaan kurir yang mengantarkan belanjaan dalam satu kali pengiriman.
3. Tulis Catatan Khusus untuk Penjual
Kolom pesan kepada penjual sering diabaikan padahal bisa dimanfaatkan pembeli untuk meminta penjual agar mengemas barang secukupnya.
Namun hal ini tentu tidak berlaku untuk barang pecah belah yang memang membutuhkan pengemasan ekstra menggunakan buble wrap maupun kardus.
4. Pilih Toko yang Dukung Penanggulangan Sampah
Saat ini mulai banyak toko yang mulai meningkatkan kesadaran dalam menanggulangi sampah. Saya pernah membeli sayur dan keperluan dapur melalui salah satu aplikasi belanja yang cukup ternama.
Menariknya, aplikasi belanja tersebut menyediakan fitur untuk mengembalikan kardus yang digunakan untuk mengirimkan barang pesanan kita. Jadi nantinya di pemesanan berikutnya, kita bisa mengembalikan kardus tersebut kepada kurir untuk digunakan pada pemesanan berikutnya.
Tumpukan sampah belanja online
Ada juga salah satu e-commerce yang juga menerapkan sistem ini. Program yang dinamakan packaging take-back itu dilakukan dengan cara mengembalikan kardus pengiriman dan nantinya setiap 10 kemasan kardus bekas dikonversi menjadi 1 bibit pohon.
Ada juga program Trade In Trees Out yang memungkinkan pelanggan dapat memesan produk dengan fitur tukar tambah juga berkontribusi pada penanaman pohon.
Untuk lebih jelasnya, kalian bisa mencari tahu sendiri ya e-comerce apa yang saya maksud di sini.
5. Beli Produk yang Tahan Lama
Barang dengan harga murah memang sering membuat kita tergiur untuk membelinya, tetapi harga juga tak bisa bohong. Produk dengan harga murah cenderung cepat rusak meski tidak semuanya.
Agar kita bisa mengurangi limbah produk, maka tak ada salahnya menekan frekuensi pembelian dengan barang yang lebih berkualitas agar tak menimbun barang rusak yang akhirnya berakhir di tempat sampah.
Kalau sudah menerapkan hal ini, itu berarti sudah sesuai dengan slogan dalam campaign kali ini “Less Waste More Future”
6. Gunakan Kemasan Kembali
Ketika paket tiba, jangan langsung menyobek kardus atau bubble wrap secara asal. Bukalah dengan hati-hati agar kemasan masih bisa digunakan kembali.
Kardus dan bubble wrap dapat dimanfaatkan untuk penyimpanan barang, pengiriman ulang, pelindung saat pindahan, atau kebutuhan rumah lainnya.
Langkah re-use ini jauh lebih baik daripada langsung membuang kemasan.
7. Sumbangkan ke UMKM
Kemasan yang masih layak pakai dapat diberikan kepada pelaku UMKM atau penjual online kecil yang membutuhkan.
Cara ini membantu mereka menekan biaya operasional sekaligus memperpanjang usia pakai kemasan.
Misalnya, kita punya teman yang memiliki usaha online, nah, tak ada salahnya untuk memberikan mereka kardus atau bubble wrap dari kemasan bekas belanja kita yang masih bisa digunakan.
8. Setor Sampah ke Komunitas Daur Ulang
Kalau di sekitar rumah kalian ada bank sampah, tentunya tak pusing-pusing lagi memikirkan kemana akan membuang sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Tapi bagaimana kalau di sekitar lingkungan kita tak ada bank sampah? Tenang, ada solusinya.
Saat saya sedang mencari informasi soal daur ulang sampah, saya menemukan salah satu komunitas daur ulang yang kredibel dan bisa membantu kita menyelesaikan permasalahan sampah.
Kalian bisa memilih Waste4Change yang bisa memberikan layanan daur ulang yang dikelola melalui sistem transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Material nantinya bisa diolah menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali, bukan hanya dikumpulkan dan dipilah.
Kalian tak perlu khawatir, karena alur material didokumentasikan secara sistematis, dan dapat diverifikasi.
Menariknya, Waste4Change juga menawarkan layanan angkut sampah langsung dari rumah, terjadwal, dan dikelola bertanggung jawab untuk kurangi sampah yang berakhir ke TPA.
Demikian tadi beberapa cara bijak yang bisa dilakukan untuk menanggulangi sampah belanja online.
Setelah membaca artikel ini, apa kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan dengan sampah belanja online kalian? Semoga bermanfaat ya!
Baca Juga
-
Sinopsis A Good Girls Guide to Murder Season 2, Pip Pecahkan Kasus yang Lebih Rumit
-
Avatar The Last Airbender Season 2 Tayang Juni 2026, Intip Sinopsis dan Daftar Pemainnya
-
Tom Kane, Pengisi Suara di Star Wars dan Powerpuff Girls Meninggal Dunia
-
Band Aqua Pelantun Lagu 'Barbie Girl' Umumkan Bubar, Fans 90-an Auto Kehilangan
-
Sinopsis The Crash, Film Dokumenter tentang Kecelakaan Maut yang Gegerkan Amerika Serikat
Artikel Terkait
-
Diskon, Gratis Ongkir, dan Cicilan: Kombinasi yang Sulit Ditolak Gen Z
-
Survei Ipsos 2026: Koneksi ke Platform Belanja Online Kini Jadi Alasan Orang Pilih Bank Digital
-
Greenpeace Sebut Aturan Pilah Sampah DKI Dinilai Belum Cukup, Mengapa?
-
Kampanye Less Waste More Future dan Cara Yoursay Kirimkan Paket yang Bikin Saya Pengin Meniru
-
Budaya Konsumtif Gen Z: Risiko Masa Depan Bumi di Tangan "Generasi Checkout"
Kolom
-
Checkout Dulu, Pikir Belakangan: Tren Paylater di Kalangan Generasi Muda
-
Paylater dan Normalisasi Utang Kecil-Kecil: Kebiasaan Baru Generasi Digital?
-
Sumatra Gelap Gulita, Harta Rp 110 Miliar Dirut PLN Jadi Sorotan Netizen
-
Kenapa Istirahat Laki-laki Dianggap Kebutuhan, Tapi Bagi Perempuan Itu Kemewahan?
-
Gertakan Menkeu Soal Rupiah Rp 15.000: Angin Segar atau Janji Manis?
Terkini
-
The Witness Tayang 4 Juni di Netflix, Angkat Kasus Nyata Rachel Nickell
-
Sinopsis Film The Eyes, Dibintangi Shin Min Ah Tayang Perdana 24 Juni
-
Tamat dengan Rating Tertinggi, We Are All Trying Here Rilis Poster Spesial
-
5 Liquid Blush untuk Kulit Sawo Matang agar Makeup Tampak Lebih Segar
-
Citadel Season 2: Hadir dengan Konspirasi Manticore yang Semakin Rumit!