Sobat Yoursay, pernah nggak sih kalian merasa overthinking saat akan melakukan sesuatu atau setelahnya?
Kalau saya … jujur sering. Contoh sederhananya, saat ada ide yang sebetulnya bisa dijadikan tulisan, kadang berpikir, “Nanti jadinya bagus nggak, ya?” atau “Duh, kayaknya nggak menarik deh.” Akhirnya malah nggak menulis apa-apa.
Lalu saat sudah selesai menulis dan submit di Yoursay, tetapi cukup lama berada di status pending, kadang muncul juga pikiran-pikiran yang cukup mengganggu, “Apa judulnya kurang menarik? Apa isinya nggak bagus? Apa masih ada salah ketik?” dan masih banyak lagi.
Padahal kalau dipikir-pikir, overthinking itu melelahkan. Kita seolah sedang berdialog dengan diri sendiri, memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Alih-alih membuat kita semakin yakin, yang sering kali terjadi malah membuat kita semakin ragu terhadap sesuatu.
Eva Alicia—seorang influencer self-development—dalam salah satu unggahan di kanal YouTube-nya mengatakan kalimat yang menampar kesadaran diri saya. Dia berkata bahwa kita sering kali mengira overthinking sebagai bentuk kehati-hatian. Kita merasa sedang menganalisis risiko, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, bahkan merasa sedang “berpikir matang”. Padahal, tanpa disadari, itu hanya menjadi cara halus untuk menunda tindakan.
Overthinking muncul ketika kita sedang tidak melakukan apa-apa. Saat rebahan, sebelum tidur, atau ketika terlalu lama scrolling media sosial. Pikiran tiba-tiba penuh dengan skenario: bagaimana kalau gagal, bagaimana kalau dinilai orang lain, bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan.
Sebaliknya, saat kita sibuk melakukan sesuatu, pikiran-pikiran itu jarang muncul. Kita terlalu fokus pada apa yang sedang dikerjakan, sehingga tidak punya ruang untuk membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Mendengarkan video Eva, saya tersadar bahwa harga paling mahal dari overthinking adalah waktu. Saat saya sibuk memikirkan tulisan yang saya kirim bagus atau nggak, saya sudah membuang banyak waktu untuk membuat tulisan baru atau melakukan hal produktif lainnya.
Baru-baru ini, saya sempat menuliskan beberapa opini yang cukup personal. Di balik tulisan tersebut, ada pikiran-pikiran buruk yang singgah di benak saya, “Nanti bakal dianggap oversharing nggak, ya? Kalau dibaca teman-teman atau keluarga di dunia nyata, aku bakal dihujat nggak, ya?”
Ketika saya akhirnya memberanikan diri tetap menulis dan membagikan pengalaman itu, apa yang saya takutkan tidak terjadi. Tidak ada hujatan, tidak ada anggapan oversharing. Yang terjadi bahkan tulisan saya diapresiasi oleh editor karena terasa jujur dan “hidup”.
Demikian pula dengan Eva. Dia menceritakan pengalamannya ketika sempat berhenti mengunggah konten selama setahun. Ia ragu untuk berpindah dari konten melukis ke konten pengembangan diri. Ia merasa tidak cukup kompeten, tidak punya latar belakang pendidikan yang sesuai, dan takut mendapat komentar negatif.
Namun, ketika akhirnya ia memberanikan diri mengunggah video, ketakutan yang selama ini ia bayangkan ternyata tidak terjadi. Tidak ada hujatan besar. Tidak ada reaksi buruk seperti yang ia khawatirkan. Justru dari langkah kecil itu, ia mulai menemukan jalannya.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa ketakutan terbesar sering kali hanya ada dalam kepala kita. Kita mencoba menjadi seperti “peramal” yang ingin mengetahui semua kemungkinan di masa depan. Padahal, tidak semua hal bisa diprediksi. Dan kita bukan Tuhan yang tahu segalanya.
Menurut Eva, cara paling sederhana untuk menghentikan overthinking ternyata bukan dengan berpikir lebih lama, tetapi dengan mulai bergerak sebanyak mungkin. Melakukan sesuatu, sekecil apa pun. Menulis satu paragraf. Mengedit satu kalimat. Mengirim satu tulisan. Langkah kecil itu bisa memutus rantai pikiran yang berputar-putar.
Pesan penutup yang disampaikan oleh Eva Alicia dalam videonya, “Hidup tidak akan berubah hanya karena berpikir terlalu lama, tetapi hidup akan berubah jika kamu bergerak lebih sering.”
Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Sebab yang sebenarnya kita butuhkan bukanlah rencana yang sempurna, melainkan langkah pertama untuk melakukan sesuatu. Tanpa memulai, kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa kita pelajari dari proses yang dijalani setelahnya.
Baca Juga
-
Gaji Imut di Realitas Sosial yang Serba Mahal: Hemat Bukan Lagi Solusi?
-
Realitas Pahit di Balik Gaji UMR: Saat Hidup Hemat Menjadi Cara Bertahan
-
Review Lovely Runner: Ketika Cinta Memaksa Seseorang Melawan Takdir
-
The Trauma Code: Heroes on Call, Drama Medis yang Sat-set dan Bikin Tegang
-
Drama Melo Movie: Refleksi Luka, Kehilangan, dan Keberanian Mencintai Lagi
Artikel Terkait
-
5 Tablet 12 Inci untuk Produktivitas Tinggi, Ringkas Dibawa Kemana Saja
-
Nggak Mau Overthinking, Tapi Kepikiran: Masalah Klasik Saya saat Otak Sibuk
-
Yoursay Class: Tak Sekadar Curhat, Ini Cara Menulis Opini Personal yang Relatable dan Berdampak
-
WFH Diangap Tak Ganggu Produktivitas, Begini Penjelasan Pengamat
-
Misi Menyelamatkan Kewarasan dengan Weekly Life Review
Kolom
-
Kerja Bagai Kuda tapi Hidup Tetap Sama? Menelusuri Retaknya Meritokrasi di Indonesia
-
MBG di Persimpangan: Investasi SDM Masa Depan atau Malah Jadi Beban Fiskal?
-
Bagi Sebagian Warga Rembang Asli, Gaji UMR adalah Sebuah Impian dan Pencapaian Prestasi
-
UMK Jember Tembus 3 Juta, Sudahkah Memenuhi Realitas Hidup Buruh?
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
Terkini
-
Kisah Desi dan Aini: Saat Idealisme Guru Bertemu Tekad Baja Sang Murid
-
Gak Cuma Enak Dimakan, Ini 5 Face Wash Stroberi yang Bikin Kulit Glowing!
-
Film Terbaru Doraemon Berhasil Kuasai Box Office Jepang 6 Pekan Berturut
-
Travel Look Goals! 4 OOTD ala Hwang Min Hyun yang Simpel dan Stylish
-
Peran Terbaik Laura Basuki! Menguak Sisi Gelap Sumba di Balik Film Yohanna