Apa kamu pernah bilang ke diri sendiri, “Udah, nggak usah dipikirin,” tapi beberapa menit kemudian pikiran itu balik lagi? Saya pernah, bahkan sering. Nggak mau overthinking, tapi kepikiran terus jadi kondisi yang sangat relatable, terutama di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tekanan.
Rasanya capek, tapi makin dihindari justru jadi sering muncul seolah pikiran makin ribut. Chat yang belum dibalas kepikiran. Omongan orang diingat-ingat. Hal kecil yang sebenarnya sudah lewat malah muter lagi di kepala saya.
Sayangnya, overthinking ini kerap dianggap berlebihan, padahal di baliknya ada proses psikologis yang wajar. Saya pun sadatr kalau ternyata nggak ngerasain hal ini sendirian. Nggak mau overthinking tapi kepikiran terus itu kayak kondisi “default” banyak anak muda sekarang.
Overthinking Itu Bukan Drama, Tapi Respons
Banyak orang menganggap kalau overthinking itu lebay atau kebanyakan mikir. Padahal, banyak orang merasakan overthinking sering muncul karena cenderung hidup di lingkungan yang penuh tekanan.
Kita dituntut cepat, tepat, dan selalu “oke”. Di sisi lain, kita jarang dikasih ruang buat benar-benar berhenti dan mencerna perasaan. Akhirnya, semua semakin numpuk dan munculnya ya di pikiran.
Semakin Disuruh Tenang, Pikiran Malah Makin Ribut
Ada hal lucu tapi nyebelin soal pikiran, semakin dilarang, semakin datang. Saat kamu memaksa diri buat nggak mikirin sesuatu, yang terjadi malah sebaliknya. Pikiran malah makin ribut kalau disuruh tenang.
Kalau mau sedikit berdamai, sebenarnya pikiran itu bukan musuh, kok. Dia muncul karena ingin didengar. Sayangnya, kita sering terlalu sibuk buat benar-benar mendengarkan apa yang sedang kita rasakan.
Anehnya, overthinking paling sering datang pas malam. Siang hari kita sibuk, kuliah, kerja, scroll medsos, ngobrol, pura-pura baik-baik aja. Begitu malam datang dan semua sepi, pikiran langsung ambil alih.
Ini bukan kebetulan sebab malam adalah satu-satunya waktu di mana kita nggak lagi sibuk menghindar. Dan di situlah semua hal yang belum selesai mulai bermunculan dan menguasai pikiran.
Overthinking: Bukan Masalahnya, Tapi Emosinya
Overthinking itu sering kali menyiksa pikiran bukan karena masalahnya tapi emosinya. Banyak hal yang dipikirkan berulang kali sebenarnya bukan masalah besar tapi emosi di baliknya belum kelar.
Misalnya, takut salah, takut ditinggal, takut nggak cukup, atau takut-takut lainnya yang dirasakan. Pada akhirnya, overthinking jadi cara otak buat mencari rasa aman, meskipun seringnya malah bikin makin cemas.
Refleksi dan Overthinking Itu Beda Tipis
Berpikir itu penting, tapi ada bedanya antara refleksi dan overthinking. Refleksi bikin kita belajar, sementara overthinking bikin kita muter di tempat yang sama. Kalau mikir nggak membawa ke solusi atau tindakan, kemungkinan besar kita lagi kejebak di overthinking.
Di sinilah letak pentingnya belajar melawan pikiran. Pelan-pelan berusaha berdamai dengan mengakui kondisi kalau kita memang sedang kepikiran sesuatu. Bisa ditulis dalam jurnal pribadi, atau cuma disadari tanpa dibahas panjang.
Saat nggak dilawan, pikiran itu bakal nggak sekeras sebelumnya. Sebab sebenarnya nggak semua pikiran harus dipercaya. Ingat, pikiran bukan fakta dan overthinking sering dipenuhi asumsi yang belum tentu benar.
Belajar ngasih jarak antara diri dan pikiran bikin kita nggak langsung percaya sama semua yang muncul di kepala. Tujuan kita bukan bikin pikiran diam sepenuhnya, tapi belajar hidup berdampingan dengannya tanpa harus tenggelam.
Nggak mau overthinking tapi kepikiran terus itu bukan kelemahan, kok. Itu pengalaman yang banyak dari kita alamin, cuma jarang diomongin. Overthinking jadi tanda kalau kita ini manusia yang punya perasaan dan sedang memproses sesuatu.
Baca Juga
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
Diet Informasi: Cara Merebut Kembali Kedamaian Pikiran di Era Digital
-
Jebakan Urgensi Palsu di Balik Notifikasi: Saatnya Merebut Kembali Kendali atas Waktumu
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
Artikel Terkait
-
Seni Mengubah Hidup Lebih Ringan dan Bermakna di Buku Perbesar Otakmu
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Cara Cepat Berhenti Capek Mental: Setop Beri Ekspektasi Tinggi ke Orang Lain
-
Dikabarkan Menyerah dan Merapat ke Solo, dr Tifa Beri Jawaban Menohok Lewat 'Senjata' Baru!
-
Lebaran Selesai, Overthinking Dimulai: Cara Saya Hadapi Pasca Hari Raya
Kolom
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tak Harus Nunggu Teman: Seni Menemukan Ketenangan Lewat Solo Date
-
Fenomena Gamer Rage: Saat Caci Maki dan Perundungan di Gim Dianggap Wajar
-
Perundungan Bukan Sekadar Candaan, Dehumanisasi Terus Terjadi pada Korban
Terkini
-
Anak Takut Salah dan Terobsesi Sempurna? Buku Ini Punya Jawaban Menenangkannya!
-
Mengenang Nasi Pecel Rp2 Ribuan, Kenapa Kuliner Ini Nggak Pernah Ada Matinya?
-
Review Who Is Martin Mull?: Dokumenter Biografi Netflix yang Mengaduk-aduk Emosi Penonton
-
Review Novel Burung-Burung Manyar: Saat Perang dan Sejarah Merenggut Tempat Kita Pulang
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini