M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi ibu dan anak (Pexels/RDNE Stock project)
e. kusuma .n

Kalimat "Ibu cerewet banget, sih!" mungkin menjadi keluhan klasik banyak anak sejak dahulu. Dari bangun pagi, urusan sekolah, tugas rumah, sampai pergaulan, selalu ada suara ibu yang mengingatkan dan sayangnya kerap terdengar seperti omelan tanpa henti.

Namun, siapa sangka, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa ibu yang tegas, banyak mengingatkan, bahkan terkesan sering mengomel, ternyata berperan dalam membesarkan anak-anak yang lebih disiplin dan sukses dalam hidup.

Fenomena ini mengarah pada metode raising giant, di mana "omelan" mendorong anak menjadi pribadi tangguh, bertanggung jawab, dan sadar konsekuensi sejak dini. Lalu, benarkah omelan ibu bisa berdampak positif? Atau ini hanya mitos?

Hasil Studi: Anak yang Punya Ibu Cerewet Hidupnya Lebih Sukses

Sebuah studi dari University of Essex (Inggris) pernah menemukan fakta menarik usai meneliti 15.000 anak perempuan selama 6 tahun. Hasilnya, anak-anak dengan ibu cerewet lebih mungkin untuk melanjutkan kuliah, berkarier, dan hidup mandiri.

Alasannya sederhana, omelan ibu justru menjadi pengingat tak langsung agar anak belajar disiplin, memiliki kesadaran akan konsekuensi, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan penting pada masa depan.

Meski begitu, hasil positif ini bukan semata-mata datang dari omelan sembarangan. Dampak positif baru muncul saat omelan hadir dengan kasih sayang dan konsistensi dalam mendidik agar anak terbiasa dengan struktur, tanggung jawab, dan target hidup.

Tidak perlu hal-hal besar, sekadar mengingatkan tugas, menegur kesalahan, dan memberi standar tertentu sudah menjadi bentuk kehadiran sebagai dukungan pembiasaan yang baik.

Meski saat kecil terdengar menyebalkan, pola ini membentuk kebiasaan jangka panjang yang sangat berguna di dunia nyata. Artinya, yang terlihat seperti "omelan" sebenarnya bisa jadi bentuk keterlibatan aktif orang tua.

Raising Giant: Anak Tumbuh Tangguh

Konsep raising giant menggambarkan pola asuh yang bertujuan membesarkan anak menjadi "raksasa" secara mental yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi hidup. Dalam pola ini, omelan yang terarah memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Pengingat Disiplin
Rutinitas seperti bangun pagi, merapikan kamar, atau mengerjakan PR tepat waktu akan melatih tanggung jawab. Anak belajar bahwa hidup punya aturan.

2. Sadar Konsekuensi
Ketika ibu konsisten menegur, anak memahami bahwa setiap tindakan ada akibatnya. Hal ini membentuk kemampuan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati.

3. Melatih Ketahanan Mental
Dunia nyata tidak selalu lembut. Teguran sejak kecil membantu anak agar tidak mudah rapuh saat menghadapi kritik di sekolah, kampus, atau tempat kerja kelak.

4. Standar yang Jelas
Anak tahu apa yang diharapkan dari dirinya. Kejelasan ekspektasi membantu mereka memiliki arah hidup. Tanpa sadar, omelan yang konsisten menjadi "suara internal" anak saat dewasa, layaknya alarm pengingat di dalam kepala mereka.

Refleksi untuk Orang Tua: Ngomel yang Penuh Kasih

Agar omelan tetap berdampak positif, ada prinsip penting yang bisa diterapkan sebagai refleksi untuk orang tua. Di antaranya dengan mengutamakan kasih sayang, konsisten soal aturan, fokus pada perilaku, serta tetap memberi ruang pada anak untuk bicara dan didengar.

Pada akhirnya, anak tidak butuh orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang hadir dan peduli. Dalam konteks yang tepat, "omelan" hadir sebagai bentuk cinta paling sederhana berupa kepedulian.

Mungkin benar, suara ibu yang terus mengingatkan itulah yang kadang diam-diam dibenci oleh anak. Namun, di balik kalimat, "Jangan lupa ini, jangan lupa itu," tersimpan pesan yang begitu dalam: "Ibu ingin kamu baik-baik saja dan sukses nanti."