Belakangan ini saya merasa istilah “kaum rebahan” bukan lagi sekadar candaan internet. Banyak anak muda, termasuk saya, pernah ada di fase ingin rebahan terus karena hidup terasa melelahkan.
Setelah kerja, scrolling media sosial, ditambah berita soal ekonomi yang makin tidak menentu, rasanya energi cepat habis. Bahkan sebelum benar-benar memulai hari, saya sudah merasakan aura lesu.
Di sisi lain, kondisi ekonomi sekarang juga semakin membuat cemas. Harga kebutuhan naik, lapangan kerja makin kompetitif, dan tekanan untuk tetap produktif terasa semakin besar.
Akhirnya muncul dilema yang cukup relate buat banyak orang: ingin istirahat terus, tapi takut tertinggal dalam hidup. Lalu, harus tetap kalem dan rebahan atau mulai bergerak?
Rebahan Jadi Bentuk “Healing” Generasi Sekarang
Saya sadar banyak anak muda sekarang menjadikan rebahan sebagai cara paling sederhana untuk menenangkan diri. Setelah hari yang penuh tekanan, tidur, scroll medsos, nonton series, atau sekadar diam di kasur terasa seperti bentuk self-care yang murah dan mudah.
Jujur saja, kadang rebahan memang terasa nyaman. Tidak ada tuntutan, tidak ada tekanan sosial, dan tidak perlu memikirkan banyak hal untuk sementara waktu.
Masalahnya, dunia nyata tidak ikut berhenti saat kita rebahan. Tagihan tetap datang, kebutuhan hidup terus naik, dan masa depan tetap berjalan meski kita memilih menghindar sejenak dari kenyataan.
Di situlah saya merasa kalau rebahan kadang berubah dari kebutuhan untuk sekadar beristirahat menjadi bentuk pelarian.
Gejolak Ekonomi Bikin Anak Muda Makin Cemas
Menurut saya, salah satu alasan kenapa banyak anak muda mudah kehilangan semangat adalah kondisi ekonomi yang sekarang terasa berat. Harga kebutuhan naik, biaya hidup meningkat, sementara peluang kerja tidak selalu memberi rasa aman.
Belum lagi media sosial terus menampilkan orang-orang yang terlihat sukses di usia muda. Tanpa sadar, kita jadi membandingkan diri sendiri dan merasa tertinggal.
Akhirnya muncul rasa lelah sebelum mencoba. Pikiran seperti “percuma usaha kalau hidup tetap susah” mulai muncul diam-diam.
Saya rasa itu yang membuat banyak orang akhirnya memilih rebahan lebih lama. Bukan karena malas sepenuhnya, tapi karena terlalu overwhelmed menghadapi realita.
Produktif Terus Juga Melelahkan
Di sisi lain, saya juga merasa budaya produktivitas sekarang kadang terlalu berlebihan. Media sosial sering membuat kita merasa harus terus bergerak agar dianggap berhasil.
Bangun pagi harus produktif. Weekend harus menghasilkan uang. Hobi harus jadi cuan. Bahkan istirahat pun kadang dibuat terasa bersalah.
Akibatnya, banyak anak muda hidup di antara dua tekanan. Kalau terlalu santai takut tertinggal, tapi kalau terlalu memaksa diri juga berujung burnout.
Menurut saya, inilah dilema terbesar kaum rebahan hari ini. Kita ingin istirahat karena lelah, tapi dunia terus menuntut untuk bergerak lebih cepat.
Rebahan Tidak Selalu Salah, Asal Tidak Berlarut
Saya mulai sadar kalau rebahan sebenarnya bukan musuh. Tubuh dan pikiran memang butuh jeda. Tidak semua waktu harus diisi produktivitas tanpa henti.
Namun yang jadi masalah adalah ketika rebahan berubah menjadi zona nyaman untuk menghindari kenyataan. Saat rasa malas bercampur overthinking, kita terus menunda banyak hal dan makin sulit memulai.
Saya pernah ada di fase merasa capek duluan sebelum mencoba sesuatu. Mau cari peluang takut gagal, mau mulai usaha takut tidak berhasil, akhirnya memilih scroll media sosial sambil rebahan berjam-jam.
Padahal semakin lama menghindar, kecemasan justru makin besar. Dalam kondisi ini rebahan untuk menghindar hanya menambah overthinking dan makin mager.
Kaum Rebahan dan Ketakutan akan Masa Depan
Menurut saya, banyak kaum rebahan sebenarnya bukan tidak punya mimpi. Justru sering kali mereka terlalu banyak memikirkan masa depan sampai akhirnya kehilangan energi untuk bergerak.
Overthinking soal karier, uang, hubungan, dan hidup membuat semuanya terasa berat. Ditambah kondisi ekonomi yang tidak stabil, rasa takut gagal jadi makin besar.
Akhirnya rebahan terasa seperti tempat paling aman karena setidaknya kita tidak perlu menghadapi kemungkinan kecewa.
Namun lama-lama saya sadar, terlalu lama diam juga tidak membuat hidup berubah. Kekhawatiran tetap ada, bahkan bisa semakin menumpuk.
Belajar Bergerak Pelan-pelan
Sekarang saya mulai mencoba mengubah cara pandang soal produktivitas. Saya tidak lagi memaksa diri harus selalu sibuk, tapi juga tidak ingin terus-terusan tenggelam dalam rebahan tanpa arah.
Saya melihat kalau bergerak kecil tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali. Tidak harus langsung sukses besar atau hidup sempurna. Kadang cukup mulai dari hal sederhana, misalnya, bangun lebih teratur, menyelesaikan satu pekerjaan kecil, belajar skill baru, atau sekadar mengurangi waktu scroll media sosial.
Menurut saya, generasi sekarang memang hidup di masa yang tidak mudah. Wajar kalau banyak yang merasa lelah dan ingin berhenti sejenak.
Namun, istirahat seharusnya menjadi tempat mengisi energi, bukan tempat menyerah pada keadaan. Karena pada akhirnya, rebahan boleh saja, tapi hidup tetap harus berjalan.
Dan mungkin yang kita butuhkan bukan menjadi manusia paling produktif, melainkan manusia yang tetap bergerak meski pelan di tengah situasi yang tidak selalu baik-baik saja.
Baca Juga
-
Iduladha Bukan Cuma Soal Sate: Mengapa Kita Butuh Rem di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia?
-
Iduladha dan Generasi Muda: Makna Lama yang Masih Relevan di Era Modern
-
Tekanan Sosial Iduladha: Mengapa Anak Muda Merasa Takut Terlihat 'Kurang'?
-
Kurban yang Paling Sulit Bukan Materi, Tapi Ego Sendiri: Begini Cara Menaklukannya
-
Gen Z dan FOMO Hari Raya: Haruskah Momen Iduladha Juga Diposting?
Artikel Terkait
Kolom
-
Jejak Sampah di Balik Tombol 'Checkout': Sudah Siapkah Berhenti Jadi Konsumen Pasif?
-
Hobi Checkout Baju Picu Clutter Lifestyle dan Sampah Tekstil Meningkat?
-
Kulkas Penuh Daging, Dompet Kering Melompong: Fenomena Unik Pasca-Iduladha
-
Awas Terjebak Tren! 5 Mitos Less Waste yang Telanjur Dipercaya
-
Tren Belanja Barang Viral Lucu: Cepat Dibeli, Cepat Pula Jadi Sampah?
Terkini
-
Laptop Asus ROG Zephyrus G14, Senjata Baru Gamer dan Content Creator Profesional
-
5 Tips Jitu Memilih Pelembap Wajah yang Pas untuk Hasil Lembap Optimal
-
Jangan Cuma Rendang! Sulap Daging Kurban Jadi 4 Hidangan Nusantara yang Lebih Menggoda
-
Dua Suami, Satu Misi: Chaos Aksi Komedi dalam Film 'Husbands in Action'
-
Menghilangkan Penat dan Stress dengan Berwisata Alam di Pancar Wonotirto