M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi seorang buruh menerima gaji UMR (Freepik)
Fathorrozi 🖊️

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan Garahan Jember Jawa Timur, seorang buruh pabrik rokok pernah berkata lirih, “Gaji naik, tapi harga beras ikut lari lebih cepat.”

Kalimat tersebut terdengar sederhana, namun justru di situlah masalahnya. Upah minimum yang selama ini dianggap penyelamat, perlahan kehilangan maknanya.

Secara konsep, UMR (yang sekarang populer disebut UMK) adalah jaring pengaman. Ia ditetapkan agar pekerja tidak dibayar terlalu rendah. Namun realitasnya, angka ini sering tertinggal satu langkah di belakang kehidupan.

Di Kabupaten Jember, inflasi tahunan 2025 tercatat sekitar 2,77%. Secara nasional, inflasi juga berada di kisaran 2,7%. Di atas kertas, ini terlihat aman, tapi angka tersebut tidak selalu mencerminkan realitas di pasar tradisional, di mana harga cabai, beras, dan minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi secara sporadis.

Sementara itu, UMK Jember 2026 diperkirakan berada di kisaran Rp2,8-3,1 juta, naik sekitar 6,5-8,5% secara nasional. Kenaikan ini terlihat progresif, tetapi masih sering dipandang buruh sebagai kenaikan nominal, bukan kesejahteraan.

Seorang pedagang bakso di Ledokombo Jember juga pernah mengeluh, “Kalau upah buruh naik, harga bahan juga ikut naik. Saya ikut bingung, mau jual mahal takut sepi.”

Lingkaran ini seperti tak berujung. Upah naik, harga naik, daya beli stagnan.

UMR didesain sebagai angka tunggal untuk semua orang. Padahal kehidupan jauh lebih kompleks. Buruh pabrik dengan target produksi berbeda disamakan. Fresh graduate dengan skill digital disamakan dengan tenaga kerja tanpa pengalaman. Jam kerja rigid 8 jam dianggap cukup untuk semua sektor. Akibatnya, sistem ini tidak mendorong produktivitas, hanya memastikan batas bawah.

Kalau UMR mulai usang, apa alternatifnya?

Pertama, upah berbasis produktivitas. Bayangkan sistem di mana gaji tidak lagi statis, tapi mengikuti kontribusi nyata. Pekerja yang lebih produktif otomatis pendapatan lebih tinggi, perusahaan terdorong meningkatkan efisiensi, dan tidak semua pekerja dipukul rata. Ini bukan sekadar teori. Banyak industri kreatif dan digital sudah menerapkannya.

Namun risikonya jelas. Tanpa regulasi kuat, pekerja bisa dieksploitasi. Maka, sistem ini harus tetap memiliki floor income, batas bawah yang manusiawi.

Kedua, jam kerja fleksibel. UMR lahir dari era industri lama. Masuk jam 8, pulang jam 5. Padahal hari ini freelance tumbuh, gig economy berkembang, dan banyak pekerjaan berbasis output (bukan waktu).

Seorang ojek online pernah bilang, “Kalau rajin, penghasilan bisa lebih dari UMR. Tapi kalau sepi, ya nol.”

Di sinilah fleksibilitas menjadi pedang bermata dua. Memberi peluang, tapi juga ketidakpastian.

Ketiga, Universal Basic Income (UBI), gaji tanpa syarat. Ini konsep paling radikal. UBI berarti setiap warga mendapat penghasilan dasar dari negara tanpa syarat bekerja.

Tujuannya untuk menghapus kemiskinan ekstrem, memberi ruang napas bagi masyarakat, dan mengurangi ketergantungan pada upah minimum. Bayangkan buruh tidak lagi bekerja hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk berkembang.

Namun pertanyaannya, apakah negara siap secara fiskal? Di negara berkembang seperti Indonesia, ini masih jauh, tapi bukan mustahil.

Masalahnya bukan sekadar UMR terlalu kecil. Masalahnya adalah kita terlalu lama bergantung pada satu angka untuk menjawab kompleksitas hidup.

UMR ibarat pagar. Ia penting, tapi tidak cukup untuk membangun rumah.

Jika Indonesia ingin melompat ke masa depan, maka sistem upah harus adaptif (tidak kaku satu angka), berbasis nilai (bukan sekadar waktu kerja), dan memberi ruang mobilitas sosial.

Alih-alih menghapus UMR sepenuhnya, pendekatan yang lebih masuk akal adalah UMR sebagai baseline (jaring pengaman), tambahan skema produktivitas (bonus, insentif berbasis output), eksperimen lokal UBI skala kecil (pilot project), dan transparansi harga kebutuhan pokok (agar upah tidak selalu dikejar inflasi).

Pertanyaannya sekarang, apakah kita berani membayangkan sistem upah yang lebih adil dari sekadar angka minimum? Karena sejatinya, tujuan bekerja bukan hanya bertahan hidup, melainkan memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.