Kadang-kadang, kebahagiaan itu justru hadir dalam bentuk yang sederhana, lewat secangkir kopi hangat, obrolan santai, dan kebersamaan dengan sahabat. Itulah yang saya rasakan ketika menghabiskan sore bersama dua teman saya, Lukman dan Aldi, di Warkop Sarkawi, Kalisat, Jember.
Perjalanan kecil itu bermula dari rumah saya di Ledokombo. Saat Lukman dan Aldi datang berkunjung, istri saya sebenarnya sudah menyuguhkan kopi kepada mereka. Aroma kopi yang mengepul memenuhi Gazebo Terapi dan menjadi pembuka pertemuan kami sore itu. Namun, entah mengapa saya merasa ingin mencari suasana lain. Rasanya ada dorongan untuk keluar rumah, menikmati udara sore, dan menemukan pengalaman ngopi yang berbeda.
“Bagaimana kalau ngopi di luar saja?” usul saya.
Tanpa banyak berpikir, kedua teman saya langsung menyetujui. Kami pun mulai berdiskusi mencari warung kopi yang cocok untuk disinggahi.
Masalahnya, hampir semua warung kopi di sekitar Ledokombo yang menarik sudah pernah kami datangi. Satu per satu nama kedai disebutkan, lalu dicoret dari daftar karena sudah pernah kami coba. Obrolan kami pun berubah menjadi semacam rapat dadakan yang penuh gelak tawa.
“Kalau ke sana, kopinya sudah hafal wajah kita,” canda Aldi.
“Jangan-jangan malah kita yang hafal ukuran gelasnya,” sahut Lukman yang langsung membuat kami tertawa.
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya kami sepakat menuju Warkop Sarkawi di Kalisat. Tempat itu belum pernah kami singgahi sebelumnya. Lokasinya berada tepat di sebelah selatan Kantor Pos Kalisat, di Jalan HOS Cokroaminoto No. 24.
Perjalanan menuju Kalisat terasa menyenangkan. Di sepanjang jalan, obrolan mengalir tanpa arah yang pasti. Kadang membahas pekerjaan, kadang mengenang masa lalu, dan tak jarang saling meledek kesalahan-kesalahan lucu yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu.
Setibanya di Warkop Sarkawi, kesan pertama yang muncul adalah suasananya yang nyaman dan cukup unik. Di bagian depan terdapat tulisan besar bertuliskan “Warkop SARKAWI” yang langsung menarik perhatian. Beberapa bangku panjang dan kursi besi bergaya kafe outdoor tertata rapi. Tempat itu tampak hidup oleh kehadiran para pengunjung yang sedang menikmati waktu bersama teman-teman mereka.
Yang menarik perhatian saya adalah sebuah ruangan yang disebut “Ruang Guru”. Ruangan itu tampak seperti tempat rapat atau diskusi. Di dalamnya terdapat rak buku dengan sejumlah koleksi bacaan yang tertata rapi. Suasana intelektual berpadu dengan nuansa santai khas warung kopi.
Tak jauh dari sana, tepat di sisi timur ruangan tersebut, terdapat toilet yang bersih dengan air yang jernih. Hal kecil seperti ini sering menjadi nilai tambah yang membuat pengunjung merasa nyaman berlama-lama.
Seperti kebiasaan saya setiap kali mengunjungi warung kopi baru, saya selalu mencari menu yang belum pernah saya coba sebelumnya. Ada semacam kepuasan tersendiri ketika menemukan rasa baru di setiap tempat yang dikunjungi.
Setelah memesan minuman dan makanan ringan, seorang pelayan menghampiri kami.
“Mau diantar ke mana pesanannya bentar lagi, Mas?” tanyanya ramah.
Saya yang sejak tadi penasaran dengan area lantai dua langsung menjawab, “Di atas saja, Mas, lantai dua.”
Pelayan itu sempat bertanya kepada rekannya yang sedang meracik minuman.
“Ada yang kosong di atas?”
“Ada, di pojok sebelah barat,” jawab rekannya.
Suasana Lantai Dua Warkop Sarkawi
Kami pun menaiki tangga menuju lantai dua. Ternyata pilihan itu tidak salah. Dari atas, pemandangan sekitar terlihat lebih luas. Deretan rumah penduduk tampak jelas. Pucuk-pucuk pohon terasa lebih dekat, seolah sejajar dengan posisi kami. Di kejauhan, sebuah tower BTS berdiri tegak menjulang di sisi selatan, menjadi penanda modernitas di tengah kawasan yang tenang.
Sambil menunggu pesanan datang, kami memperhatikan suasana sekitar. Banyak muda-mudi berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang tertawa, ada yang sibuk bercerita, ada pula yang asyik memandangi layar ponselnya sambil sesekali menyeruput minuman.
Tak lama kemudian, pesanan kami tiba. Gelas-gelas kopi hangat tersaji di atas meja bersama beberapa makanan ringan. Aroma kopi langsung menyebar, menggoda untuk segera dinikmati.
"Amboi, nikmatnya tiada tara," ucap saya spontan usai menyeruputnya. Kopi masih agak panas.
Seruputan pertama menjadi awal dari satu jam yang terasa begitu singkat. Obrolan ngalor-ngidul kami semakin ramai. Berbagai topik bergantian muncul tanpa aturan. Mulai dari pengalaman lucu saat bekerja, kisah masa sekolah yang memalukan, hingga rencana-rencana yang ingin diwujudkan pada masa mendatang.
Beberapa kali tawa kami pecah cukup keras hingga membuat pengunjung di meja sebelah menoleh. Namun suasana hangat seperti itulah yang membuat pertemuan terasa berkesan. Tidak ada pembicaraan berat yang membebani. Yang ada hanyalah kebersamaan yang mengalir alami.
Tanpa terasa, waktu berjalan cepat. Jam demi jam berlalu bersama kopi yang perlahan habis di dasar gelas. Matahari mulai bergeser menuju senja, dan langit Kalisat perlahan berubah warna.
Tak Terasa Sudah 1 Jam Berlalu...
Sekitar satu jam setelah kami duduk di sana, kami memutuskan untuk pulang. Setelah membayar pesanan, kami saling berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Hati terasa lebih ringan. Pikiran yang sebelumnya dipenuhi berbagai urusan mendadak terasa lebih tenang. Seakan-akan sebagian beban hidup tertinggal di meja Warkop Sarkawi bersama sisa-sisa percakapan dan tawa yang kami tinggalkan.
Perjalanan itu memang sederhana. Tidak ada destinasi wisata terkenal, tidak ada petualangan ekstrem, dan tidak ada peristiwa luar biasa. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya berkesan. Sebab pada akhirnya, secangkir kopi bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang cerita, persahabatan, dan kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Dan sore itu, di lantai dua Warkop Sarkawi, kami menemukan semuanya.
Baca Juga
-
7 Perbedaan Xiaomi 17T vs Xiaomi 17T Pro: Mana yang Lebih Layak Dibeli?
-
ADVAN AI Gen Ultra T Resmi Hadir: Laptop Tipis, Kencang, dan Kaya Fitur AI
-
Kerumunan Terakhir: Mengapa Novel Okky Madasari Ini Ramalan Paling Akurat Tentang Media Sosial Kita?
-
Laptop Asus ROG Zephyrus G14, Senjata Baru Gamer dan Content Creator Profesional
-
Mawar Tak Jadi Dipetik di Hari Pernikahan
Artikel Terkait
-
Ngopi di Tarkam Ledokombo: Ketika Tawa, Asap Kopi, dan Jalan Raya Menjadi Satu Cerita
-
Bukan Hanya Islam, Indro Warkop Ajak Semua Agama Bersatu Bela Palestina
-
Resep Kopi Susu Biskuit ala Mikael Jasin, Cocok Temani Weekend di Rumah
-
Nasib Ahmad Syahri di Ujung Tanduk, Terancam Dipecat dari DPRD Jember
-
Nasib Ahmad Syahri Merokok dan Main Game Saat Rapat, Terancam Dipecat dari DPRD Jember?
Ulasan
-
Review Serial Spider-Noir: Bayangan Gelap di Era Depresi yang Ikonik!
-
Ulasan Novel 1890, Kisah Cinta Lintas Kelas Sosial di Tengah Era Kolonial
-
Mr. Queen (2020): Drama Kerajaan Paling Absurd yang Justru Bikin Nagih
-
Tayang 2 Episode Terakhir, Gold Land Berakhir Memuaskan?
-
Bullet Train Explosion: Film Thriller Terbaik dengan Tema Kerjasama Tim!
Terkini
-
Bom Waktu Kurs Rp17.900: Mengintip Jebakan Utang Negara yang Membengkak
-
Cool Girl Vibes! 4 OOTD Soft-Chic ala Ryujin ITZY yang Keren dan Effortless
-
Pakeeeet! Teriakan Kebahagiaan atau Lonceng Kematian bagi Bumi Kita?
-
Tayang 26 Juni, Drakor Notes from the Last Row Sajikan Suasana Mencekam
-
7 Perbedaan Xiaomi 17T vs Xiaomi 17T Pro: Mana yang Lebih Layak Dibeli?