Lintang Siltya Utami | Sri Rahayu
Ilustrasi ibu memasak (pexels/Produksi PNW)
Sri Rahayu

Kalau ada orang yang mengatakan matematika itu ilmu pasti, saya rasa mereka belum pernah bertemu dengan ibu rumah tangga yang memegang uang gaji UMR. Di tangan kami, matematika bukan lagi soal angka yang kaku, melainkan sebuah ilmu gaib. Bagaimana mungkin uang Rp 2 jutaan bisa dipaksa untuk membayar kontrakan, listrik, cicilan motor, SPP anak, gizi harian, hingga dana cadangan kalau tiba-tiba ada tetangga yang menikah? Secara logika, itu tidak mungkin. Tapi secara "keibuan", itu harus terjadi.

Setiap tanggal satu, saya resmi dilantik menjadi "Menteri Keuangan" tanpa gaji, tanpa tunjangan, dan tanpa hak untuk mengeluh. Di hadapan slip gaji yang hanya numpang lewat, saya harus memutar otak lebih keras daripada seorang ahli strategi perang. Saya harus memutuskan apakah bulan ini anak saya bisa mendapatkan susu formula merek yang biasanya atau harus beralih ke merek yang lebih ekonomis agar ayah tetap bisa punya bensin untuk berangkat kerja.

Tujuan saya ini bukan sekadar curhatan soal dompet kering, melainkan kritik terhadap beban domestik yang sering kali tidak terlihat dan tekanan mental yang luar biasa berat. Dilansir dari survei yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai biaya hidup, indeks harga konsumen terus naik, terutama pada sektor bahan pangan inti seperti beras, telur, dan minyak goreng. Namun, kenaikan upah minimum seringkali hanya sebatas "formalitas" yang habis dilahap inflasi bahkan sebelum uangnya masuk ke dompet.

Ada ekspektasi yang tidak adil bagi kami. Ibu rumah tangga sering dianggap "pahlawan" kalau bisa menghemat, padahal yang kami lakukan sebenarnya adalah memotong hak-hak dasar kami sendiri. Dikutip dari laporan riset ekonomi keluarga oleh Women's Budget Group, perempuan dalam rumah tangga berpendapat rendah memiliki tingkat stres 50% lebih tinggi karena mereka adalah garda terdepan dalam menghadapi krisis keuangan keluarga. Kami adalah orang pertama yang tidak makan kalau lauk di meja hanya cukup untuk anak dan suami.

Menurut saya, matematika ajaib yang kami lakukan setiap bulan ini bukanlah sesuatu yang pantas diromantisasi. Jangan puji kami "hebat" hanya karena kami bisa bertahan dengan uang pas-pasan. Pujian itu sering kali menjadi alat untuk menormalkan ketimpangan ekonomi dan upah yang tidak layak. Kami tidak butuh disebut hebat, kami butuh harga kebutuhan pokok yang terjangkau dan upah yang cukup untuk membuat kami tidak perlu menangis diam-diam di depan kalkulator setiap malam.

Dampak dari tekanan ini bukan hanya soal kurang gizi, tapi soal terkurasnya kesehatan mental. Saya sering merasa cemas luar biasa setiap kali mendengar bunyi notifikasi grup WhatsApp sekolah anak; takut kalau ada tagihan kegiatan yang tidak terduga. Rasa cemas yang menetap, menjadi polusi di kepala yang membuat tidur tidak pernah nyenyak. Di mata dunia, rumah kami mungkin tampak tenang, tapi di dalam kepala saya, ada badai yang sedang berkecamuk menghitung sisa lembaran uang Rp 10.000.

Pengelola keuangan di garis UMR sebenarnya adalah manajer risiko terbaik di planet ini. Kami melakukan mitigasi krisis setiap detik. Namun, pertanyaannya, sampai kapan raga dan mental ini mampu bertahan? Ketika sistem ekonomi tidak berpihak pada kesejahteraan keluarga kecil, maka matematika ajaib kami suatu saat akan mencapai titik patahnya.

Dampak jangka panjang adalah hilangnya kebahagiaan sederhana. Makan di luar atau membeli baju baru untuk diri sendiri menjadi sebuah dosa besar yang akan menghantui pikiran selama berbulan-bulan. Kita hidup untuk berhitung, bukan hidup untuk menikmati waktu.

Saya ingin menyampaikan pesan kepada siapa pun yang memegang kebijakan atau mereka yang hobi menyuruh rakyat kecil untuk "hidup hemat". Berhenti memberikan tips hemat yang menghina akal sehat kami. Kami sudah sangat hemat, bahkan sampai pada tahap mengiri kebahagiaan kami sendiri.

Apakah kalian bangga melihat kami bisa bertahan dengan gaji minimalis, atau kalian sebenarnya hanya sedang menonton kami perlahan-lahan kehilangan kewarasan demi mencukupkan yang kurang? Ingat, di balik keajaiban matematika seorang ibu, ada luka yang tidak pernah berhasil disembuhkan. Mari kita bicara tentang upah yang layak, bukan hanya soal cara mengirit yang menyakitkan. Karena pada akhirnya, rasa syukur memang perlu, tapi keadilan ekonomi adalah hak yang tidak bisa ditawar.