Malam itu kamar saya hanya diterangi oleh cahaya layar ponsel yang menyorot tajam ke wajah. Di bawah selimut, jari saya tengah lihai melakukan ritual "kemalasan" harian: scrolling TikTok sampai lupa waktu. Namun, ketenangan malam itu pecah seketika ketika sebuah video berita selebritas muncul di For Your Page (FYP) saya.
Bukan berita prestasi, melainkan berita perselingkuhan yang mengguncang dunia hiburan. Saya menatap layar ponsel dengan kening yang berkerut, melihat sosok perempuan malang yang dikhianati oleh pria tidak tahu diri itu. Ironisnya, perempuan itu jauh dari kata tidak sempurna—ia cantik, mapan, dan berbakat. Namun nyatanya, tetap saja dikhianati sedemikian rupa.
Rasa jengkel mulai merayap naik ke dada saat saya memberanikan diri untuk membuka kolom komentar. Alih-alih berisi simpati biasa, ribuan komentar justru dipenuhi oleh para korban serupa yang mulai speak up tentang kehidupan rumah tangga mereka yang hancur berantakan. Algoritma TikTok yang seolah "pintar" namun kejam mulai menggulirkan kasus-kasus menyebalkan yang serupa ke layar saya. Malam itu, saya berakhir dengan rasa marah, jengkel, dan sebuah bisikan lirih keluar begitu saja dari bibir saya: "Duh, malas nikah kalau ujung-ujungnya begini."
Tetapi keajaiban dunia digital memang seaneh itu. Keesokan harinya saat saya kembali melakukan aktivitas yang sama di sela-sela jam kuliah yang membosankan, layar ponsel saya menampilkan wajah dunia yang seolah berubah 180 derajat berbeda. FYP saya dipenuhi oleh estetika video prewedding di pinggir pantai yang indah, momen pertunangan yang penuh haru tangis bahagia, pernikahan megah yang membuat saya iri, bahkan video bayi lucu menggemaskan yang sedang belajar berjalan.
Seketika hati saya yang tadinya keras membeku mendadak menjadi munafik. Hanya dalam hitungan detik, kemarahan semalam menguap dan digantikan oleh gumaman pelan, "Aaa lucu banget, pengen nikah juga deh."
Perubahan perasaan yang begitu cepat ini sebenarnya menunjukkan betapa rapuhnya mental generasi kita di bawah gempuran informasi digital yang kontradiktif. Perkara besar bernama pernikahan kini sering kali membuat hati saya—dan mungkin jutaan mahasiswi seumuran saya—merasa sangat gundah. Kita terjebak dalam pusaran trauma orang lain yang kita konsumsi secara masif dan ilusi romantisme yang dipoles sedemikian rupa oleh media sosial. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai momen sakral yang tenang, tetapi sebagai sebuah perjudian besar yang taruhannya adalah kesehatan mental dan harga diri.
Keresahan tentang pernikahan ini sebenarnya bukan sekadar perasaan emosional pribadi, melainkan fenomena nyata yang terekam dalam data statistik. Melansir laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada November 2024, angka pernikahan di Indonesia tercatat mengalami penurunan yang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2023, bahkan jumlah pernikahan di Indonesia hanya mencapai 1,58 juta—angka ini turun drastis dibandingkan satu dekade lalu yang masih berada pada kisaran 2,21 juta. Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap urgensi membangun rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial.
Di sisi lain, paparan media sosial secara terus-menerus memperlihatkan dua wajah yang berbeda: "indah sekaligus menyakitkan" yang justru menciptakan kebingungan baru. Kita takut menikah karena berbagai bentuk pengkhianatan menyakitkan yang terlihat, tetapi pada saat yang sama kita juga ingin sekali menikah karena tergoda oleh gambaran kebahagiaan yang ditampilkan.
Ironisnya, kita tetap menjadi korban dari budaya "pamer kebahagiaan" yang diagung-agungkan oleh algoritma. Kita dipaksa menelan narasi bahwa pernikahan adalah akhir yang bahagia (happy ending) layaknya dongeng. Kita sering lupa bahwa di balik foto prewedding estetik, pernikahan megah, atau foto bayi lucu, ada cicilan rumah yang menumpuk, ego yang harus ditekan, dan komitmen yang berdarah-darah.
Media sosial sebenarnya telah merusak standar realistis kita tentang pernikahan; membuat kita bimbang antara keinginan dicintai secara sempurna dan ketakutan dikhianati secara tragis. Menurut saya, kita sedang kehilangan kemampuan untuk melihat pernikahan sebagai proses manusiawi yang tidak sempurna karena terlalu sering menjadi pengamat kehidupan orang lain hingga kita lupa membangun kesiapan diri sendiri.
Sebagai mahasiswa yang sedang berada di persimpangan usia menuju kedewasaan, sangat penting bagi kita untuk mulai menyaring apa yang masuk ke dalam pikiran kita agar tidak terus-menerus menjadi "si paling bingung" karena drama TikTok.
Sebagai penutup, saya ingin kita semua merenung. Sampai kapan kita akan membiarkan algoritma TikTok mengacak-acak standar kebahagiaan dan masa depan kita? Pernikahan adalah keputusan besar yang bersumber dari kesiapan hati dan logika, bukan dari rasa takut melihat berita perselingkuhan artis atau rasa iri melihat konten prewedding. Jangan sampai kita kehilangan kemerdekaan atas diri sendiri hanya karena terlalu sibuk mengonsumsi sisa-sisa fragmen hidup orang lain yang tidak benar seluruhnya.
Apakah kamu benar-benar ingin menikah karena sudah siap berjuang bersama pasangan, atau hanya karena sedang butuh asupan konten untuk validasi sosial? Dan apakah kamu benar-benar malas menikah karena prinsip, atau hanya karena sedang terintimidasi oleh trauma yang sebenarnya bukan milikmu? Mari meletakkan ponsel sejenak, lalu menatap kenyataan di depan mata. Menyadari bahwa hidup kita adalah narasi yang kita tulis sendiri, bukan sekadar rangkuman video pendek yang lewat di layar ponsel.
2. Ide Judul Pilihan
Opsi 1 (Tegas & Kritis): Skizofrenia Algoritma: Mengapa TikTok Membuat Mahasiswi Bimbang Antara Malas dan Pengin Nikah
Opsi 2 (Sosiologis): Angka Pernikahan Turun Drastis: Menilik Ketakutan Generasi Z di Balik Drama Perselingkuhan Viral
Opsi 3 (Slightly Clickbait): Semalam Malas Nikah, Pagi Ini Pengin: Bagaimana FYP TikTok Mengacak-acak Standar Kebahagiaan Kita
Opsi 4 (Filosofis): Pernikahan Bukan Konten: Menggugat Ilusi Romantisme dan Trauma Kolektif di Media Sosial
Opsi 5 (Tegas): Berhenti Menjadi "Si Paling Bingung": Saatnya Menulis Narasi Pernikahan Sendiri, Bukan Mengikuti Algoritma
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Rangkaian Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju Tayang di TV, Segini Bayarannya
-
Belanja Lebaran 2026 Cetak Rekor, Kelas Menengah dan Gen Z Jadi Penggerak Ekonomi Indonesia
-
Deretan Potret Prewedding 'Old Money Vibes' Ala Syifa Hadju dan El Rumi, Elegan Bikin Baper
-
Pernikahan Cuma 2 Bulan, Boiyen Bongkar Tabiat Mantan Suami
-
El Rumi dan Syifa Hadju Urus Berkas di KUA, Akad Nikah Fix Digelar di Bali?
Kolom
-
Di Lereng Merbabu, Saya Menemukan Rumah yang Tak Pernah Saya Cari Sebelumnya
-
Perang Bukan Solusi: Menilik Pesan Nostra Aetate di Tengah Perseteruan AS-Iran
-
Kaos Band, Inklusivitas Kota, dan Ruang Aman Justifikasi Polisi Skena
-
Melawan Rindu dan Kerasnya Hidup Demi Kenyamanan Tinggal di Perantauan
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
Terkini
-
Headphone Retro "Kalcer" di Bawah 500 Ribu: Mengulik Moondrop Old Fashioned
-
Sekar Nawang Sari
-
Di Balik Panas dan Jalan Berlubang: Menemukan 4 Sudut Syahdu di Kota Udang Cirebon
-
Kisah Ikal dalam Edensor: Dari Lorong Sorbonne hingga ke Padang Sahara
-
Nestapa Gregor Samsa Si Manusia Kecoa dalam Metamorfosis Franz Kafka