Memasuki awal bulan Juni, linimasa kita mendadak meriah oleh unggahan bertema Hari Lahir Pancasila, lengkap dengan kutipan estetik para tokoh bangsa dan kepungan twibbon dari berbagai instansi.
Sayangnya, begitu jari kita menggeser layar ke kolom tren atau ruang komentar, suasana syahdu peringatan itu langsung buyar oleh riuh rendah perdebatan netizen yang saling serang karena isu sensitif.
Kontras ini memperlihatkan bahwa pidato formal dari podium upacara atau imbauan normatif di baliho jalanan terasa seperti angin lalu. Narasi doktriner yang kaku tidak lagi ampuh mendinginkan kepala yang telanjur panas. Namun, Sobat Yoursay jangan berkecil hati dahulu, karena di saat seremonial formal terasa berjarak, esensi sejati dari Sila Ketiga justru sedang dirawat dengan sangat baik oleh kebudayaan di tingkat bawah.
Tanpa perlu ruang sidang yang megah atau instruksi negara, persatuan itu lahir secara alami dari hal-hal receh dan sederhana yang kita konsumsi sehari-hari.
Sobat Yoursay, kalau kita bicara tentang Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, kita tidak selalu harus membayangkan sesuatu yang kaku, heroik, atau berjarak. Mari kita tengok fenomena kuliner sejuta umat yang belakangan ini merajai lidah masyarakat, yaitu seblak.
Makanan khas Jawa Barat yang bercita rasa pedas, gurih, dan beraroma kencur ini sekarang bisa kita temukan dengan mudah dari gang-gang sempit di Bandung hingga sudut-sudut kota di luar Pulau Jawa.
Di dalam sebuah warung seblak prasmanan, sekat-sekat sosial itu mendadak luntur. Kamu bisa melihat seorang mahasiswa pencinta K-Pop, seorang bapak pekerja kantoran, hingga remaja pencinta anime mengantre bersama dengan mangkuk di tangan masing-masing.
Mereka mungkin punya pilihan politik yang bertolak belakang atau berasal dari suku yang berbeda, tetapi di hadapan kuah seblak level lima, mereka disatukan oleh satu rasa yang sama. Inilah wujud nyata dari persatuan yang inklusif, cair, dan tanpa paksaan.
Hal yang sama terjadi saat kita membicarakan musik. Di tengah gempuran masif kebudayaan pop global seperti K-Pop, Hollywood, hingga Anime, budaya lokal kita ternyata memiliki daya tahan yang luar biasa tangguh. Kita tidak perlu merasa inferior atau takut budaya kita akan punah, karena kebudayaan akar rumput selalu punya cara untuk beradaptasi dan merebut hati massanya.
Tengok saja bagaimana musik koplo atau lagu-lagu berbahasa Jawa-Pop bergema di berbagai penjuru nusantara. Musik ini tidak lagi dianggap kampungan atau hanya milik kalangan tertentu.
Dari panggung festival musik kelas atas di Jakarta hingga hajatan warga di pelosok desa, ribuan orang bisa berjoget bersama sambil menyanyikan lirik patah hati yang jenaka.
Alunan kendang koplo memiliki daya magis yang sanggup meruntuhkan ego dan batasan kelas sosial. Di momen itulah kita merasakan bahwa kebinekaan itu indah dan merayakannya tidak harus lewat upacara yang tegang.
Sobat Yoursay, kekuatan kebudayaan pop lokal ini terletak pada sifatnya yang merakyat dan apa adanya. Persatuan yang lahir dari akar rumput bersifat horizontal, bukan vertikal yang didektekan dari atas ke bawah. Melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, atau X, kita juga melihat bagaimana komedi kreatif dan jurnalisme warga menjadi lem perekat sosial yang luar biasa.
Konten-konten lucu tentang keseharian emak-emak, parodi logat daerah yang mengocok perut, hingga tren kuliner lokal yang viral adalah bukti bahwa kita memiliki ruang komunal yang sehat. Kita bisa menertawakan hal yang sama, bersimpati pada isu yang sama, dan mengapresiasi kreativitas satu sama lain tanpa memandang latar belakang suku maupun agama.
Melalui fenomena-fenomena inilah Pancasila bekerja dengan cara yang paling menyenangkan. Nilai-nilai luhur bangsa tidak melulu harus dibungkus dalam seminar ilmiah yang berat atau buku teks kewarganegaraan yang tebal.
Ketika kita menghargai warisan lokal, merayakan perbedaan lewat seni populer, dan saling mendukung kreativitas anak bangsa, kita sedang mengamalkan Pancasila dalam bentuknya yang paling murni. Kebudayaan akar rumput membuktikan bahwa menjaga persatuan Indonesia tidak harus terasa seperti beban sejarah yang berat, tapi bisa dirayakan dengan penuh kegembiraan dan tawa.
Sobat Yoursay, memperingati Hari Lahir Pancasila bukan berarti kita harus menutup diri dari modernitas atau arus budaya global. Kita bisa tetap menyukai musik luar atau menonton film internasional, sembari tetap menapakkan kaki dengan kokoh pada identitas lokal kita. Tugas kita sekarang adalah terus merawat ruang-ruang komunal yang inklusif ini, agar persatuan bangsa tetap kokoh terjaga, sehangat dan seakrab semangkuk seblak di sore hari.
Baca Juga
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
-
Disindir 'Takut Ya?', Hakim Kasus Nadiem Ngibrit Usai Ketuk Vonis 10 Tahun
-
Giliran Beli Rumah Disebut MBR, Giliran Bayar Pajak Dianggap Kaya Raya
-
Token Telat Diputus, tapi Listrik Mati Sesuka Hati Tanpa Pengumuman
Artikel Terkait
Kolom
-
Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh
-
Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol Akhiri Puasa Juara?
-
Lebih Kejam dari Ghosting: Kenali Breadcrumbing, Jebakan Cinta yang Menguras Mental
-
Sayembara Umrah Menteri PU: Politik Klarifikasi di Tengah Tuduhan Nepotisme
-
Tahun Ajaran Baru Dimulai, MBG Hadir Lagi: Kritik Publik Kembali Menggema?
Terkini
-
Termasuk Semifinal Kali Ini, Argentina Sudah 3 Kali Singkirkan Inggris dengan Menyakitkan!
-
Old Money Vibes! 4 Gaya Outfit Preppy Style ala Winter aespa yang Timeless
-
Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja
-
Budget Rp20 Ribuan? 4 Tone Up Cream Tranexamic Acid Bikin Glowing dan Sehat
-
Ada KJ Apa, Netflix Umumkan Jajaran Pemain Serial Myron Bolitar