Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Poster Film Gudang Merica (Instagram/filmgudangmerica)
Athar Farha

Lorong rumah sakit yang dingin, pasien misterius, mayat hilang, sampai suara langkah kaki di tengah malam sebenarnya resep klasik film horor Indonesia. Namun, Film Gudang Merica malah memilih jalur yang lebih aneh. Di saat penonton mulai diajak tegang, film ini tiba-tiba melempar candaan random yang muncul dari obrolan tongkrongan jam dua pagi.

Hasilnya? Sebagian penonton tertawa keras, sebagian lagi mungkin kebingungan karena atmosfer horornya terus dipatahkan.

Gudang Merica rilis di bioskop sejak 12 Mei 2026, merupakan film produksi MVP Pictures dengan Raam Punjabi sebagai produser. Film ini disutradarai Imam Darto yang memiliki gaya humor nyeleneh dan absurd. Naskahnya ditulis Imam Darto bersama Sesa Nasution dan Warman Nasution.

Deretan pemainnya ada Ardhito Pramono, Fatih Unru, Zulfa Maharani, Arla Ailani, Rizky Inggar, hingga Benidictus Siregar yang diam-diam menjadi salah satu sumber energi komedi paling kuat di film ini.

Ceritanya mengikuti empat mahasiswa kedokteran bernama Razi, Adit, Rindu, dan Tanti yang sedang menjalani masa koas di Rumah Sakit Harapan Ayah, rumah sakit terpencil dengan suasana yang sejak awal sudah nggak nyaman.

Masalah mulai muncul ketika pasien misterius meninggal dunia di tangan mereka. Bukannya situasi selesai, berbagai kejadian aneh mulai bermunculan. Penampakan muncul di lorong rumah sakit, teror datang silih berganti, dan kekacauan memuncak ketika jenazah pasien tersebut tiba-tiba menghilang begitu saja.

Di balik semua itu, tersimpan misteri yang perlahan membuka fakta-fakta mengejutkan, termasuk alasan di balik judul Gudang Merica yang sejak awal begitu absurd.

Isi Film yang Serba Absurd

Foto Testimoni Film Gudang Merica (Instagram/ filmgudangmerica)

Diawali dengan nama rumah sakitnya yang ganjil. Mayoritas rumah sakit biasanya memakai nama yang hangat, formal, atau menenangkan. Namun ‘Rumah Sakit Harapan Ayah’ itu aneh banget. Rasanya seperti nama rumah sakit di semesta alternatif yang dibuat dari hasil obrolan tongkrongan.

Kalau dipikir-pikir, penggunaan kata ‘ayah’ itu aneh banget. Biasanya, kata ‘ibu’ sering diasosiasikan dengan rasa hangat, merawat, dan menenangkan. Sementara ‘ayah’ terasa lebih formal dan sedikit kaku. Akibatnya, nama rumah sakit ini malah kayak tempat yang sejak awal memang nggak beres. Dan mungkin memang itu tujuan filmnya.

Gudang Merica ibarat sengaja dibuat familier tapi melenceng sedikit dari realita. Mulai dari judulnya yang merupakan plesetan absurd, humor random para karakternya, hingga rumah sakit dengan nama yang bikin penonton otomatis curiga.

Namun jujur saja, hal paling menarik dari film ini bukan misteri mayat hilangnya. Bukan juga hantunya. Melainkan keberanian Imam Darto mempertahankan gaya humor absurdnya di tengah atmosfer horor.

Pertanyaannya, humor film ini memang sengaja dibuat cringe, atau itu memang gaya khas Imam Darto?

Karena kalau diperhatikan, banyak lelucon di Film Gudang Merica sebenarnya aneh. Kadang kayak joke receh yang sengaja dipaksakan masuk ke situasi menegangkan. Ada momen ketika karakter sedang panik, lalu tiba-tiba muncul dialog random. Untungnya, beberapa joke berhasil mengundang tawa satu studio. Bukan karena punchline-nya pintar, melainkan karena timing absurdnya yang nggak masuk akal tapi tetap dimasukkan. Yup, penonton dibuat tertawa bukan karena setup komedinya rapi, tapi karena film ini sengaja membiarkan kekacauan terjadi begitu saja.

Gaya seperti ini sebenarnya cukup jarang di film horor-komedi Indonesia. Kebanyakan horor-komedi lokal biasanya masih bermain aman dengan slapstick, roasting antar karakter, atau komedi verbal yang sangat jelas arahnya. Eh, Film Gudang Merica malah kayak film yang nggak takut terlihat aneh.

Masalahnya, humor absurd semacam itu yang digunakan punya efek samping besar. Semakin film sering mematahkan ketegangan dengan candaan, semakin sulit penonton benar-benar merasa takut dan terhubung. 

Pada awal film, jumpscare Film Gudang Merica sebenarnya masih bekerja cukup efektif. Atmosfer rumah sakitnya lumayan mencekam. Lorong-lorong gelap dan ruang kosongnya berhasil menciptakan rasa nggak nyaman. Namun, lama-kelamaan pola filmnya mulai terbaca. Setiap kamera bergerak pelan menuju sudut gelap, penonton akhirnya mulai sadar ‘sebentar lagi pasti ada joke’. 

Dan benar saja, berkali-kali momen tegang langsung dihancurkan candaan absurd. Akibatnya rasa takut perlahan menghilang karena penonton sudah memahami ritme permainan filmnya. Ketika pola itu terbaca, horor otomatis kehilangan daya kejutnya. 

Meski begitu, aku rasa humor absurd Imam Darto di film ini bukan kelemahan semata, melainkan gaya yang memang sengaja dipertahankan. Humornya mungkin cringe bagi sebagian orang, tapi ini sepertinya memang disengaja. Terlepas Film Gudang Merica bukan horor yang akan membuat penonton sulit tidur, tapi film ini cocok dinikmati sebagai hiburan. 

Sobat Yoursay ada yang belum nonton? Buruan gih sebelum turun layar!