M. Reza Sulaiman | Fauzah Hs
Ilustrasi Garuda Pancasila (Unsplash/Mufid Majnun)
Fauzah Hs

Sudahkah Sobat Yoursay membuka media sosial hari ini? Beranda kita pasti sedang penuh dengan unggahan twibbon, kutipan estetik para tokoh bangsa, hingga dokumentasi upacara bendera yang mengusung narasi seragam khas tanggal 1 Juni.

Di momen Hari Lahir Pancasila ini, kita memang sering kali melihat ideologi negara hanya sebagai urusan domestik—sebuah jimat sakti yang menjaga agar Sabang sampai Merauke tidak bercerai-berai. Memang tidak salah sih, tetapi pandangan seperti ini membuat kita melupakan satu hal besar. Jika kita membedah tema Hari Lahir Pancasila yang dirilis BPIP tahun ini, di paruh kedua ada narasi yang sangat menarik, yaitu peran Pancasila sebagai "Fondasi Perdamaian Dunia".

Sobat Yoursay, kalau kita menengok situasi geopolitik hari ini, dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Lanskap global saat ini sangat mirip dengan era Perang Dingin, namun dengan pemain dan kompleksitas yang baru. Kita melihat ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu Baratnya berhadapan dengan poros kebangkitan geopolitik baru. Konflik bersenjata kini menjadi berita nyata yang kita saksikan setiap hari di layar gawai.

Di tengah situasi yang terpolarisasi ini, dunia seolah dipaksa untuk memilih kubu. Jika tidak ikut blok A, maka Anda adalah musuh bagi blok B. Polarisasi ekstrem inilah yang membuat relevansi ideologi kita, Pancasila, naik kelas menjadi sebuah tawaran solusi global, sebuah "Jalan Ketiga".

Bicara soal Pancasila sebagai solusi dunia sebenarnya bukan hal baru yang dipaksakan. Mari kita memutar waktu kembali ke tanggal 30 September 1960. Di hadapan sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Soekarno menyampaikan sebuah pidato monumental yang diberi judul To Build the World Anew (Membangun Dunia Kembali).

Di panggung megah itu, Bung Karno dengan lantang memperkenalkan Pancasila kepada para pemimpin dunia yang saat itu sedang tegang-tegangnya karena Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Beliau menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya milik Indonesia, melainkan prinsip universal yang bisa diadopsi oleh seluruh umat manusia untuk menciptakan perdamaian yang hakiki. Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai jalan keluar agar negara-negara dunia tidak terjebak dalam dualisme ideologi yang destruktif.

Lantas, bagaimana formula ini bekerja di era modern? Kuncinya terletak pada Sila Kedua dan Sila Kelima. Dua sila ini jika ditarik ke panggung diplomasi internasional akan melahirkan sebuah sistem hubungan antarnegara yang sangat humanis.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, adalah antitesis dari politik standar ganda yang sering dimainkan oleh negara-negara adidaya. Kita sering melihat bagaimana hukum internasional ditegakkan dengan tegas pada satu konflik, namun mendadak tumpul dan penuh kompromi pada konflik di belahan dunia lain. Sila kedua menuntut adanya moralitas yang setara. Di mata Pancasila, hak asasi dan kedaulatan sebuah bangsa—baik itu bangsa besar di Eropa maupun bangsa yang sedang berjuang di Timur Tengah—memiliki nilai yang sama tinggi. Kemanusiaan tidak boleh disekat oleh kepentingan ekonomi maupun kedekatan geopolitik.

Sementara itu, Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, jika diekstrapolasi ke ranah global akan bertransformasi menjadi keadilan sosial bagi seluruh bangsa di dunia. Sobat Yoursay, akar dari banyak konflik global hari ini sebenarnya adalah ketimpangan ekonomi dan perebutan sumber daya. Negara-negara utara yang kaya sering kali mendikte kebijakan ekonomi negara-negara selatan yang berkembang. Pancasila memandang bahwa perdamaian abadi mustahil tercapai selama arsitektur ekonomi dunia masih bersifat eksploitatif. Perdamaian global hanya bisa tegak jika ada pemerataan kesejahteraan, transfer teknologi yang adil, dan penghapusan segala bentuk neo-kolonialisme ekonomi.

Melalui lensa ini, kita bisa melihat bahwa kebijakan politik luar negeri Indonesia yang "bebas aktif" bukan berarti kita menjadi penonton yang pasif atau cari aman. Bebas berarti kita tidak mendiktekan diri pada kemauan blok mana pun, dan aktif berarti kita bergerak maju menjadi jembatan perdamaian. Ketika Indonesia mengambil peran aktif dalam mendamaikan konflik, mengirimkan pasukan perdamaian PBB, atau menyuarakan hak-hak negara berkembang di forum internasional, kita sedang mengeksplorasi kekuatan Pancasila dalam skala makro.

Menjadikan Pancasila sebagai "Jalan Ketiga" di tengah ketegangan dunia baru membuat ideologi kita ini terlihat sangat keren, visioner, dan jauh dari kesan kuno. Pancasila adalah sebuah tawaran peradaban, bukan hafalan wajib saat sekolah atau pemanis pidato pejabat saja.

Jadi, saat kita memperingati Hari Lahir Pancasila, mari kita perluas ruang pandang kita. Kita patut bangga karena para pendiri bangsa tidak hanya mewariskan sebuah dasar negara untuk bertahan hidup sebagai sebuah bangsa, tetapi juga membekali kita dengan sebuah kompas moral untuk ikut serta menata dunia yang lebih adil dan damai.

Tugas kita sekarang, khususnya generasi muda Sobat Yoursay, adalah terus menyuarakan nilai-nilai ini agar tidak berhenti menjadi jargon semata, melainkan menjadi aksi diplomasi yang nyata di panggung dunia.