Setiap tahun, kita merayakan nama Raden Ajeng Kartini—mengutip kata-katanya, mengenang jasanya, dan mengulang cerita tentang perjuangannya. Namun, di tengah perayaan itu, ada satu hal yang sering luput kita sadari: Kartini tidak pernah mengajarkan perempuan untuk menjadi sempurna.
Jika kita menengok kembali pemikirannya, terutama dalam kumpulan suratnya yang dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kita justru akan menemukan sosok perempuan yang sangat manusiawi. Kartini bukan figur tanpa cela. Ia adalah perempuan yang berpikir, mempertanyakan, merasa ragu, bahkan mengalami kegelisahan yang dalam terhadap hidupnya sendiri.
Kartini hidup dalam keterbatasan. Ia terikat oleh tradisi, dibatasi oleh norma, dan tidak memiliki kebebasan seperti yang sering kita bayangkan hari ini. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ia tetap berani berpikir. Ia berani merasa tidak puas. Ia berani mempertanyakan dunia yang mengekangnya. Dan justru inilah kelebihan sosoknya yang membuat Kartini masih terus dikenang hingga kini: bukan karena kesempurnaan, melainkan karena keberaniannya untuk tetap bertumbuh.
Namun sayangnya, banyak perempuan hari ini hidup dalam situasi yang cukup berbeda. Kita tumbuh dalam dunia yang terus-menerus menuntut kesempurnaan. Kita diharapkan untuk cerdas, mandiri, berprestasi, berpenampilan menarik, emosionalnya stabil, sekaligus tetap “sesuai norma”. Kita ingin menjadi versi terbaik dari diri kita, tetapi sering kali tanpa sadar, kita juga ingin menjadi versi yang “paling benar” di mata orang lain.
Keberadaan media sosial semakin memperparah fenomena tersebut. Kehidupan orang lain yang tampak rapi dan berhasil sering kali membuat kita merasa tertinggal. Kita mulai membandingkan diri, mempertanyakan pilihan hidup, bahkan meragukan nilai diri sendiri. Hingga tanpa sadar, kita mulai membangun standar yang semakin tinggi dan semakin tidak manusiawi.
Padahal jika kita mencoba memahami kembali apa yang diwariskan oleh Kartini, kita akan sadar bahwa perjuangan perempuan bukan tentang menjadi sempurna. Perjuangan itu adalah tentang memiliki ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.
Kartini sendiri tidak pernah hidup dalam kepastian. Ia menulis tentang kebimbangan, tentang harapan yang sering kali terasa jauh, dan tentang mimpi yang tidak selalu mudah diwujudkan. Ia tidak menunggu dirinya menjadi “sempurna” untuk mulai berpikir dan bersuara. Ia memulai dari apa yang ia punya: pikiran yang gelisah dan hati yang ingin berubah.
Dari situlah kita bisa belajar bahwa menjadi perempuan yang bertumbuh tidak selalu berarti menjadi perempuan yang tanpa kekurangan. Justru sebaliknya, pertumbuhan sering kali lahir dari ketidaksempurnaan itu sendiri.
Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang kita. Alih-alih bertanya, “Apakah aku sudah cukup baik?”, kita bisa mulai bertanya, “Apakah aku sudah jujur pada diriku sendiri?” Alih-alih berusaha memenuhi semua ekspektasi, kita bisa belajar memilih mana yang benar-benar penting bagi hidup kita.
Menjadi perempuan masa kini bukan tentang memenuhi semua peran sekaligus. Bukan tentang menjadi sosok ideal yang dikagumi semua orang. Tetapi tentang berani menentukan arah hidup, meski jalannya tidak selalu mulus. Tentang berani menerima diri, bahkan ketika kita belum sepenuhnya sampai di tujuan.
Kartini tidak pernah mengajarkan pada kita untuk menjadi sempurna. Ia hanya menunjukkan bahwa perempuan juga berhak berpikir, berhak bermimpi, dan berhak menentukan hidupnya sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi “lebih”, keberanian terbesar yang bisa kita miliki hari ini adalah menerima bahwa kita tidak harus selalu sempurna untuk tetap berharga. Sebab nilai diri kita tidak pernah ditentukan oleh seberapa sempurna kita terlihat.
Baca Juga
-
Review Siren's Kiss: Tentang Perempuan yang Dituduh Membunuh Orang-orang di Sekitarnya
-
Saat Impian Financial Freedom Membuat Anak Muda Terjebak Hustle Culture
-
Kejar Kebebasan Finansial tapi Kok Malah Stres? Kenali Jebakan Hustle Culture
-
Ulasan My Bias, My Boss: Romcom yang Bikin Baper Tanpa Terasa Berlebihan
-
Marry My Husband: Kesempatan Kedua Jadi Jalan Keluar dari Hubungan Toxic
Artikel Terkait
-
Refleksi Hari Kartini: Susy Susanti dan Greysia Polii Bicara Keberanian untuk Bermimpi
-
Lawan Stigma di Jalanan, Kisah Hebat Mantan Perawat Jadi Sopir Bus Transjakarta
-
Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
-
Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup
-
Kartini di Era 5G: Melawan 'Pingitan Digital' dan Kekerasan Siber
Kolom
-
Menjinakkan Akal Sehat: Mengapa Rocky Gerung Lembek di Era Prabowo?
-
Pendidikan Indonesia: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit Kemajuan
-
Dilema Mental Gratisan: Membongkar Kemalasan dan Desakan Ekonomi Gen Z
-
Tumbler, Status Sosial Baru, dan Jebakan Elitisme Gaya Hidup Ramah Lingkungan
-
Saat Impian Financial Freedom Membuat Anak Muda Terjebak Hustle Culture
Terkini
-
Bukan Cuma Melembapkan, 5 Lip Balm Hyaluronic Acid Ini Bikin Bibir Plumpy
-
Review Film Mayday: Laga Spionase Seru Berbalut Komedi yang Menghibur!
-
Ulasan Record of Youth: Memahami Kesuksesan Lewat Perjalanan Masa Muda
-
Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
-
Ulasan Upacara Kehidupan: Membongkar Batas Normal dalam Kehidupan