Sobat Yoursay, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah utas di threads yang intinya dia bercerita sedang merasa bersalah gara-gara baru mengeluarkan uang ratusan ribu buat beli skincare. Membaca postingan tersebut, seketika membuat saya tersadar bahwa saya pun pernah merasakan hal yang sama. Bukan hanya skincare, tapi saat mengeluarkan uang yang cukup besar menurut saya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda, sering muncul di pikiran, “Harusnya nggak usah beli dulu”, “Harusnya uang ini bisa ditabung aja”, dan berbagai penyesalan lain yang tiba-tiba terlintas begitu saja.
Salah satu balasan yang menarik perhatian saya berbunyi, "Sesekali nggak apa-apa." Kalimat sederhana itu justru membuat saya berpikir. Benarkah rasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang merupakan tanda bahwa kita sedang hidup hemat?
Sebagai seorang freelancer bergaji imut, saya sering merasa semakin sedikit uang yang keluar, seseorang akan semakin tenang. Sepertinya bukan hanya saya yang berpikir semacam itu. Dari cerita yang ia bagikan di utas yang saya sebut sebelumnya, posisi sebagai sandwich generation membuatnya merasa sulit untuk menikmati hasil kerja kerasnya sendiri dan merasa harus selalu mengutamakan kepentingan keluarganya lebih dulu. Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, alasannya tentu bisa jadi akan berbeda.
Saya bukan seorang sandwich generation, tetapi lahir dengan keterbatasan ekonomi membuat saya sejak kecil dididik untuk hidup hemat. Jika membeli apa pun harus yang sesuai dengan kebutuhan, meskipun kadang saya masih khilaf jika merasa lagi punya uang sisa. Tapi ending-nya, ya, tetap aja merasa bersalah.
Selain karena didikan orang tua, kondisi ekonomi yang tidak pasti juga bisa membuat seseorang merasakan hal serupa. Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya hidup terasa meningkat, sementara pendapatan masih jalan di tempat. Akibatnya, orang mulai lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang. Bahkan ketika membeli sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan pun, tetap ada kekhawatiran apakah keputusannya sudah tepat.
Kemudian ada pula yang merasa berdosa mengeluarkan uang karena takut ada kebutuhan tak terduga di waktu selanjutnya. Mereka biasanya lebih fokus pada perasaan, “bagaimana kalau nanti tiba-tiba butuh sesuatu?” Dengan pemikiran itulah, akhirnya seseorang menunda membeli sesuatu. Di situasi tertentu, kekhawatiran seperti ini memang bisa jadi bentuk kehati-hatian, tetapi jika muncul setiap kali mau mengeluarkan uang, rasa bersalah saat belanja pun jadi sesuatu yang sulit untuk dihindari.
Dan penyebab terakhir, ini yang menurut saya mungkin cukup relate dengan Gen Z. Belakangan ini media sosial juga dipenuhi berbagai konten tentang pentingnya menabung, investasi, hingga mengejar financial freedom sejak usia muda. Iya, konten-konten seperti itu memang membawa banyak manfaat. Namun, jika dikonsumsi tanpa disaring, terkadang bisa membuat seseorang merasa mengeluarkan uang adalah kesalahan. Padahal punya kemampuan mengelola finansial dengan baik bukan berarti kita sama sekali nggak boleh menikmati hasil kerja keras sendiri. Menabung dan investasi demi mencapai financial freedom memang penting, tapi membahagiakan diri sendiri juga nggak kalah penting.
Di titik ini, mungkin kita perlu mengingat kembali perihal bedanya hemat dan takut mengeluarkan uang. Hemat artinya kita membeli sesuatu tetap sesuai kebutuhan dengan perencanaan dan pertimbangan. Artinya, jika pembelian masih sesuai dengan budgeting yang sudah direncanakan sebelumnya, kita tidak perlu merasa bersalah. Sedangkan takut mengeluarkan uang itu ketika membeli sesuatu yang dibutuhkan pun terasa seperti kesalahan. Hal lain yang mungkin juga perlu kita ingat adalah tujuan kita memiliki uang pada dasarnya memang untuk digunakan secara bijak ketika diperlukan.
Lalu bagaimana menurut Sobat Yoursay? Apakah kalian pernah merasa bersalah setelah membeli sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan? Menurut kalian, itu jadi tanda hidup hemat atau malah tanda kita mulai takut mengeluarkan uang?
Baca Juga
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Realita Perpisahan dalam Lagu Rutinitas yang Nggak Cuma Bikin Patah Hati
Artikel Terkait
Kolom
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
Terkini
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club