Nama R.A. Kartini sering kali identik dengan perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun, semakin saya membaca kisahnya, saya mulai menyadari satu hal yang terasa sangat relevan hingga hari ini: Kartini adalah seorang penulis.
Ia tidak turun ke jalan, tidak berorasi di depan banyak orang. Ia menulis lewat surat-suratnya; menyampaikan keresahan, pemikiran, dan harapannya tentang masa depan perempuan. Dan tanpa sadar, saya melihat refleksi itu pada penulis zaman sekarang. Kartini dan kita mungkin hidup di era yang berbeda, tapi cara kami bersuara ternyata tidak jauh berbeda.
Tulisan sebagai Ruang Aman untuk Bersuara
Bagi Kartini, surat adalah satu-satunya ruang untuk mengekspresikan pikiran. Di tengah keterbatasan ruang gerak, tulisan menjadi jalan untuk tetap “hidup” secara intelektual. Selayaknya penulis, kata demi kata menjadi senjata Kartini dalam menyampaikan keresahannya.
Sebagai penulis di era sekarang, saya juga merasakan hal yang sama—meski dalam konteks yang berbeda. Tulisan sering kali menjadi ruang paling jujur. Ada hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung, tapi bisa mengalir lewat kata-kata. Keresahan, kebingungan, bahkan hal-hal yang terlalu personal bisa terasa lebih aman ketika dituliskan. Di situlah saya merasa ada benang merah antara Kartini dan penulis di zaman sekarang.
Dari Surat ke Platform Digital
Perbedaan paling mencolok tentu ada pada medianya. Jika R.A. Kartini harus menunggu berhari-hari agar suratnya sampai, hari ini tulisan bisa dipublikasikan dalam hitungan detik. Blog, media online, hingga media sosial menjadi ruang baru bagi penulis untuk bersuara.
Saya sendiri merasakan kemudahan itu. Tulisan yang saya buat bisa langsung dibaca banyak orang, bahkan tanpa harus saling mengenal. Ini adalah keistimewaan zaman. Tapi di sisi lain, kemudahan ini juga membawa tantangan tersendiri.
Tantangan Penulis: Antara Kecepatan dan Kedalaman
Di era digital, semuanya bergerak cepat. Tulisan harus menarik, cepat dipahami, dan sering kali harus mengikuti tren agar bisa dilihat. Akibatnya, ada tekanan untuk terus menghasilkan konten tanpa selalu punya waktu untuk benar-benar merenung.
Berbeda dengan Kartini yang menulis dengan refleksi mendalam, penulis zaman sekarang sering dihadapkan pada dilema: menulis cepat atau menulis dalam? Saya pernah berada di titik itu; menulis hanya untuk memenuhi target, bukan untuk menyampaikan sesuatu yang benar-benar saya rasakan. Dan jujur, hasilnya terasa kosong. Dari situ saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal produksi, tapi juga soal kejujuran.
Menulis sebagai Bentuk Perjuangan
Bagi Kartini, tulisan adalah bentuk perlawanan. Ia menggunakan kata-kata untuk melawan keterbatasan, menyuarakan ketidakadilan, dan membuka wawasan. Hari ini, bentuk perjuangan itu masih ada. Penulis zaman now mungkin tidak menghadapi batasan yang sama, tapi tetap punya tantangan sendiri—stigma sosial, tekanan algoritma, hingga ekspektasi pembaca. Namun esensinya tetap sama: menulis untuk menyuarakan sesuatu.
Saya melihat banyak penulis yang berani mengangkat isu penting—tentang perempuan, kesehatan mental, relasi, hingga realitas sosial yang jarang dibicarakan. Menurut saya, itu adalah bentuk lanjutan dari semangat Kartini. Salah satu hal yang tidak dimiliki Kartini di zamannya adalah koneksi yang luas. Hari ini, tulisan tidak hanya menjadi ekspresi pribadi, tapi juga jembatan antarindividu. Satu tulisan bisa membuat orang lain merasa “tidak sendirian”.
Apakah Penulis Zaman Now Sudah Seperti Kartini?
Pertanyaannya, apakah penulis zaman sekarang bisa disamakan dengan Kartini? Jawabannya mungkin tidak sepenuhnya. Konteksnya berbeda, tantangannya berbeda, dan ruang geraknya pun berbeda. Tapi semangatnya—untuk menyuarakan pikiran, menyampaikan keresahan, dan membuka ruang diskusi—masih sama.
R.A. Kartini mungkin tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari tulisan bisa tersebar dalam hitungan detik dan dibaca oleh ribuan orang sekaligus. Tapi jika dilihat dari esensinya, apa yang ia lakukan masih terus hidup hingga hari ini. Lewat setiap penulis yang berani jujur. Lewat setiap tulisan yang punya makna. Menulis adalah cara untuk bersuara. Dan selama masih ada yang ingin disuarakan, semangat R.A. Kartini akan selalu menemukan jalannya, apa pun zamannya.
Baca Juga
-
Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
-
Kartini Reborn: Perempuan Gen Z dan Hak untuk Menentukan Hidup
-
Jadi Perempuan di Era Gen Z: Melanjutkan Mimpi Kartini dengan Cara Kita
-
Dari Surat Kartini ke Story Instagram: Cara Gen Z Menyuarakan Emansipasi
-
Rumah Bukan Hanya Tempat Tinggal: Cara Mengubah Kamar Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa
Artikel Terkait
-
Peringati Hari Kartini: BRI Terus Dukung Pemberdayaan Perempuan untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Peringati Hari Kartini, Penumpang KRL Diajak Berani Lawan Pelecehan
-
BNI Dorong Kesetaraan Gender, Perkuat Peran Perempuan di Dunia Kerja dan Masyarakat
-
Kado Hari Kartini, DPR Sahkan RUU PPRT Jadi Undang-Undang
-
Kartini Masa Kini di Lapangan Basket, Nirmala Dewi Ajak Perempuan Terus Berprestasi
Kolom
-
Media Sosial sebagai Panggung Bersuara: Benarkah Itu Wujud Emansipasi?
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
-
Melawan Standar Kecantikan: Kartini sebagai Pelopor 'Self-Love' Indonesia
-
Belajar dari Kartini: Perempuan Tidak Harus Sempurna untuk Berharga
-
Di Balik Laboratorium dan Mitos: Menggugat Stigma Perempuan di Dunia Sains
Terkini
-
Dari Rayuan ke Kematian: Drama Korea Paling Gelap Sirens Kiss
-
Review Serial Beef Season 2: Hadirkan Kisah Ambisi dan Ketimpangan Sosial!
-
Tanpa Disadari, 10 Hal di Rumah Ini Bisa Menutup Pintu Rezeki Menurut Feng Shui
-
Bantah Klaim Agensi, The Boyz Sebut Pembayaran Belum Pernah Diterima
-
Siap Tayang 8 Juli, Majo no Tani no Yoru Jadi Film Pendek Baru Studio Ghibli