Kebutuhan hidup kita saat ini sedang berada dalam situasi yang berat. Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang telah menyentuh angka Rp18.000 berakibat pada merosotnya daya beli masyarakat seiring dengan naiknya harga bahan pangan pokok. Namun, di tengah kondisi tersebut, ada satu realitas ironis yang patut menjadi perhatian kita: pengeluaran untuk rokok ternyata lebih tinggi daripada beras.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2025, pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia masih didominasi oleh makanan dan minuman jadi, yakni sebesar Rp265 ribu per kapita per bulan. Namun, hal yang mengejutkan adalah belanja rokok mencapai Rp104 ribu, sedikit lebih tinggi dari beras dan padi-padian yang berada di angka Rp102 ribu. Angka pengeluaran rokok ini juga melampaui belanja sayur-sayuran, ikan, telur, susu, buah-buahan, maupun daging.
Apakah Rokok Dapat Mengenyangkan Perut?
Berdasarkan fakta dan data tersebut, timbul sebuah pertanyaan retoris: apakah rokok dapat mengenyangkan perut? Tentu jawabannya tidak. Rokok hanya memberikan kepuasan semu, yang residunya menumpuk dalam tubuh dan membahayakan kesehatan. Rokok jelas tidak mengenyangkan karena bukan bahan pangan. Namun, temuan BPS tersebut menunjukkan bahwa benda ini masih menjadi salah satu pos konsumsi utama dalam rumah tangga di Indonesia.
Kondisi ini sangat memprihatinkan. Rokok masih diutamakan padahal sebuah keluarga sangat membutuhkan konsumsi makanan bergizi untuk bertahan hidup. Bukan hanya itu, alokasi dana seharusnya bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih esensial, seperti penunjang pendidikan anak (buku, alat tulis, tas, sepatu, dan sebagainya). Akan tetapi, rokok justru dijadikan alat pemuas keinginan yang menggeser pemenuhan kebutuhan primer.
Rokok sama sekali tidak memiliki manfaat bagi tubuh, tetapi anehnya justru menjadi konsumsi utama mengalahkan beras dan sumber protein yang terbukti dapat menambah energi, meningkatkan kecerdasan otak, serta menjaga daya tahan tubuh. Memang, kita sering mendengar dalih dari para pecandu bahwa rokok dapat mengurangi stres saat beban pekerjaan menumpuk atau terasa nikmat jika diisap setelah makan.
Dalih tersebut sebenarnya sangat tidak berdasar. Hal itu hanyalah sugesti perasaan semata, bukan fakta biologis. Kita hanya terdistraksi oleh kenikmatan sesaat tanpa memikirkan dampak destruktifnya di masa depan.
Hilangnya Kendali Diri Akibat Kecanduan
Bagi orang yang sudah telanjur kecanduan, mereka tentu akan berdalih bahwa rokok sangat membantu memberikan rasa rileks. Namun, bagi nonperokok, kebiasaan tersebut sama sekali tidak memiliki arti positif.
Seharusnya, kita mampu mengendalikan diri agar tidak terjerat dalam belenggu kecanduan rokok. Banyak perokok yang menghabiskan berbungkus-bungkus rokok setiap harinya. Mari kita berhitung rasional: harga rokok di pasaran saat ini berkisar antara Rp14.000 hingga Rp37.000 per bungkus. Seandainya seseorang menghabiskan tiga sampai empat bungkus sehari, sudah berapa banyak uang yang terbakar sia-sia?
Padahal, perut keluarga butuh diisi. Jika dikalkulasikan, penggabungan biaya belanja rokok harian dengan kebutuhan makan dan minum bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah per hari. Celakanya, banyak dari para perokok ini memiliki pendapatan yang masih berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Dengan realitas ekonomi yang menekan seperti ini, alangkah baiknya jika kita mulai sadar dan mengendalikan diri untuk lebih bijak mengelola keuangan keluarga.
Prioritas untuk Masa Depan Keluarga
Setiap kepala keluarga harus lebih cerdas dalam memanajemen keuangan. Utamakan kebutuhan pokok daripada keinginan adiktif di luar itu. Kita harus sadar bahwa kondisi ekonomi yang melemah, jika ditambah dengan manajemen keuangan yang buruk, akan berakibat pada rendahnya kualitas hidup dan berpengaruh langsung pada masa depan anak.
Jika kita mengutamakan makanan bergizi, keluarga akan sehat dan memiliki fondasi yang kuat untuk menunjang keberlangsungan hidup jangka panjang. Asupan gizi yang baik akan berdampak positif pada prestasi dan kualitas kecerdasan anak, yang pada akhirnya dapat memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Jadi, mari kita renungkan kembali data BPS tersebut agar rokok tidak lagi bertengger sebagai pengeluaran utama. Mengendalikan diri agar tidak candu terhadap rokok adalah tugas dan tanggung jawab moral kita bersama.
Baca Juga
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Bukan Sekadar Menunggu: Pentingnya Doa dan Usaha Nyata dalam Menjemput Jodoh
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
-
Waspada Sindikat Transnasional: Jangan Tergiur Janji Manis Kerja di Luar Negeri
Artikel Terkait
-
Bukan Lagi Desain Keren, Tampilan Bungkus Rokok dan Vape Bakal Dibuat Seragam Begini
-
3 Aturan yang Bisa Bikin IHT Bangkrut Menurut Para Buruh
-
Jangan Seperti Industri Tekstil, Buruh Rokok Wanti-wanti Soal Regulasi IHT
-
Limbah Filter Rokok Picu Polusi Mikroplastik Global, Lebih Berbahaya?
-
BPS: Harga Beras Naik per Mei 2026, Dari Penggilingan hingga Eceran
Kolom
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Kuda Menari dan Pohon Telur: Cara Unik Orang Mandar Rayakan Maulid Nabi
Terkini
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Tak Perlu Mesin POS Mahal, 5 Tablet LTE Ini Cocok untuk Kasir Cafe dan UMKM
-
Sinopsis Whalefall, Kisah Mencekam Bertahan Hidup di Perut Paus
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!