Hayuning Ratri Hapsari | Irhaz Braga
Ilustrasi karyawan mengejar uang (Pixabay)
Irhaz Braga

Fenomena quiet quitting dalam beberapa tahun terakhir menjadi perbincangan luas di dunia kerja. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang memilih untuk bekerja sesuai deskripsi tugas tanpa memberikan usaha ekstra di luar kewajiban. Tidak ada pengunduran diri secara formal, tetapi ada jarak yang sengaja diciptakan antara individu dan pekerjaannya.

Di satu sisi, quiet quitting kerap dipahami sebagai bentuk perlawanan halus terhadap budaya kerja yang menuntut berlebihan. Selama ini, banyak pekerja dibentuk oleh narasi bahwa dedikasi diukur dari seberapa jauh mereka bersedia melampaui batas. Lembur dianggap loyalitas, kesibukan dipandang sebagai prestasi, dan kelelahan sering kali dinormalisasi.

Dalam konteks ini, quiet quitting bisa dibaca sebagai upaya merebut kembali kendali atas waktu dan energi. Pekerja mulai menyadari bahwa hidup tidak semata tentang pekerjaan. Mereka menetapkan batas yang lebih jelas, menolak beban tambahan yang tidak sebanding, dan berusaha menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga membuka pertanyaan yang lebih dalam. Apakah quiet quitting benar-benar bentuk kesadaran baru, atau justru tanda keputusasaan yang tidak terucap?

Tidak sedikit pekerja yang memilih “diam” bukan karena ingin menjaga batas, melainkan karena merasa suaranya tidak lagi didengar. Ketika ruang dialog di tempat kerja sempit, ketika aspirasi tidak mendapat respons, dan ketika perubahan terasa mustahil, menarik diri menjadi pilihan yang paling aman. Dalam kondisi ini, quiet quitting bukan lagi strategi, melainkan gejala.

Gejala dari kelelahan yang menumpuk, dari keterasingan dalam pekerjaan, dan dari hilangnya makna dalam apa yang dikerjakan. Pekerja hadir secara fisik, tetapi tidak lagi terlibat secara emosional. Mereka menyelesaikan tugas, tetapi tanpa rasa memiliki.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap kerja modern. Digitalisasi membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Notifikasi bisa datang kapan saja, tuntutan respons cepat menjadi norma, dan produktivitas sering kali diukur dari kehadiran yang terus-menerus. Dalam situasi seperti ini, menjaga jarak menjadi bentuk perlindungan diri.

Di sisi lain, perusahaan juga dihadapkan pada tantangan baru. Loyalitas karyawan tidak lagi bisa dibangun hanya melalui stabilitas pekerjaan. Generasi muda, terutama Gen Z, cenderung lebih kritis terhadap lingkungan kerja. Mereka mencari makna, fleksibilitas, dan penghargaan yang nyata, bukan sekadar janji.

Jika quiet quitting terus meluas, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa ada yang perlu dievaluasi dalam hubungan antara pekerja dan organisasi. Bukan semata soal etos kerja individu, tetapi juga tentang sistem yang membentuknya. Lingkungan kerja yang sehat seharusnya tidak memaksa karyawan untuk memilih antara kesejahteraan pribadi dan tuntutan profesional.

Pada akhirnya, quiet quitting tidak dapat dipahami secara hitam putih. Ia bisa menjadi bentuk perlawanan yang sehat, tetapi juga bisa mencerminkan kelelahan yang belum tertangani. Keduanya mungkin hadir bersamaan dalam satu fenomena yang sama.

Yang perlu dilakukan bukan sekadar menilai, melainkan memahami. Memahami bahwa di balik sikap “bekerja seperlunya”, ada cerita tentang batas yang ingin dijaga, tetapi juga tentang harapan yang mungkin telah lama diabaikan. Dalam dunia kerja yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya seberapa banyak yang bisa diberikan pekerja, tetapi juga seberapa jauh sistem mampu merawat mereka.