Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Ilustrasi cari kerja (Freepik/tonodiaz)
Natasya Regina

Belakangan ini, linimasa TikTok dipenuhi satu kalimat sederhana yang terasa ringan, tetapi menyentil banyak orang.

“Gimana mau sukses, kalau masih banyak ‘ah tapi’.”

Ungkapan ini kerap muncul di FYP dan perlahan menjadi semacam pengingat yang sulit diabaikan. Sekilas, kalimat tersebut terdengar seperti motivasi umum yang sering lewat begitu saja.

Namun, ketika dicermati lebih dalam, pesan di baliknya seolah mengarah pada satu kebiasaan yang cukup lekat dengan generasi saat ini, yaitu kecenderungan menunda atau menolak peluang kerja karena berbagai pertimbangan.

Fenomena “ah tapi” sering muncul dalam bentuk alasan yang terdengar logis dan dapat dimengerti.

"Ah tapi, gaji kurang tinggi,"

"Ah tapi, lokasi terlalu jauh,"

"Ah tapi, posisi tidak sesuai passion."

Alasan-alasan ini tidak sepenuhnya keliru. Setiap individu tentu memiliki preferensi, kebutuhan, dan batasan yang berbeda dalam memilih pekerjaan. Bahkan, di tengah meningkatnya kesadaran akan keseimbangan hidup, kesehatan mental, serta nilai diri, bersikap selektif justru dianggap sebagai langkah yang bijak.

Tidak sedikit orang yang kini menolak pekerjaan yang tidak sejalan dengan prinsip atau tujuan hidup mereka. Dalam konteks ini, memiliki standar bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Di balik berbagai pertimbangan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendalam. Apakah semua “ah tapi” benar-benar lahir dari pertimbangan rasional, atau justru menjadi cara yang tidak disadari untuk menunda langkah awal

Perbedaan antara sikap selektif dan defensif sering kali sangat tipis. Sikap selektif menunjukkan kejelasan arah dan tujuan. Sementara itu, sikap defensif kerap berakar pada keraguan dan kekhawatiran. Rasa takut tidak cocok, takut gagal, hingga kekhawatiran tidak memenuhi ekspektasi dapat mendorong seseorang untuk terus menunda keputusan.

Dalam kondisi ini, “ah tapi” tidak lagi sekadar alasan, melainkan bentuk perlindungan diri dari kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Pada beberapa situasi, keputusan menolak pekerjaan tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan atau pertimbangan praktis. Ada faktor lain yang turut berperan, yaitu citra diri.

Kekhawatiran terhadap penilaian orang lain sering hadir secara halus. Pekerjaan tertentu mungkin dianggap kurang prestisius, tidak relevan dengan latar belakang pendidikan, atau dinilai sebagai langkah mundur. Tanpa disadari, pertimbangan semacam ini dapat memengaruhi keputusan secara signifikan.

Di titik inilah istilah gengsi mulai memiliki relevansi, meskipun tidak selalu diakui secara terbuka.

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh fenomena ini disederhanakan sebagai persoalan gengsi semata. Generasi saat ini tumbuh dengan pemahaman bahwa mereka memiliki hak untuk menentukan pilihan, mengejar kebahagiaan, dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan nilai pribadi.

Pandangan ini membawa perubahan positif dalam dunia kerja. Namun, pada saat yang sama, realitas tidak selalu berjalan sejalan dengan idealisme tersebut. Peluang yang tersedia tidak selalu langsung sesuai dengan ekspektasi, terutama pada tahap awal karier.

Ada satu tahap penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu fase membangun. Fase ini biasanya ditandai dengan pekerjaan pertama yang belum sempurna, penghasilan yang masih terbatas, serta posisi yang belum sepenuhnya sesuai dengan impian.

Meski demikian, justru dalam fase inilah fondasi karier mulai terbentuk. Pengalaman kerja berkembang, relasi profesional mulai terbangun, dan arah perjalanan karier perlahan menjadi lebih jelas.

Mengabaikan fase ini berpotensi membuat seseorang terjebak dalam penantian tanpa kepastian.

Tapi memangnya “Ah Tapi” itu salah?

“Ah tapi” pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Kehadirannya dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mempertimbangkan pilihan dengan serius.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah intensitas dan alasan di baliknya. Apakah pertimbangan tersebut benar-benar membantu mengambil keputusan, atau justru menjadi penghambat untuk memulai

Dalam banyak kasus, hambatan terbesar bukan terletak pada kurangnya peluang, melainkan pada banyaknya pertimbangan yang tidak pernah benar-benar diuji dalam pengalaman nyata.

Jadi, bukan berarti seseorang harus menghilangkan semua “ah tapi”. Yang lebih penting adalah memahami kapan pertimbangan perlu dipertahankan, dan kapan harus berani diabaikan.

Keputusan untuk mencoba sering kali menjadi langkah awal yang paling krusial. Hasil memang penting, tetapi proses untuk memulai tidak kalah berharga. Dibandingkan terus menimbang tanpa kepastian, mengambil peluang yang ada dapat membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat.

Maka, tidak ada salahnya memberi ruang untuk mencoba. Karena terkadang, keberanian untuk melangkah jauh lebih menentukan daripada kesempurnaan dalam merencanakan. Jadi, tetap coba kesempatan apapun yang datang di depanmu ya, kalau tidak mencoba kita tidak akan pernah tahu hasilnya!