Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Anak Sekolah (Freepik/jcomp)
Ukhro Wiyah

Saat ini, kita sering kali mendengar bahwa sekolah kini sudah gratis. Tidak ada lagi biaya SPP sehingga tidak ada lagi pula alasan untuk tidak melanjutkan sekolah sebab keterbatasan ekonomi. Padahal, yang terjadi di lapangan tidak sesederhana itu.

Dalam hal ini, kita perlu mengakui bahwa tidak semua sekolah berada dalam skema pendidikan gratis. Termasuk sekolah tempat saya belajar saat itu, yang tetap memiliki biaya tertentu. Mulai dari biaya pembelian seragam sekolah, jariyah pembangunan gedung, biaya daftar ulang setiap semester, biaya asrama tiap bulan yang wajib untuk siswa di kelas tertentu, hingga kebutuhan lainnya seperti: buku, alat tulis, transportasi, kegiatan study tour, dan lain sebagainya.

Di masa tersebut, saya pun pernah berada di fase di mana sekolah bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang bagaimana bertahan di tengah keterbatasan ekonomi. Ada ketakutan yang menghantui: tidak bisa menyelesaikan pendidikan karena hal itu.

Sehingga alih-alih fokus pada rutinitas sekolah dan kehidupan asrama, justru ada hal lain yang lebih sering memenuhi pikiran: biaya yang tidak sedikit. Kesibukan terus bertambah, ditambah tekanan finansial yang perlahan mulai terasa, akhirnya berdampak pada satu hal paling mendasar. Penurunan prestasi akademik yang cukup drastis di awal saya menuntut ilmu di sekolah tersebut.

Tidak berhenti di sana, berbagai hal saya lakukan demi bertahan dan mendapatkan tambahan uang saku. Aktivitas tersebut sering kali baru selesai ketika hari sudah cukup larut, sementara tugas sekolah dan kewajiban belajar tetap menunggu untuk diselesaikan.

Pada titik ini, rasa lelah bukan lagi sesuatu yang datang sesekali, melainkan menjadi bagian dari keseharian. Pengorbanan tak bisa lagi dihindari. Mulai dari waktu belajar, waktu istirahat, waktu bersosialisasi dengan teman, hingga waktu untuk sekadar berkegiatan seperti halnya siswa yang lain.

Bagi sebagian orang, akses pendidikan mungkin terlihat terbuka lebar. Namun, di balik itu, ada realitas lain yang tidak selalu tampak. Biaya hidup, kebutuhan harian, hingga tuntutan untuk mandiri lebih cepat menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapi. Dalam kondisi seperti ini, fokus tidak lagi sepenuhnya tertuju pada pelajaran, melainkan terbagi dengan berbagai hal yang tidak kalah mendesak.

Tidak sedikit siswa yang akhirnya mencari cara sendiri untuk bertahan. Mengajar di waktu luang, mengambil pekerjaan sampingan, atau melakukan berbagai upaya lain demi mendapatkan tambahan penghasilan. Apa yang seharusnya menjadi fase untuk belajar dan berkembang, perlahan berubah menjadi fase untuk bertahan.

Kesibukan yang terus bertambah membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Lelah menjadi hal yang biasa. Waktu belajar berkurang. Konsentrasi tidak lagi utuh. Bahkan, tidak sedikit yang harus menerima kenyataan bahwa prestasi akademik mereka menurun—bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan.

Saya memahami bahwa kondisi ini mungkin tidak dialami oleh semua orang. Bahkan, saya menyadari bahwa masih banyak di luar sana yang menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Namun, justru dari pengalaman inilah saya melihat bahwa istilah “sekolah gratis” sering kali belum benar-benar menyentuh akar persoalan.

Ada biaya yang tidak tercatat dalam kebijakan, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Biaya untuk bertahan, biaya untuk tetap melangkah, dan biaya untuk tidak menyerah di tengah keterbatasan.

Pendidikan memang seharusnya menjadi hak setiap orang. Namun, akses yang setara tidak hanya berhenti pada penghapusan biaya administrasi. Ia juga menyangkut kemampuan untuk menjalani proses belajar tanpa dibebani hal-hal yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawab seorang pelajar.

Dan di sini, kita bisa melihat bahwa mungkin benar, sekolahnya gratis. Namun, perjuangan untuk bertahan dan tetap berada di dalamnya, sering kali harus dibayar dengan pengorbanan yang tidak terlihat.

Karena itu, pembicaraan tentang pemerataan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada penghapusan biaya sekolah semata. Dukungan terhadap kebutuhan penunjang seperti tempat tinggal ataupun asrama dengan biaya yang lebih terjangkau, maupun biaya hidup siswa dari keluarga kurang mampu juga perlu menjadi perhatian. Sebab tanpa itu, banyak pelajar tetap dipaksa berjuang sendirian untuk sekadar bertahan.