Saya pernah merasa sudah memberikan yang terbaik di tempat kerja—datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan serius, bahkan sering mengambil inisiatif lebih. Tapi anehnya, pengakuan itu tidak selalu datang.
Bukan berarti tidak dihargai sama sekali, tapi rasanya ada yang kurang. Seolah-olah, apa yang saya lakukan dianggap biasa saja. Pengakuan itu seperti begitu “mahal”, apalagi apresiasi nyata.
Dari situ, saya mulai menyadari kalau menjadi perempuan di dunia profesional bukan hanya soal bekerja keras, tapi juga soal bagaimana kerja keras itu dipandang. Dan sayangnya, kesetaraan karier belum benar-benar terealisasi.
Ekspektasi Tinggi, Apresiasi Minim
Saya melihat ada ekspektasi yang cukup tinggi terhadap perempuan di tempat kerja. Harus rapi, harus teliti, harus komunikatif, harus bisa diandalkan. Tapi ketika semua itu terpenuhi, sering kali dianggap sebagai hal yang “memang seharusnya”.
Tidak ada yang benar-benar terlihat menonjol dari kontribusi yang sudah diberikan. Saya bahkan pernah berpikir, mungkin saya memang belum cukup baik. Tapi setelah melihat sekitar, saya sadar kalau ini bukan hanya tentang perempuan.
Kontribusi yang Sering Tidak Terlihat
Ada banyak hal yang perempuan lakukan yang tidak selalu masuk dalam penilaian formal. Membantu rekan kerja, menjaga suasana tim tetap nyaman, dan mengatur hal-hal kecil agar pekerjaan berjalan lancar.
Hal-hal ini mungkin terlihat sederhana, tapi dampaknya nyata. Sayangnya, kontribusi seperti ini sering tidak dianggap sebagai “prestasi”. Padahal, tanpa itu, banyak hal tidak akan berjalan sebaik yang terlihat.
Harus Bekerja Lebih Keras untuk Dianggap Setara
Saya juga merasakan bahwa untuk mendapatkan pengakuan yang sama, perempuan sering harus bekerja lebih keras. Harus lebih konsisten, lebih membuktikan diri, dan kadang harus lebih sabar menghadapi keraguan dari orang lain.
Ini bukan selalu sesuatu yang terlihat jelas, tapi terasa. Dalam cara pendapat kita dipertimbangkan. Dalam peluang jenjang karier yang diberikan. Dan dalam bagaimana kita dinilai.
Keraguan yang Datang dari Dalam
Yang lebih sulit lagi adalah ketika semua itu mulai memengaruhi cara saya melihat diri sendiri. Saya pernah meragukan kemampuan saya, bukan karena tidak mampu, tapi karena merasa tidak cukup diakui. Dan saya akhirnya sadar itu berbahaya.
Karena di titik itu saya mulai menahan diri. Tidak berani mengambil peluang. Tidak yakin dengan keputusan sendiri. Padahal, masalahnya bukan pada kemampuan saya.
Antara Profesional dan Stereotip
Perempuan juga masih sering dihadapkan pada dilema. Jika terlalu tegas, dianggap keras. Jika terlalu lembut, dianggap kurang tegas. Saya pernah mencoba menyesuaikan diri dengan ekspektasi itu, tapi hasilnya justru membuat saya tidak nyaman.
Seolah apa pun yang saya lakukan selalu ada label yang mengikuti. Dan itu membuat saya berpikir: apakah saya harus terus menyesuaikan, atau mulai menjadi diri sendiri?
Belajar Mengakui Diri Sendiri
Di tengah semua itu, saya mulai belajar satu hal penting: jika pengakuan dari luar tidak selalu datang, saya harus mulai mengakuinya sendiri. Bukan dalam arti sombong, tapi dalam bentuk kesadaran.
Bahwa apa yang saya lakukan punya nilai. Bahwa usaha saya tidak sia-sia. Dan bahwa saya berhak merasa bangga. Ini bukan proses yang instan, tapi perlahan saya mulai merasa lebih percaya diri.
Perubahan Tidak Hanya dari Satu Arah
Saya juga sadar kalau perubahan tidak bisa hanya datang dari individu. Lingkungan kerja juga perlu berubah menjadi lebih adil dalam menilai, lebih terbuka dalam memberi kesempatan, dan lebih sadar kalau kontribusi tidak selalu terlihat dalam angka.
Bekerja keras seharusnya diiringi dengan pengakuan yang layak. Tapi ketika itu tidak selalu terjadi, bukan berarti usaha yang sudah dilakukan tidak berarti. Saya pun masih belajar untuk tetap percaya pada diri sendiri, meski tidak selalu mendapat validasi.
Ingat satu hal, nilai dari apa yang kita lakukan tidak hanya ditentukan oleh orang lain. Tapi juga oleh bagaimana kita menghargai diri sendiri. Karena pada akhirnya, dunia profesional akan lebih sehat jika semua orang merasa dihargai.
Baca Juga
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?
-
Pergi Bukan Berarti Gagal: Memilih Diri Sendiri dari Jerat Toxic Relationship
-
Saat Perempuan Dipaksa Masuk Standar yang Sama: Cantik Versi Siapa?
-
Sering Canggung Saat Disayang? Ternyata 4 Zodiak Ini Memang Punya 'Alarm' Dingin!
-
Menulis dari Pengalaman: Rahasia Agar Tulisan Kolom Lebih Hidup dan Relate
Artikel Terkait
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Di Balik Paket dan Perjuangan: Cerita Kurir Perempuan Menaklukkan Tantangan Lapangan
-
Literasi Keuangan Jadi Kunci Perempuan Lebih Percaya Diri Kelola Bisnis
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?
-
Celios Dukung Pemerintah Beri Insentif Fiskal Berbasis Penyerapan Tenaga Kerja
Kolom
-
Membongkar 'Biaya Siluman' Pendidikan: Dari Tingkat Sekolah hingga Kampus
-
Mahalnya Harga Pendidikan: Ketika Pengorbanan Menjadi Satu-satunya Jalan
-
Gratis Itu Relatif, Setidaknya Itu yang Saya Pelajari dari Sekolah Negeri
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
Terkini
-
Mengingat yang Dilupakan: Kisah Segara Alam dan Bayang-Bayang 1965
-
Perdana Tayang, Film Michael Raup 39,5 Juta Dolar di Box Office Domestik
-
Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir
-
Mewarisi Kartini yang Mana? Membaca Ulang Jalan Menuju Terang
-
Jadi Ahli Bedah Toraks: Pesona Lee Jong-suk di Doctor Stranger