Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi anak sekolah di desa (Pexels/Daniel Lee)
Rahel Ulina Br Sembiring

Seringkali kita mendengar narasi besar tentang "pendidikan gratis" yang digembar-gemborkan oleh penguasa. Namun, jika kita turun ke lapangan dan melihat realita di kampung saya sendiri, Namorambe, narasi itu seringkali hanya terdengar seperti omon-omon belaka. Di sana, di mana mayoritas penduduknya menggantungkan hidup sebagai petani dengan penghasilan harian yang sangat terbatas, akses pendidikan hanyalah sebuah ilusi yang jauh dari jangkauan.

Ilusi Gratis di Balik Perintilan Sekolah

Pemerintah mungkin bangga karena telah menggratiskan SPP, namun mereka lupa bahwa sekolah bukan hanya soal iuran bulanan. Ada sederet "biaya perintilan" yang membentang: biaya seragam, buku tulis, sepatu, hingga ongkos transportasi. Bagi para petani di kampung kami, uang hasil panen atau upah harian tidaklah menentu. Setiap pagi, mereka harus memutar otak hanya untuk memastikan ada nasi di meja makan.

Ketika dihadapkan pada pilihan antara membeli buku sekolah atau membeli beras, insting bertahan hidup orang tua tentu akan memilih beras. Pendidikan akhirnya dikesampingkan, bukan karena mereka tidak ingin anaknya pintar, tapi karena perut yang lapar tidak bisa menunggu. Inilah retakan sistemik yang gagal diantisipasi oleh kebijakan pendidikan kita; kebijakan yang dibuat di ruang ber-AC tanpa pernah menyentuh tanah becek tempat rakyat kecil berjuang.

Siklus Kemiskinan yang Mematikan Motivasi

Dampak dari ketidaksiapan ini sangat telak. Banyak anak-anak di kampung kami yang hanya mampu mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP. Mengapa? Karena motivasi mereka dipangkas oleh kemiskinan yang nyata. Mereka melihat orang tuanya membanting tulang di sawah dan ladang, namun hidup tetap susah. Akhirnya muncul persepsi, "Buat apa sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya tetap susah?"

Hasilnya, kita melihat generasi yang kehilangan arah. Tanpa ijazah yang cukup dan tanpa bekal keterampilan, mereka terjebak dalam gaya hidup luntang-lantung, akrab dengan rokok di pinggir jalan, dan akhirnya hanya mampu mengikuti jejak orang tua mereka sebagai petani atau buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak pasti. Mimpi untuk merantau demi memperbaiki nasib pun sering kandas sebelum dimulai, karena untuk modal berangkat pun mereka tidak punya.

Negara Berjarak, Korupsi Semakin Marak

Sungguh miris jika kita membandingkan kondisi ini dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Di sana, "gratis" benar-benar berarti tanggung jawab negara yang total. Mereka menjamin akses pendidikan tanpa membebankan biaya tersembunyi. Di Indonesia, kita justru disuguhi ironi yang menyakitkan: pemerintah tampak tidak peduli, seolah memiliki hati yang beku terhadap jeritan warganya, namun di saat yang sama, berita tentang kasus korupsi pejabat terus menghiasi layar kaca.

Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk subsidi pendidikan atau bantuan biaya hidup bagi siswa miskin, justru menguap ke kantong-kantong pribadi. Ini bukan sekadar kegagalan administratif, ini adalah kegagalan moral. Bagaimana negeri ini mau maju jika pondasi manusianya dibiarkan rapuh? Kita sedang membiarkan siklus kebodohan dan kemiskinan ini berulang dari generasi ke generasi.

Kesimpulan: Pendidikan Harus Menjadi Solusi, Bukan Beban

Negara harus berhenti bersembunyi di balik kata "gratis". Jika pemerintah memang ingin merangkul siswa dari keluarga prasejahtera, khususnya di wilayah dengan UMR rendah seperti Medan, intervensinya harus total. Berikan bantuan biaya hidup, bukan hanya membebaskan SPP. Perbaiki sistem pendataan agar bantuan tepat sasaran, bukan hanya bagi mereka yang memiliki akses birokrasi, tapi bagi mereka yang benar-benar tersisih di pinggiran desa.

Jika kita terus membiarkan kondisi ini berlanjut, jangan heran jika Indonesia akan terus stagnan. Pendidikan yang berkualitas adalah satu-satunya tangga bagi rakyat miskin untuk keluar dari kubangan kemiskinan. Jika tangga itu dipatahkan oleh sistem yang tidak berempati, maka kita sedang memastikan bahwa masa depan negeri ini akan terus suram. Saatnya pemerintah memiliki hati; karena pendidikan adalah hak dasar, bukan sekadar komoditas politik untuk menjaga citra.