Ketika mendengar kata ‘koruptor’, kebanyakan orang langsung menyoroti latar belakang pendidikan tingginya. Berbeda halnya dengan Anies Baswedan, ia justru mengajak melihat lebih jauh hingga ke bangku Taman Kanak-kanak (TK).
Pada acara dialog terbuka Open House Universitas Paramadina, Anies Baswedan menyampaikan bahwa integritas itu penting untuk ditumbuhkan sejak usia dini sebagai fondasi utama pendidikan karakter.
Ia bahkan menyatakan kepada audiens bahwa orang yang tidak jujur, salah satu di antaranya yaitu koruptor, justru jangan ditanyakan latar belakang mereka saat berada di pendidikan tinggi, tetapi tanyakan di mana mereka menimba ilmu sejak pendidikan anak usia dini.
"Makanya saya sering bilang kalau ada orang yang korup nih, jangan ditanya universitasnya di mana, tapi tanya TK-nya di mana? Karena belajar tentang kejujuran itu di usia belia. Lagi main, ini barang milik saya, ini barang milik orang lain. Itu belajar dari situ," ucap Anies.
Menurutnya, integritas merupakan kompas moral penunjuk arah yang bukan hanya pernyataan nilai, melainkan harus diwujudkan dalam langkah praktis seperti aksi dan kebiasaan yang konsisten.
Integritas juga sulit ditanamkan tanpa adanya teladan dari pembimbing atau pendidik. Misalnya, jika nilai seperti kedisiplinan diajarkan, maka pendidik harus memberikan contoh nyata, seperti datang tepat waktu.
Anies menutup dialog terbuka dengan mengatakan bahwa integritas dan meritokrasi adalah dua kunci utama bagi Indonesia di masa depan agar tetap relevan secara global, baik dalam persaingan internasional maupun potensi anak dalam negeri.
Oleh sebab itu, karakter dan integritas perlu ditumbuhkan sejak usia belia dengan mengarahkan kebiasaan-kebiasaan baik secara konsisten. Integritas harus ditegakkan melalui sikap tegas terhadap berbagai penyimpangan.
Pada dasarnya, hubungan antara perilaku korupsi dan pendidikan anak usia dini memang tidak bisa dipisahkan. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuat kita menyalahkan institusi pendidikan, apalagi menuduh bahwa lembaga tersebut melahirkan para koruptor.
Kita perlu menanyakan latar belakang pendidikan mereka karena pendidikan di taman kanak-kanak berperan besar dalam membentuk kebiasaan dasar hingga mengenalkan konsep benar dan salah secara sederhana.
Adanya koruptor bukan karena guru tidak mengajarkan perilaku terpuji semasa mereka kecil, melainkan karakter baik itu berubah karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pilihan diri seseorang saat beranjak dewasa.
Perubahan itu menunjukkan bahwa akar nilai kejujuran itu rusak oleh dirinya sendiri. Pendidikan karakter yang sudah diingatkan sejak kecil untuk berperilaku jujur pada akhirnya perlahan memudar dalam diri seseorang.
Contohnya, seseorang yang sejak kecil diajarkan kejujuran tetap bisa tergoda ketika berada dalam lingkungan kerja yang banyak penyimpangan ataupun minim pengawasan.
Dengan kata lain, pendidikan usia dini adalah fondasi, tetapi bukan penentu tunggal—karena karakter juga diuji dan dibentuk ulang sepanjang kehidupan. Kejujuran bukan hanya tentang apa yang diajarkan saat kecil, tetapi tentang apakah nilai itu dijaga ketika seseorang dihadapkan pada godaan.
Terlebih lagi, di era digital yang serba transparan ini, integritas perlu ditumbuhkan pada setiap diri generasi muda, sebab setiap keputusan akan terus terekam dalam jejak digital.
Selain itu, institusi pendidikan berperan krusial dalam menjaga standar integritas agar tidak ternodai. Guru pada pendidikan anak usia dini diharapkan tidak terlalu fokus pada prestasi akademik, seperti mengejar nilai, mengikuti perlombaan, atau menghafal bacaan.
Akan tetapi, guru justru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kehormatan, dan lain sebagainya yang terkandung dalam pendidikan karakter guna membangun generasi yang beradab di masa depan.
Saat masih menginjak usia dini, anak masih mudah untuk diarahkan. Sebaliknya, saat sudah menginjak usia dewasa, perubahan sikap membutuhkan usaha jauh lebih besar. Hal ini diibaratkan seperti batang pohon muda yang mudah dibentuk, sedangkan ketika sudah menjadi kayu, ia mengeras dan sulit diarahkan kembali.
Baca Juga
-
Ilusi Sekolah Gratis: Kisah Siswa yang Rela Sekolah di Tengah Keterbatasan
-
Kasus SMAN 1 Purwakarta: Berhenti Menggeneralisasi Adab Siswa karena Ulah Oknum
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
-
Nasihat Bahlil Soal Matikan Kompor: Ketika Urusan Dapur Naik Kelas Jadi Isu Energi Nasional
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol
Artikel Terkait
-
Review Ayahku (Bukan) Pembohong: Menemukan Hakikat Kejujuran dalam Dongeng
-
Asal-usul Meme 'Pokoknya Ada' yang Viral di Media Sosial
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Momen Halalbihalal di Cikeas, Kedekatan Anies dan AHY Jadi Sorotan
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
Kolom
-
Kasta 'HP Kentang': Saat Spek Gadget Jadi Penentu Nilai di Sekolah
-
Menyoal Pungutan Galon dan Redefinisi Infak Pembangunan di Madrasah
-
Saat Harapan Pendidikan Berhadapan dengan Realitas Keterbatasan Ekonomi
-
Sukarela yang Terasa Wajib: Biaya Tak Tertulis di Balik Sekolah Gratis
-
Kasta Ekskul di Sekolah Negeri: Bakat yang Terhalang Isi Dompet
Terkini
-
Kebaya Syifa Hadju saat Akad Nikah Curi Perhatian, Intip Detailnya!
-
Suka Perfect Crown? Ini 5 Drama Tema Kerajaan Modern yang Tak Kalah Seru
-
Mau Nonton Lebih Irit? XXI Sekarang Bolehkan Bawa Tumbler, Ini Syaratnya!
-
5 Drama China Trope Friends to Lovers, Ada You Are My Lover Friend
-
Ronce Melati Siraman Syifa Hadju Viral, Didiet Maulana Beri Izin Ditiru?