Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Drama Dating In The Kitchen (mydramalist.com)
aisyah khurin

Dirilis pada tahun 2020, drama Dating in the Kitchen merupakan adaptasi dari novel populer berjudul Finally I Get You karya Lan Bai Se, yang sebelumnya juga telah sukses diangkat ke layar lebar dalam film This Is Not What I Expected (2017) yang dibintangi oleh aktor legendaris Takeshi Kaneshiro dan aktris berbakat Zhou Dongyu.

Dalam total 24 episode, drama China ini menyajikan eksplorasi yang lebih luas mengenai romansa dengan perbedaan usia yang signifikan (age-gap romance), benturan kelas sosial, dan bagaimana makanan berfungsi sebagai bahasa cinta universal. 

Sinopsis Drama Dating in the Kitchen

Dating in the Kitchen berpusat pada dinamika hubungan antara Gu Shengnan (Zhao Lusi) dan Lu Jin (Lin Yushen). Gu Shengnan adalah seorang asisten koki berusia 21 tahun yang bekerja di dapur Hotel Bauhinia. Ia adalah sosok yang kreatif, penuh semangat, namun sering kali ceroboh dan tertimpa nasib buruk.

Di sisi lain, Lu Jin adalah seorang presiden direktur berusia paruh baya dari sebuah perusahaan multinasional yang berniat mengakuisisi hotel tempat Gu Shengnan bekerja. Lu Jin dikenal sebagai sosok yang dingin, perfeksionis, sangat kaku, dan memiliki standar yang luar biasa tinggi terhadap makanan. 

Pertemuan awal mereka tidak terjadi di bawah sinaran lampu dapur yang hangat, melainkan melalui serangkaian insiden komedi yang menguji kesabaran. Salah satu momen ikonik terjadi ketika Gu Shengnan, dalam upaya membela temannya, secara tidak sengaja merusak mobil mewah milik Lu Jin dengan coretan tepung.

Konflik semakin memuncak ketika insiden sup jamur setengah matang yang disiapkan oleh Gu Shengnan membuat Lu Jin mengalami keracunan ringan, memaksa sang miliarder meminum air sabun hingga mengeluarkan gelembung busa dari mulutnya. 

Meskipun interaksi mereka diawali dengan berbagai kesalahpahaman ekstrem, takdir mempertemukan mereka kembali melalui meja makan. Lu Jin yang sangat pemilih menyadari bahwa hanya masakan buatan Gu Shengnan yang mampu memuaskan selera makannya yang rumit.

Sebuah kesepakatan bisnis yang tidak biasa pun lahir, Gu Shengnan harus memasak secara pribadi untuk Lu Jin demi melunasi utang ganti rugi atas kerusakan mobil yang ia timbulkan. Di balik kepulan asap dapur dan keindahan penyajian hidangan, interaksi harian ini perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanan Lu Jin yang dingin, menumbuhkan romansa yang mendalam di tengah perbedaan usia dan status sosial yang membentang lebar di antara mereka. 

Kelebihan

Daya tarik utama yang membuat Dating in the Kitchen menonjol di antara drama romantis sejenis adalah chemistry yang sangat kuat antara Lin Yushen dan Zhao Lusi. Hubungan beda usia sering kali menjadi elemen yang sensitif dan sulit dieksekusi dalam drama modern. Namun, kedua pemeran utama berhasil menampilkan dinamika yang tidak hanya meyakinkan tetapi juga penuh sensualitas yang elegan.

Zhao Lusi berhasil membawakan peran ini dengan sentuhan komedi yang alami, yang membuat penonton bersimpati dan jatuh cinta pada kepribadiannya yang tulus. Keberhasilan Zhao Lusi dalam menghidupkan karakter Nan Nan bahkan menjadi tolok ukur tersendiri; upaya aktris lain dalam drama serupa untuk meniru arketipe karakter seperti ini sering kali dinilai gagal menyamai pesona alami yang dihadirkan oleh Zhao Lusi. 

Aspek sinematografi kuliner dalam drama ini layak mendapatkan apresiasi setinggi film layar lebar. Sutradara berhasil memperlakukan makanan bukan sekadar sebagai pelengkap latar, melainkan sebagai karakter ketiga yang menjembatani emosi kedua tokoh utama. 

Kekurangan

Ketika fokus cerita bergeser dari dinamika interaksi kuliner di dapur ke arah intrik bisnis keluarga dan konflik eksternal, drama ini mulai terjebak dalam kiasan-kiasan usang yang dipaksakan.

Salah satu poin yang paling banyak dikeluhkan adalah kemunculan karakter ibu dari Lu Jin yang mengadopsi stereotip ibu mertua kaya raya yang manipulatif dan sangat menentang hubungan putranya dengan gadis dari kelas sosial yang lebih rendah. Konflik ini terasa repetitif dan memperlambat momentum romansa menyenangkan yang telah dibangun dengan sangat baik pada episode-episode awal. 

Kekurangan lain terletak pada konsistensi karakterisasi Gu Shengnan menjelang akhir cerita. Pada beberapa episode terakhir, ketika dihadapkan pada kesalahpahaman atau tekanan dari keluarga Lu Jin, respon emosional Gu Shengnan terlihat terlalu kekanak-kanakan dan regresif. Ia sering kali memilih untuk melarikan diri, menghindari komunikasi yang matang, dan menolak untuk mendengarkan penjelasan dari Lu Jin. 

Kesimpulan 

Secara keseluruhan, Dating in the Kitchen (2020) berhasil menjadi salah satu drama komedi romantis modern China yang paling menghibur dan memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Keberhasilan proyek adaptasi ini terletak pada keberanian sutradara untuk mengeksplorasi romansa beda usia dengan pendekatan yang dewasa, sensual, namun tetap mempertahankan elemen komedi situasi yang segar.

Bagi para penonton yang mencari tontonan romantis dengan intensitas chemistry yang tinggi, humor yang menghibur, serta visualisasi makanan yang memanjakan mata, drama ini dapat menjadi rekomendasi tontonanmu di akhir pekan.