Sejak Prabowo Subianto resmi menjadi presiden Oktober tahun lalu, suasana kebijakan di Indonesia terasa agak berbeda. Bukan sekadar beda gaya komunikasi—yang kadang tegas, kadang meledak-ledak—tapi juga beda arah. Kalau diperhatikan, kebijakan-kebijakan yang keluar dari pemerintahannya seperti punya dua kaki: satu menapak ke masa lalu, satu lagi meloncat ke masa depan.
Di satu sisi, ada upaya menghidupkan kembali pikiran-pikiran para pendiri bangsa. Di sisi lain, ada dorongan besar untuk “mengubah total” banyak sektor; dari pendidikan sampai pangan, dari digitalisasi sampai koperasi. Jadinya, muncul satu pertanyaan yang agak ambisius: jangan-jangan kita lagi masuk babak baru? Sebuah fase yang bisa disebut sebagai “Orde Transformasi”.
Melihat Jejak Orde di Indonesia
Istilah ini memang agak berat. Namun, jika ditarik pelan-pelan, ada logikanya juga. Indonesia bukanlah negara yang diam di tempat. Sejak awal merdeka, kita sudah beberapa kali berganti “mode hidup”.
Dulu ada Orde Lama, masa ketika negara ini masih sibuk membereskan urusan dalam negeri sambil sesekali terlibat tarik-menarik geopolitik global. Lalu datang Gerakan 30 September yang menjadi semacam titik koma sebelum kita pindah ke Orde Baru. Di bawah Soeharto, fokusnya jelas: pembangunan. Jalan dibangun, ekonomi digas, tapi ya itu… demokrasi disimpan di lemari, hak asasi kadang dianggap gangguan.
Sampai akhirnya krisis ekonomi datang seperti tamu tak diundang, disusul Reformasi 1998 yang menjatuhkan semuanya. Kita masuk ke era baru yang penuh harapan. Ada amandemen konstitusi, lahir Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial, presiden dipilih langsung, dan rakyat merasa: “Oke, ini kayaknya mulai benar.” Masalahnya, harapan itu lama-lama lelah sendiri.
Kegelisahan Pascareformasi
Sudah lebih dari dua dekade, tapi banyak hal terasa jalan di tempat. Korupsi bukannya hilang, malah terlihat seperti franchise—cabangnya di mana-mana. Otonomi daerah yang seharusnya membuat daerah makin berdaya, kadang malah melahirkan “raja-raja kecil”. Belum lagi soal Papua yang tetap menyimpan bara. Di titik ini, wajar kalau banyak orang mulai berpikir: jangan-jangan reformasi ini cuma ganti bungkus, bukan ganti isi.
Nah, di tengah rasa skeptis itu, masuklah Prabowo dengan gaya khasnya. Pemerintahannya terlihat cukup agresif, terutama dalam urusan memberantas korupsi dan mafia. Dari tambang ilegal sampai sektor migas, dari pertanian sampai proyek strategis nasional—semuanya seperti disapu ulang. Pesannya sederhana: kalau fondasinya masih keropos, jangan harap bangunan berdiri tegak. Di sinilah ide “transformasi” mulai terasa masuk akal; bukan sekadar memperbaiki, tapi mengganti cara main.
Ambisi di Level Domestik dan Global
Program-program yang dicanangkan juga tidak main-main. Ada Sekolah Rakyat, penguatan koperasi, dorongan swasembada pangan dan energi, sampai digitalisasi pendidikan. Ambisinya jelas: Indonesia tidak cuma bertahan, tapi naik level.
Di level global juga mulai kelihatan arah mainnya. Indonesia aktif di BRICS, menjajaki masuk OECD, dan tetap bersuara di isu-isu internasional seperti Palestina. Ini mengingatkan pada gagasan lama Soekarno tentang posisi strategis Indonesia di dunia—bukan sekadar penonton, tapi pemain.
Di dalam negeri, pendekatan ekonominya juga terasa “klasik tapi dikemas ulang”. Ada semangat Mohammad Hatta soal koperasi, juga bayangan pemikiran Sumitro Djojohadikusumo tentang pembangunan ekonomi nasional.
Penutup: Pintu Masuk Perubahan
Apakah semua ini otomatis berhasil? Belum tentu. Beberapa kebijakan terasa kontroversial, sebagian lagi mungkin belum matang. Tapi setidaknya, ada upaya untuk keluar dari pola lama yang sudah membuat banyak orang frustrasi.
Jadi, apakah kita benar-benar masuk “Orde Transformasi”? Jawabannya mungkin belum sekarang. Tapi kalau arah ini konsisten, bisa jadi kita memang sedang berdiri di pintu masuknya. Masalahnya tinggal satu: kita berani masuk, atau malah balik lagi ke zona nyaman yang itu-itu saja?
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
'Nggak Habis Pikir Aku!' Prabowo Heran Lihat Orang Pintar Justru Pintar Maling
-
Suara Ojol Didengar Prabowo, Asosiasi Apresiasi Potongan Aplikasi 8 Persen
-
Negara Akan Ambil Alih! Prabowo Terbitkan Keppres Satgas PHK, Pasang Badan Bela Buruh yang Terancam
-
Yakinkan Buruh Bisa Punya Rumah! Prabowo Dobrak Aturan Bank, Beri Napas Cicilan KPR hingga 40 Tahun
-
Prabowo Klaim Indonesia Tahan Krisis Global, Target Swasembada BBM Segera Tercapai
Kolom
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Terkini
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif